24. WHO?

95.2K 6.3K 228
                                    

24. Who?

Alan tak melunturkan senyumnya sejak tadi. Saat ini pria itu tengah mendatangi kelas Rima, disana juga terdapat Erlan bersama Nayla dan Devian bersama Ziva. Lengkap, tidak ada yang jomblo lagi antara mereka.

"Gimana? Gak ada pajak jadian nih?" tanya Ziva menyenggol lengan Rima.

Cewek itu terlihat malu-malu karna dipandang Alan secara terus-terusan. "Main ke rumah gue aja, gimana?"

Semuanya mengangguk setuju.

"Lumayan lama sih kita gak ketemu sama Alin."

...

Sepulang Sekolah mereka benar-benar mendatangi rumah Alan. Rumah bernuansa lylac nampak asri tak lupa dengan taman yang menghijau dihalaman depan rumah. Putri menyambut kedatangan Alan beserta temannya secara baik.

"Kalian pasti belum makan siang kan? Yaudah, biar tante masakin. Mau makan apa?" tanya Putri diselingi senyum yang nampak cantik diwajahnya.

"Sebelumnya kita mau kasi kabar nih tan," ucap Erlan menginformasi.

Putri terlihat heran dengan ucapan anak dari temannya itu. "Kabar apa? Sedih? Senang? Atau Alan nakal di Sekolahnya?" Putri mulai menerka-nerka.

"Ih mami kenapa? Ya kali Alan nakal," sungut Alan tak terima.

Wanita dewasa itu hanya tersenyum menanggapi anaknya. Sesekali tangannya terulur mengelus rambut Alan. Layaknya pria itu masih bocil yg nyatanya Alan sudah remaja.

"Tante tau gak? Anak tante baru jadian lohhh!" Erlan heboh sendiri mendapat geplakan dari Nayla sedangkan maminya Alan sudah menatap cengo kearah anaknya.

"Ohh gitu ya ... gak ngasih tau mami. Lain kali uang jajan kamu mami kurangin. Apa salahnya sih ngenalin ke mami, kan mami gak galak-galak amat," ucap Putri sambil menarik telinga anaknya sendiri.

Mereka yang disana sudah tertawa melihat kelakuan anak dan ibu itu. "Awsh! Mi udah, ini Alan mau ngenalin. Orang jadiannya baru kemarin. Ahh Alan gak mau uang jajannya di kurangin. Nanti Alan ngelapor ke papi loh." Pria itu mengancam balik Putri.

"Yasudah kenalin cepet."

Pria itu langsung menarik tangan Rima yang kebetulan keberadaannya tepat disebelah Alan. Wajah putri cengo sambil menatap gadis yang berada disebelah anaknya. Gembul! Ah iya menggemaskan.

"Ah mami gak salah liat. Kek nya kamu kena pelet Alan ya? Masa iya kamu mau sama Alan yang jelek kek gitu." Putri mulai mendekati Rima sesekali mencolek pipi gadis itu yang chubby. 

Alan tidaklah jelek melainkan maminya yang terlalu julid. Lihat! Wanita itu malah asik menoel-noel pipi Rima bahkan sudah menjadi pusat perhatian teman Alan lainnya.

"Tante, Erlan laper."

Nayla langsung mencubit pinggang Erlangga.  Tidak tau malu? Argh! Nayla sendiri yang malu melihatnya. Sudah seperti tak pernah diberi makan. Putri mengangguk sebelum ia pergi, tangan wanita itu terlebih dahulu mengelus kepala Rima, "awasin Alan ya? Dia itu nakal, kalo kamu mau marahin, marahin aja. Tante setuju kamu sama Alan." Ya seperti itu Putri mengatakannya.

"Ada apa nih ribut-ribut!"

Kini, tatapan mereka teralih kearah tangga dimana kembaran dari Alan sendiri sedang mengomel-ngomel tak jelas dengan keadaan yang tak enak di pandang. Ya! Baru bangun tidur apalagi masih memakai seragam sekolah.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang