19 PENDATANG BARU

9.7K 220 10
                                    

" sayang...i Miss you!" Artha memasuki kamar sambil membuka jaketnya dan yang ia panggil tidak menyauti hanya hening di dalam ruangan tersebut

" Sayang??" Ucap Artha sekali lagi yang terlihat khawatir

" Emm...ukh Artha!! "

Dengan cepat Artha mengejar asal suara tersebut saat membuka pintu Artha terkejut saat melihat istrinya terduduk lemas di atas closed

" Loh knp disini? Kmu sakit iya?apa gimana sayang bilang ke aku!! " Artha memeluk Caca dengan lembut lalu memegang pipinya agar menatap matanya

" Ngga papa Artha, tadi cuman muntah aja " Caca menatap kedua mata Artha tampak ia sangat khawatir

" Tadi ngga makan sarapan yang aku antar ya? " Caca menggeleng kuat dengan membuat wajah cemberut

" Terus?kok bisa muntah? "

" Yaa ngga tau lah Artha klo tau udah ku bilang "

Artha mengendong Caca keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah ranjang, setelah sampai di tepi ranjang Artha mendudukkan Caca pelan di atas ranjang

" Bobo disini dulu " Artha berdiri setelah menurunkan caca

" Mau kemana? " Caca menatap Artha dengan wajah yang berekspresi imut

" Mau ke dapur tadi kmu muntah kan nah pasti perut kmu lapar jadi aku masakin aja ya? " Artha mengelus rambut Caca dengan lembut lalu tampak wajah Caca yang terlihat seperti kesal

" Knp?"

" Ngga lapar Artha!! Udah Disni aja jangan kemana mana!! " Caca menarik tangan Artha agar ia Tetap di atas ranjang

" Kmu jangan ngegoda deh " Artha mencium pipi Caca sekilas lalu menatap kedua matanya

" Dih ke geeran!!" Caca menjitak dahi Artha dengan kuat

" Aduhh jangan kasar sayang, biasanya ngga kasar loh "

" Ya kali kali ngga papa kan " ucap Caca lalu mendorong Artha agar tidak menempel pada dirinya

" Knp sih kok sensian banget?" Artha melihat istrinya yang membelakangi dirinya

" Ngga tau pokoknya jangan kemana mana!! "

Setelah mendengar ucapan tersebut Artha menarik selimut menutupi seluruh tubuh Caca dan berbaring di sampingnya

***

" Kok bisa hari ini dia marah'?" Esson menatap Artha dengan terkejut karena merasa aneh

" Ya ngga tau kek sensian aja hari ini huh..." Artha mengusap wajahnya merasakan lelah karena sendari tadi ia selalu membuat Caca marah marah

" Yaudah biarin aja,eh klo dia sensian berarti lgi dapet dong?" Dimas menatap Artha lalu di tatap balon dengan dingin

" Hmm mungkin!"

" Jiakk kapan dong perut Caca beronjol?" Kino menatap Artha dengan polos

Semua yang ada di ruangan menatap Kino dengan dingin dan lirikan tajam atas ucapannya

" Ya ngga salah sih gua ngomong kan?" Kino melanjutkan memakan Snacknya dengan santai

" Palak lu yang gua beronjolin " Dimas melirik tajam Kino

" Apasih dim "

" Au dah "

" Ihh kakak..."

" Mual gua dengernya Kino " Esson menutup mulutnya sambil melirik ke Dimas dan Kino

***

Setelah beberapa menit di dalam Ruang markas  Artha pun keluar dan memutuskan pulang karena masih merasa kesal atas perbuatan Caca kepada dirinya tapi ia khawatir dengan Caca

" Kemana aja??" Caca berdiri di belakang pintu dengan mengunakan sapu yang ia pegang

" Ke rumah Esson tadi katanya minta temenin bentar " Artha melihat sapu yang di gengam oleh Caca

" Oh minta temenin?"

" Iya "

" Knp pulang?" Caca masih menatap Artha dengan dingin

" Ya karena kangen sama kmu " dengan suara grogi Artha menjawab Caca dengan cepat karena takut sapu yang Caca pegang

" Nih sapu rumah Awas klo ngga bersih " Caca melempar sapu yang ia gengam tadi ke Artha dengan sigap Artha pun mulai melepaskan jaketnya lalu beranjak meyapu ruangan

" Klo ngga bersih siap siap tidur di teras!!" Setelah berbicara Caca berjalan memasuki kamar

" Kok tidur di teras?" Artha menatap Caca yang berjalan ke arah kamar tanpa di jawab

" Harus bersih nih, klo ngga bersih nangis aja lah" Artha melanjutkan meyapu ruangan dengan pelan agar tetap bersih

Setelah beberapa jam meyapu dan mengepel Artha duduk di ruangan dengan lemas usai melakukannya

" Arthaa...!!"

Mendengar teriakan tersebut Artha yang terbaring lemas langsung terduduk sigap

" Kenapa? " Balas Artha dengan lemas

" Kmu mau liat sesuatu engga?" Caca yang bertingkah seolah olah anak kecil yang ingin di kasih permen

" Apa? Aku mau liat " Artha yang masih melihat tangan Caca yang di belakang tubuhnya

" Taraaa.... " Caca menunjukkan sebuah test pack di tanganya di depan wajah Artha

Artha yang melihat tersebut langsung melotot ke arah Caca dengan perasaan senang

" Di dalam sini ada Dede ihhh seneng banget Artha " Caca mengelus perutnya seolah olah ia mengelus sebuah bayi

" Ini beneran kan sayang? Apa kmu bohong? " Artha memeluk Caca dengan erat

" Iya beneran lah masa engga "

" Siapa dulu dong yang buat " Artha dengan sombong mencubit hidung Caca dengan lembut

" Ihh apaan sih ini kan anak aku bukan anak Artha " Caca mundur karena mendengar perkataan Artha

" Kan itu kecebong aku " Artha menatap Caca dengan cemberut

" Iya dia kan tumbuh di sini jadi ini Caca " Caca melenggang pergi memasuki kamar seprti anak kecil yang berlari

" Kok?" Artha yang melihat Caca pergi memasuki kamar dengan binggung

" Kan spe*manya dri aku " Artha yang masih ngeleg dan masih berbicara sendiri

" Artha...!!"

" Ya sayang kenapa?"

" Di kamar lantainya kotor tolong sapu dong Artha " teriak Caca yang berdiri di pintu

" Kok jadi aku sayang?"

" Klo ngga mau jangan ngemis ke aku ya nanti "
Setelah berbicara Caca pun langsung membanting pintu kamar dengan kuat

Artha yang mendengar tersebut langsung berjalan mengambil sapu dengan lemas seprti semangatnya di telan oleh Caca

***

" Bwahahahahah jadi ibu rumah tangga dong " Kino tertawa terbahak bahak setelah mendengar perkataan Artha

" Hahahah kasian bener ni anak " Dimas tertawa sesekali menepuk bau Esson

" Njir ketawa aja anj jangan mukul kek cewe aja " Esson menendang tubuh dimas dengan kuat

" Menyesal gua curhat ke kalian " Artha berjalan keluar ruangan dengan muka dingin

Melihat Artha keluar dengan muka dingin seketika ruangan hening lalu tiba tiba

" Jangan lupa kado buat kecebong yang berhasil memenangkan lomba berenangnya!! " Artha menampakkan kepalanya di sisi pintu dengan berbicara keras

" Kaget anj ku kira cicak!" Esson mengelus dadanya pelan melihat Artha yang langsung pergi

" Bibitnya nanti mungkin kek gitu aja " Dimas menatap Kino dan Esson dengan lirikan laku tertawa terbahak bahak bersama sama











Hallo gays back lagi nih wkwk
Jangan lupa votenya yaw!!
Happy reading buat readers <3

ARTHA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang