33. SALAH PAHAM

99K 6.8K 758
                                    

33. Salah paham

Ada typo? Tandain aja.

Lanjut....

...

Style kaus putih polos dan celana training menunjukkan bahwa Nayla siap untuk jalan pagi ini. Yang dimaksud jalan itu lari pagi ya. Intinya, Nayla ingin menikmati pagi ini dengan berjalan kaki. Erlanpun terlihat seperti itu. Kaus putih polos dan celana pendek selutut.

"Rambutnya nggak boleh diginiin kalo mau keluar." Erlangga langsung merebut sisir dari tangan Nayla. Merusak cepolan asal cewek itu dan kembali merapihkan rambut Nayla.

Cewek itu nampak kecewa. Tentunya Erlan tak ingin kan leher putih yang terdapat sedikit tanda merah tanpa sepengetahuan Nayla dilihat orang lain. Sangat tidak estetik. Sesuatu yang diperbuat Erlangga membuat Nayla kali ini kagum. Pria itu menguncir rambutnya dengan style kepang satu. Jarang 'kan bisa melihat tangan pria yang lihai tentang hal seperti ini.

Erlangga mengelus pelan kepala Nayla sambil merapihkannya lalu menatap cermin dimana ada pantulan mereka berdua.

"Nah, kalo gini gapapa. Cantiknya nambah seratus persen," ucap Erlan sambil terkekeh karena wajah Nayla nampak memerah dan melihat Nayla yang semakin mengembungkan pipi.

"Kok lo bisa nguncir rambut kek gini?" tanya Nayla.

"Gue ada adik cewek. Kalo mama sibuk, gue yang harus ngurusin Alya." Nayla hanya ber-oh ria.

Sekesal apapun kakak terhadap adiknya. Pasti tetap perhatian.

"Ayo joging sekalian beli sayur. Lo mau makan apa hari ini?"

"Apa aja, selagi Nayla yang masak gue makan," sahut Erlangga langsung mengangkat Nayla. Menggendong cewek itu ala bridal style dan membawa Nayla selama perjalanan menuju depan rumah.

Nayla mendelik kala mendapati kulit kuaci yang berserakan di halaman depan rumah. Jika dilihat-lihat lagi, sekumpulan sampah kulit kuaci dan bungkus makanan lainnya tepat dibawah kamar yang ia tempati dan Erlan. Ya meskipun kamar mereka berdua diatas namun masih searah dengan sampah berserakan tersebut.

Cewek itu mendekat lalu berkacak pinggang. "By, perasaan kemarin sore gue udah sapu-sapu deh," ucap Nayla datar sedikit mencurigai suaminya sendiri.

Erlangga terheran. Kenapa nada bicara Nayla seperti mengintimidasinya. "Trus nuduh gue yang buang sembarangan?" Nayla mengangguk.

Seketika itu juga Erlangga langsung menarik gemas pipi chubby Nayla. "Lo kan udah tau gue gak suka makan kuaci. Ribet!"

Iya sih! Nayla langsung mengangguk mengingat hal itu. Namun sampah tersebut milik siapa? Padahal kemarin sore halaman depan rumah sudah bersih. Jika itu sampah daun, wajar saja karena dihalaman rumah banyak pepohonan. Lah ini sampah kulit kuaci.

Erlangga mengedikkan bahu lalu menarik pelan tangan Nayla. Mengajak cewek itu keluar dari pekarangan rumah dan mulai mengelilingi komplek dengan berjalan pagi. Langit masih nampak remang-remang. Tidak begitu gelap dan tidak begitu terang. Cuacanya juga sangat dikatakan dingin. Mungkin Nayla akan membeli sayur setelah lari pagi.

...

Siangnya, Nayla dan Erlangga nampak asik menonton televisi. Namun suara pintu yang diketuk membuat Nayla kesal karena waktu santainya terganggu. Erlan bangkit menuju pintu utama lalu membuka benda pipih persegi panjang itu.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang