34. ISI?

80.1K 6.9K 643
                                    

Mo curhat, Draft cerita Alya sama Yudha kan udah ada. Tapi gw tuh masih ragu. Ragu bgt untuk publish. Karena, setelah gue baca ulang², gue yakin bgt, tuh cerita masih gaje. Makanya gue blm berani buat publish😭

Ada typo? Tandain

Yok lanjuttt....

...

Sekolah telah tiba. Usaha Erlan untuk membawa Nayla kerumahnya tak berhasil sama sekali. Cewek itu terlalu pintar menyembunyikan diri dari Erlangga. Tentunya Erlan senang karena sekolah telah tiba dan dipastikan Erlangga akan bertemu Nayla.

Selama mereka memakai mode silent, Nayla dan Erlangga sangat pintar menyembunyikan masalah dari orang tua mereka. Erlan selalu mengatakan jika hubungan mereka baik-baik saja. Ya! Meskipun Erlangga sudah tak bisa menghubungi Nayla sama sekali semenjak kejadian hari itu. Tentunya hal tersebut membuat Sella dan Dafa curiga ketika menelpon Erlangga. Suara Nayla tak pernah terdengar.

"Gak berangkat bareng Erlan?" tanya Ziva.

Nayla menggeleng. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya lalu mengecek sesuatu yang selama ini ia pantau. Terakhir dilihat pada roomchat milik Erlangga. Pria itu sudah tak pernah online diaplikasi berlogo telpon genggam itu.

"Cie hape baru," ucap Rima memperhatikan ponsel yang dipegang Nayla.

Cewek itu tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya. "Pantesan aja ganti nomor," ucap Ziva mendapat anggukan Rima.

Ya! Setelah kejadian lempar hape sampai hancur. Paginya Nayla langsung membeli ponsel baru. Benda pipih satu ini memang sangat dipentingkan. Nayla juga langsung mengganti nomor teleponnya. Tentunya ia membeli handphone memakai uang yang biasanya orangtuanya dan Erlangga transfer untuknya.

"Gimana liburan kalian, pasti jalan-jalan trus ya?" tebak Rima.

Nayla menggeleng sedangkan Ziva mengangguk.

"Lah! Gak pernah diajak jalan-jalan sama Erlangga?"

"Guenya aja yang males jalan," sahut Nayla lalu terkekeh berusaha menutupi masalah dalam rumah tangganya.

Erlangga dan kedua temannya memasuki kelas Nayla. Sontak hal itu membuat Nayla membulatkan mata melihat bagaimana keadaan pria itu. Seperti, hidup segan mati tak mau. Hanya kesuraman yang ia lihat dari wajah Erlangga.

"Kalian gak ada apa-apa 'kan?" tanya Ziva heran karena melihat Nayla yang mendelik atas kedatangan Erlangga dan melihat keadaan Erlan yang seperti tak terurus. Biasanya kalo ada Nayla Erlangga selalu terlihat rapi.

"Gak ada," sahut Nayla berusaha tenang.

Alan dan Devian mendekat tak lupa menyeret tangan Erlangga karena pria itu malas bergerak. "Kantin yuk!" ajak Alan.

Kedua cewek itu mengangguk terkecuali Nayla. "Ayo Nay, El ajakin Nayla dong." Ziva memaksa.

"Nay, ikut gue bentar aja," ucap Erlan, suaranya terdengar memohon.

"Weh! Kita ngajak ke kantin!" Alan berkacak pinggang.

Nayla menghembuskan napas kasar. "Kalian duluan aja. Nanti gue sama Erlangga nyusul." Erlan salut melihat Nayla yang pandai menutupi keadaannya saat ini. Beda dengan dirinya yang hidup segan mati tak mau.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang