Sepuluh #Sudah nikah (17+)

19.4K 441 27
                                    

Sepulang itu, pikiran Manda semakin kacau. Pernikahannya dengan Bima akankah berakhir menyenangkan atau menyedihkan? Pertanyaan yang akhir-akhir ini dia sembunyikan dalam benaknya.

Bima si lelaki bejad, tak berguna, dan suka ke sana kemari membuat Manda meragukan akan rumah tangganya. Terlebih jika dia harus mempunyai bayi kecil yang keluar dari rahim perutnya. Tidak, sesekali Manda menyampingkan otak liarnya itu. Baik atau buruknya dia, demi masa depan, tak boleh bercanda.

"Jadi lu mau kerja ngasilin duit atau nerima duit dari gue?" pertanyaan pertama Bima, Manda bisa melihat bola mata itu menyiratkan sesuatu yang cukup.

"Gue kerja apa?"

"Jadi anggota DPR!" telak Bima, dia tak berbasa-basi, langsung membuka pintu rumah kecil itu.

Ya, Bima membeli rumah kecil yang akan dia tinggali dengan Manda. Cukup kotor mereka jika harus tinggal di rumah orang tuanya. Terlebih Ibu Bima yang sudah mengetahui siapa perempuan yang selama ini telah membuat anaknya lebih candu terhadap dunia luar. Namun, mengetahui hal itu, Ibu Bima tak luput dari kata restunya, yang penting anaknya sudah berkeluarga, soal ending, dia tak dapat menentukan.

"Sial, sial!! Harus tinggal di rumah kumuh kek gini!" keluhan Bima tak ada habisnya. Sembari menata sofa yang dia dorong dari pojok dinding dengan sangat amat lemas.

"Ngeluh mulu lu! Masih mending lu dikasih uang buat beli ini rumah, kalau enggak mau tinggal di mana kita?"

"Kuburan noh, masih banyak yang kosong, tinggal gali aja ribet!"

"Itu mah rumah masa depan! Jadi ngeri!" Manda bergidik membayangkan betapa sunyinya kuburan yang terbuka lebar untuk semua orang.

Bima terkekeh, "Makanya sekarang lu mau tobat kagak? Mumpung masih dikasih umur. Kalau nggak bisa masuk surga, itung-itung buat nerangin kuburan, biar nanti malaikat nanya, lu bisa fokus jawabnya."

Perempuan itu mengangguk sekilas, dia turut duduk di samping Bima yang memposisikan tubuhnya setengah berbaring.

"Harus mulai dari mana dulu?" tanya Manda, kedua pasang mata itu saling bertautan.

Bima menghela nafas, "Niat. Kalau lu niat, pasti semuanya jadi gampang."

"Emm... Kan kita udah nikah nih, jadi kalau mau apa-apa itu kan gak dosa?"

"Iyaa, tapi dosa yang lalu nggak mau diperbaiki?"

"Kan lu yang jadi suami."

"Gue yang harus tobat duluan gitu?"

"Iya lah, kalau lu nggak tobat duluan, mana bisa lu ngajarin gue tobat yang bener!"

Bima melipat tangannya depan dada, tampak serius. Tobat, satu kata yang selalu dia inginkan sedari dulu. Entah kenapa begitu berat baginya. Apakah Bima tak ada niat selama ini? Itu yang jadi alasan mengapa dia tak dapat konsisten menjalani ini semua.

×××ו××××

Chat...

Mama🐷

| Bimaaaaa

Apa ma?|

| Gimana kamu di sana?

Good|

| Kamu udah jadi kepala rumah tangga
| Ubah perilaku buruk mu yang dulu

🙉🙈|
Aku mau tobat kok🐒|

| Bagus...
| Kan gitu anak mama

He | Bima (Read Desk First)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang