53 || Fakta pahit

46.5K 9.9K 9.8K
                                    

Aku minta maaf bgt klo up suka lama karna banyak bgt tugas maklumin yaa.

So yaa, happy reading, jangan lupa komen tiap paragraf sama share ke temen-temen or sosmed kalian yaa🥰

>>><<<

Abbie turun dari motor lelaki itu, Khages mengantarnya pulang ke kosannya. Gadis itu merapikan anak rambutnya dan menyelipkannya ke belakang telinga.

"Makasih ya, padahal aku yang ke apart kamu, tapi kamu harus nganterin aku lagi," ucap Abbie tidak enak, lalu Khages tersenyum lebar, "sampe Arab juga aku anterin, Bie," ucap Khages membalas membuat senyum Abbie mengembang.

"Hati-hati," mendengar itu, Khages menimang sejenak lalu mulai menyalakan mesin motornya, "besok aku jemput ya?"

Sontak Abbie mengubah rautnya, masalahnya di sekolah pasti akan terheran sekali jika melihat keduanya kembali bersama, Abbie hendak menolak namun suara lelaki itu lebih dulu terdengar ditelinganya, "gausah khawatir tentang pendapat orang besok, semua tindakan yang kamu lakuin itu hak kamu," ujar lelaki itu.

Abbie mengangguk akhirnya, dan ia menarik napasnya pelan dan membuangnya perlahan juga, "oke kalo gitu."

"Tidur yang nyenyak ya, kalo nggak bisa tidur, u can call me then," ucap Khages.

"Iyaa, siap, bye!" Abbie langsung meninggalkan Khages yang tersenyum lebar, jujur jantung laki-laki itu sedang berdetak lebih cepat sekarang.

Rasanya untuk bernapas pun sulit, dia tidak menyangka akan kembali semulus ini, selama tidak ada Abbie, dunianya seperti sunyi, hancur, bahkan sulit sekali dikendalikan.

Tiba-tiba telpon masuk membuat Khages langsung mengangkatnya dengan segera.

"Kenapa, Nge?" Tanya Khages pada lawan bicaranya ditelpon.

"Ada lawan bagus nih, keknya lagi stress. Duitnya banyak banget, Bro!"

"Berapa nawarnya?" Khages sedikit tertarik karna kebetulan uangnya juga sudah menipis.

"30 juta angkut, kalah-menang dapet duit." Mendengar info dari Mange membuat Khages mengernyit bingung, kenapa bisa-bisanya ada rezeki seperti ini untuknya, tanpa basa-basi Khages langsung mengiyakan, "OTW," jawabnya.

Mange tersenyum dari seberang sana mendapat balasan dari Khages, "gercep ya, Bang."

Setelah sambungan dimatikan, Khages langsung menancap gas motornya menuju lokasi yang tidak jauh dari kosan Abbie. Masalah keluarganya belum selesai juga, bahkan sampai saat ini Khages masih belum berani meminta uang dari ayahnya.

Khages lumayan bekerja dari hasil tawaran Mange atau Idan, dan bukan pekerjaan tetap. Namun bisalah untuk jajan sehari-hari.

Sesampainya di lokasi, suasana cukup ramai, dan banyak abang-abangannya di sana yang lumayan banyak karna tawaran saat ini lumayan besar, bayangkan 30 juta kalah-menang tetap dapat.

Jelas mereka pasti akan meminta hasil darinya, Khages tidak masalah dengan itu. Setelah melepas helmnya, ia disambut oleh Mange dan Idan, teman akrabnya dalam tarung malam ini.

"Cepet juga lo, ngebut ye?" Tanya Mange seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

"Deket, abis dari rumah cewek gue."

"Ben, gas-in bae, seru nihh bocahnya dari tadi diem bae," ucap Idan.

"Okee." Khages melangkahkan kakinya seraya melepas jaket denim beserta kaos yang membalut tubuhnya, saat masuk ruangan betapa terkejutnya Khages saat mengetahui siapa lawannya.

KHAGESWARA (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang