29. CHEK-IN HOTEL

107K 7.3K 588
                                    

Karena Author masih gaada kuota. Ini update dapet wifian yeh sama temen😭

Mo ghosting dulu bentar

...

Hari semakin larut bahkan Nayla sudah tersadar sejak tadi dan teman mereka sudah kembali kerumahnya masing-masing. Ia juga menceritakan bagaimana dirinya bisa tercebur di kolam tanpa harus mengurangkan dan melebihkan cerita. Erlan yang mendengar itu sangat geram. Bagaimana kalau Devian tak teliti? Dipastikan Nayla merengang nyawa di kolam renang.

"Itu dulu lo sebut-sebut Nora baik!"

Nayla hanya memejamkan mata menikmati omelan Erlan sejak tadi. Berasa diomeli mak-mak.

Telepon Nayla berdering, Erlan dapat melihat nama Ziva terpampang jelas disana. Dengan cepat Erlan menyambungkan panggilan tersebut. Tak lupa menspeakernya terlebih dahulu. Namun teriakan seseorang disebrang sana sungguh membuat telinganya mendadak tuli.

"WOIII!"

Nayla terkikik pelan melihat Erlan yang kesal dengan sahabatnya itu. Bagi Nayla, Erlan dan Ziva sama-sama suka teriak bukan? Namun Erlangga sudah jarang berteriak semenjak si pedo dan adiknya tak ada dirumah lagi.

"Hei, bisa santai gak sih," sahut Nayla.

Ia dapat mendengar Aziva terkekeh disebrang sana. "Devian ceritain ke gue. Katanya lo dicelakain Si mak lampir ya? Tuh orang bener-bener anj deh. Liat besok aja, gue beri pelajaran tuh orang!"

Kini malah Nayla yang terkekeh mendengar omelan Ziva. Ya sahabat yang sangat perhatian itu. "Gue gakpapa kok," kata Nayla.

Erlan menatap datar kearah Nayla. "Gak apa-apa? Ini muka lo aja udah pucet by."

"Tau ih Nayla. Orang kek bagong gitu gak usah di bela-bela anjrit. Makin gede aja tuh kepala. Yang terpenting sekarang lo harus istirahat. Gue gak mau ya kalau sahabat gue kenapa-kenapa."

"Iya-iya bawel banget sih Aziva ini ya." Ziva terkikik mendengar ucapan Nayla seperti itu.

Erlangga mengambil kembali alih telepon Nayla. "Yaudah Ziv, gue matiin ya? Nayla perlu istirahat."

"Sip!" Begitulah kata-kata terakhir dari panggilan tersebut.

Tangan Erlangga terulur menyentuh kening Nayla merasakan suhu tubuh cewek itu kian memanas. Padahal Erlangga sempat mengompresnya tadi. Pria itu teringat sesuatu, ia bangkit namun tangannya lebih dulu dicekal oleh Nayla.

"Mau kemana? Temenin."

"Iya bentar. Mau ke kamar Alya. Bentar aja." Nayla mengangguk. Menunggu Erlan yang sudah meninggalkan kamar.

Pria itu kembali membawa hansaplast kompres demam milik Alya yang masih tertinggal. Mendekat kearah Nayla lalu menempelkan hansaplast tersebut di kening Nayla. Lihat! Cewek itu sudah seperti bocil terlihat dari wajahnya yang menggemaskan. Kalau begini ceritanya, Erlangga semakin gemas melihat wajah Nayla.

"Tidur ya? Udah malem," suruh Erlan mendapat anggukan dari Nayla.

Tak lupa meredupkan penerangan lampu kamar, Erlangga mulai menaikkan selimut tebal hingga menutupi tubuh mereka berdua.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang