28. KEDATANGAN NORA

98.4K 7.6K 1.2K
                                    

28. Kedatangan Nora

Yok diingatkan kembali. Ini cerita diatas umur ya. Yang masih bocil jgn ikut baca😭

...

Alan, Devian dan Kenzo kini tengah asik bermain dirumah Erlangga sedari pulang Sekolah. Sama sekali tak membawa kekasihnya karena mereka sudah tau kalau mengajak siap gagal bermain game. Anggap saja mabar dirumah Erlangga.

"Bini lo mana?" tanya Alan yang masih asik main game.

"Katanya belanja sebentar di Toko depan," jawab Erlan yang tak kalah gesit juga saat bermain game.

Kenzo bersorak senang saat tim mereka berhasil mengalahkan tim lawan. Dirinya sangat merasa senang bisa bermain bersama Erlan dan teman. Mereka sempat tertawa dan bersorak atas menangnya itu.

"Lo jago juga ternyata." Alan menyenggol lengan Kenzo pria itu hanya tersenyum menanggapi.

Namun kedatangan seseorang yang tak diharapkan membuat ketiga pria itu mendengus beda halnya dengan Kenzo yang masih tak paham mengapa mereka bersikap seperti itu kepada Nora. Ya! Gadis yang tiba-tiba memasuki rumah Erlan tak lupa berteriak itu adalah Nora.

"Ngapain lo?" tanya Alan.

"Mau cari Erlangga dong. Btw, bokap nyokap lo kerja di luar negri ya?" Nora mulai mendekati Erlan namun pria itu terus menghindar.

Nayla datang dengan senang tak lupa tangannya yang membawa sekantong pelastik berisikan makanan ringan untuk teman Erlan dan stok untuknya saat gabut nanti. Tatapan cewek itu terheran saat mendapati gadis yang berusaha mendekati suaminya.

"Nora?" Gadis itu menatap Nayla yang masih berdiri.

Nora tersenyum manis. "Eh ada Nayla juga? Ngapain?"

Bahkan Devian ingin tertawa dengan pertanyaan itu. Ngapain? Woy! Itu bininya! Sedangkan Alan yang tak bisa menahannya sudah tertawa tak lupa memukuli Kenzo yang berada disebelahnya. Pria itu hanya terdiam ketika tangan usil Alan menjadikan tubuhnya sebagai samsek petinju. Tak apa.

"Ehm, bawain makanan," jawab Nayla seadanya karena yang ia katakan tidak mengandung unsur kebohongan kan?

Nayla pun meletakkan beberapa cemilan disana. Mereka mulai memakannya. Nora pun ikut memakan juga. Erlan lega sedikit karena istrinya sudah datang ketika mak lampir ini mulai berulah. Nayla meninggalkan mereka lebih dulu. Cewek itu menuju dapur rumah. Nora terheran menatap Erlan.

"Erlan itu Naylanya kok dikasi asal masuk gitu. Gak sopan tau."

Alan melempar makanan kearah Nora tentu gadis itu kesal. "Lo yang gak sopan Ra, masuk asal nyelonong teriak-teriak kek di hutan. Antara lo dan Nayla, ya Lebih deketan Nayla sama Erlangga dong. Lo itu orang baru yang datang dikehidupan Erlan."

Kenzo menatap heran kearah Alan. "Tumben bijak." Begitu katanya.

Nayla kembali dengan membawa jus jeruk, cewek itu tersenyum hangat lalu mulai meletakkan satu persatu untuk mereka. Nayla menatap ramah kearah Nora. "Ra, bisa ikut gue, bentar."

Nora mengangguk. Nayla pun membawa Nora ke halaman belakang dimana ada kolam renang disana.

Menarik napas dalam-dalam, Nayla mempersiapkan diri untuk mengeluarkan beberapa komentar. Ia sangat cemburu jika Nora secara terus menerus mendekati Erlan. Meskipun sudah diberi pelanggaran.

"Kalo gue minta lo buat jauhin Erlan, setuju gak?"

Woy! Itu bukan Nayla yang berbicara melainkan Nora yang nyolot terlebih dahulu. Nayla sendiri tersentak bahkan menatap cengo kearah Nora. Rasanya dunia sudah terbalik ketika Nora meminta hal seperti itu. Padahal disini dirinya yang berhak atas Erlangga.

"Gue gak bisa Ra. Gue sama Erlangga udah bersama dari kecil."

Nora mengangguk. "Tapi gue masih boleh kan perjuangin Erlangga?"

Pertanyaan macam apa itu. Nayla ingat bahwa Erlangga sempat mengatakan kalau pria itu sudah menjelaskan status mereka yang sudah menikah. Nyatanya Nora masih tak percaya sama sekali.

"Bukannya gimana ya Ra. Gue egois. Gue gak mau berbagi Erlangga. Gue cinta sama Erlangg-"

"Gue juga cinta sama Erlangga Nay!" sentak Nora.

Nayla menatap cengo kearah Nora. "Jangan ngejatuhin harga diri sendiri demi cowok. Suatu hari pasti ada cowok yang ngejadiin lo ratu tanpa lo kejer-kejer kek gini," nasihat Nayla.

Nora tersenyum sinis ia terkekeh pelan. Dirinya sudah berlindung di topeng manja namun Nora itu orangnya keras kepala. Apa yang ia ingin harus didapatkan. Tak memikir resiko apa yang akan terjadi setelahnya. Itu lah Nora.

"Lo egois ya Nay. Masa gitu aja gak mau berbagi." Setelah mengatakan itu Nayla tersentak kala tubuhnya terdorong kuat kearah kolam renang.

Nayla tak siap sama sekali membuat dirinya kesusahan untuk mengimbangi tubuh. Ia gelagapan mencari pinggiran kolam, Nora yang melihat itu tersenyum remeh lalu mengambil selang air yang ada disana. Ia sengaja menyemprotkan air kearah Nayla membuat cewek itu semakin menjuru kearah tengah kolam untuk menghindar.

Ya! Nayla benar-benar tak bisa mengimbangi dirinya. Ia tak sempat melakukan pemanasan sedikitpun. Ingin berteriak pun salah karena kolam yang termasuk dalam ini semakin menarik tubuhnya agar kebawah. Nora mengedikkan bahu meninggalkan Nayla begitu saja.

Keempat pria itu menatap heran kearah Nora yang berjalan sendirian dari belakang. Jalannya juga santai seperti tak merasa bersalah sama sekali.

"Erlan gue pamit ya? Lain kali gue kesini lagi kok."

"Nayla mana?" Malah itu yang keluar dari mulut Erlangga.

"Lagi nyiramin tanaman," sahut Nora yang lebih tepatnya berbohong. Erlan hanya mengangguk dan membiarkan gadis tengil itu keluar dari rumahnya.

Sebelumnya, keempat pria itu sudah tau tujuan Nayla membawa Nora kebelakang. Ya! Untuk memberinya penjelasan. Dari tatapan Devian sudah berbeda saat melihat Nora yang keluar dari rumah Erlan berlagak sok tenang.

"Percaya sama Nora?" Devian membuka suara membuat tatapan ketiga pria lainnya terheran.

"Dia orangnya nekat."

Devian bangkit disusul ketiga pria lainnya. Mereka menuju halaman belakang rumah dengan cepat.

Pandangan yang pertama kali mereka lihat adalah Nayla yang meminta tolong di tengah kolam sana. Tak menunggu lama, Erlangga berlari secepat mungkin untuk menyeburkan dirinya. Mencari keberadaan istrinya itu lalu mulai menggendong Nayla. Kedua mata cewek itu memerah dengan sedikit tangis yang mengirinya. Erlan panik melihat itu.

"Sesek El," lirih Nayla. Suaranya sangat kecil terdengar dikondisinya yang seperti ini. Erlangga mengangguk mengerti atas keadaan Nayla. Erlan mendekat kearah pinggiran kolam. Namun sebelum itu tubuh Nayla semakin melemas.

Kedua mata indah itu terpejam. Nayla tak sadarkan diri.

...

Ini aku sengaja nyicil-nyicil ngetiknya biar stay update. Tapi kalo soal yang ples ples gak mungkin nyicil kan yeee☺

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang