Malam itu Ellena mempersiapkan semuanya dengan baik. Ada kentang tumbuk, tumis-tumisan beraroma sedap walau Ia tak tahu apa namanya, beer, lilin diatas meja kecil mereka, semua sempurna sekarang. Edward belum kunjung bangun dari tidurnya, ini sudah hampir pukul 7 malam. Ellena tak tega jika harus membangunkan kekasihnya itu. Melihat kondisi Edward yang baru saja keluar dari rumah sakit.

Oh Ya Tuhan! Bagaimana Edward tak membawa obat apapun dalam tasnya?!

Kemudian Ia berjalan ke ruang tamu sembari menutup jendala depan. Angin malam di daerah ini cukup dingin mengingat musim panas hampir berakhir. Matanya memeriksa sekeliling, lampu-lampu rumah lainnya tampak redup--sama seperti rumah yang ditinggali. Mungkin sudah sejak lama daerah ini sudah tak diminati lagi. Hanya ada beberapa rumah dengan pencahayaan sangat terang disini, rumah bernomor 2 dengan cat berwarna merah hati kemudian rumah dengan pagar mengelilingi pelatarannya serta rumah dengan gaya modern diujung jalan.

Ada rasa ingin berkunjung dan melihat apa yang sedang mereka lakukan disana. Mengapa berbeda tak seperti yang lainnya. Kakinya seolah ingin melangkah keluar sebelum Edward memanggil namanya.

"Sedang apa kau di luar? Masuk Ellena." Wajahnya masih mengantuk dengan rambut acak-acakkan. Ada bekas garis diwajah, tepatnya didekat mata. Namun tetap tampan. "Kau tahu aku tak terlalu suka memberi perintah dua kali, bukan?"

Ellena mengangguk mengerti.

"Rumah disana terang." Edward menaikkan satu alisnya tak paham. "Maksudku berbeda dengan sekitaran. Mereka jauh lebih terang."

"Entahlah El. Aku tak pernah berkunjung kemari sejak lama. Terakhir kali aku dengar daerah ini tak terlalu aman dihuni sehingga sedikit sekali peminatnya. Beberapa diantara mereka memilih untuk menetap disini sedangkan yang lainnya pindah. Termasuk keluargaku yang memilih untuk tak menggunakan rumah ini lagi."

"Maksudmu rumah itu rumah penjahat?" Tanya Ellena polos.

Edward terkekeh pelan dan membawa tubuh gadisnya itu mendekat pada tubuhnya. Menakupnya dipipi sembari memandangi mata.

"Ada apa Edward?"

"Kau begitu polos bak gadis dua tahun yang tak tahu apa-apa. Ellena, sayangku, aku tidak tahu, tapi mungkin saja kan?"

Gadis itu tersipu. "Baiklah Tuan Styles yang pandai membuat tersipu." Ellena lalu mencium singkat bibir Ed.

"Kupikir kau tak suka menciumku? Ternyata tidak juga. Benarkan?" Ya Tuhan mengapa dia begitu blak-blakan? "Cium aku lagi?" Tawar Edward yang membuat Ellena geli. Dengan segera Ia mencium lembut bibir kekasihnya itu.

"Kau tahu, ciuman darimu membuat rasa sakitku berkurang. Terima kasih." Ellena kembali memerah pada pipinya. "Kau harus lebih sering menciumku, El"

Dia dan kekasihnya yang sedang dimabuk asmara itu lalu menuju ke ruang makan yang sudah ditata cantik oleh Ellena. Edward menyunggingkan senyum terkesima melihat hasil kerja gadisnya. Rasanya seperti membiarkan sesorang bekerja keras sedangkan kau diam saja seperti orangbtak berguna.

"Ku harap kau menyukai masakanku." Harapnya sembari menekuk jari-jarinya pada dagu. Edward hanya tersenyum dan duduk diseberang Ellena. "Lihat, ini masakan yang aku buat sendiri. Aku tak begitu yakin apa namanya, namun karena didalamnya ada jamur serta daging dan brokoli aku akan menamainya tumis jamur daging brokoli. Sedangkan yang ini fish and chip, ketika di Inggris aku sering membuatnya."

"Baik-baik, Nona Ellena yang manis dan pandai memasak. Biarkan pria kelaparan ini menghabiskan makanannya, oke?"

Ellena terkekeh.

"Kalau begitu silahkan makan Tuan Kelaparan." Ellena menyodorkan piring pada Edward. Membiarkan laki-laki menawan itu mengambil sendiri makanannya.

Makan malam terasa sangat menyenangkan seperti biasa. Walau harus diakui bahwa Ellena tak menyukai makan malam seperti ini, Ia tipe gadis yang menyukai makan malam romantis dibawah sinar bulan dan bintang serta alunan musik merdu. Tapi tidak untuk kali ini, dia menyukainya.

"Kalau saja kita punya anggur pasti akan jauh lebih baik." Edward menuangkan beer pada gelas tinggi disebelah Ellena.

"Tidak. Tidak. Ini sudah sangat luar biasa. Terima kasih."

Edward menaikkan satu alisnya. Bingung.

"Luar biasa? Aku tahu bagaimana seleramu. Maksudku tanpa musik dan anggur bukan seleramu, sayang. Kau seharusnya memang berada di istana yang megah dikelilingi banyak orang yang peduli terhadapmu, dimanjakan serta dijaga. Namun kau memilihku."

Gadis itu tersenyum.

Edward benar-benar serius tentang perkataannya barusan. Ellena ini Tuan Putri, dengan banyak pelayan dan pangeran yang setia menunggu perintahnya. Namun Tuan Putri salah jatuh cinta pada seorang pembuat onar yang akan terus memerintahnya.

Dia sungguh mengagumi semua yang Ellena miliki. Dalam maupun luar. Sikapnya yang lembut dan perhatian. Namun sungguh, berlian tetaplah berlian yang akan selalu dikejar oleh banyak orang. Bagaimana Ia bisa terus berada pada si Pembuat Onar?

Tak pantas. Itulah yang Edward rasakan.
...

"Sayang, Ibu sangat merindukanmu. Bagaimana liburanmu sejauh ini? Menyenangkan?"

Blue membayang kembali pada perkataan Ansel ditelpon tadi. Anne punya kembaran? Bagaimana wanita itu tak memberitahunya? Apakah ini sesuatu yang sangat pribadi hingga Ia tak diberi tahu?

"Sayang..."

"Oh Ya Tuhan, Ibu. Aku merindukanmu, Amerika, dan teman-teman. Aku harap musim gugur cepat datangnua tahun ini."

"Blue jangan berharap yang tidak-tidak. Oh ya, ceritakan pada Ibu bagaimana pria Australia itu."

Ansel?

"Kalau maksud Ibu Ansel, dia baik. Tampan dan sangat tinggi, dia juga seksi. Kupikir teman-temanku akan berebutan jika sekarang dia tinggal di Amerika." Celetuknya sembari tertawa. "Dia manis dan sering membantuku namun dia agak menjengkelkan juga tapi tak masalah. Aku senang ada dia disini, rasanya liburanku jauh lebih baik."

"Senang saat mengetahui kau baik-baik saja disana. Nikmati malammu, sayang. Ibu mencintaimu."

"Dah."

Kemudian suaranya menghilang.

Blue's POV

Menarik nafas panjang, aku kembali terbayang dengan kata-kata Ansel tadi pagi. Saudara kembar Anne. Seperti apa wajahnya? Apakah mirip dengan Harry, Marcel, serta Edward--maksudku wajahnya sama persis dengan Anne. Bisakah aku bertemu dengan wanita itu sekarang?

Aku bangkit dari tempat tidurku yang hangat mengambil ikat rambutku dan menggunakannya pada rambut yang berantakan dan kusut ini--Seharusnya aku lebih peduli dengan rambutku ini.

Lorong dekat kamar sangat sepi dengan cahaya redup bulan yang menembus jendela kecil ditengah lorong. Terlihat bintang-bintang dari sini.

Ansel sedang pergi menemui teman-temannya, Ia berharap aku bisa ikut bersamanya namun aku menolak. Harry sedang sakit dan tak mungkin aku meninggalkannya.

Tunggu! Harry. Dia pasti tahu tentang kembaran Anne.

Berjalan pelan agar tidak menimbulkan banyak suara, aku sampai didepan pintu kamar Harry. Tadi pagi aku melihatnya diam-diam pergi ke dapur untuk mengambil sarapan tepat setelah aku dan Ansel selesai. Aku harap sekarang Ia jauh lebih baik.

"Harry?"

Tanyaku pelan sembari membuka pintu kamarnya yang ternyata tak dikunci.

"Ada apa?" Wajahnya terang pucat disinari cahaya redup. Rambutnya yang panjang disir kebelakang dengan kaus putih yang Ia kenakan. Bibirnya menekan.

"Aku ingin bertanya sesuatu." Harry mengangguk setuju. "Apa Annw punya saudara kembar?"

Hey gue udah terbebas dari US. Thank you to all of you who wish the best for me thank you. Vomment oke :*

The Triplets // harry stylesBaca cerita ini secara GRATIS!