BAB 30 : Bukan Siapa-Siapa

34.2K 4.4K 105
                                    

Maap yak lamaaaaa~ Otak lagi stuck ㅠ.ㅠ

"Gila! Pak Arsen kapan jeleknya sih?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gila! Pak Arsen kapan jeleknya sih?"

"Kata jelek gak ada di kamus hidup Arsenio Rahagi Aldrich"

"Susah emang kalau satu keluarga bibit unggul semua"

"Eh, tapi cewek yang di sebelah Pak Arsen siapa yah?"

"Pacarnya kali"

"Masa sih? Setau gw, Pak Arsen masih single. Kalau pacaran masa gak digandeng tangannya"

"Pacaran gak harus selalu gandengan kali. Tapi mbaknya cantik, cocok sama Pak Arsen yang ganteng"

"Ah, masih cantik Bu Nadia menurut gw"

"Cantikan juga gw"

"Yeeeuuu... Jauhhhh"

Nayara sudah tidak tahan dengan bisikan-bisikan yang didengarnya sejak memasuki venue bersama Arsen. Awalnya Nayara biasa aja karna yang mereka bicarakan hanya Arsen dan ketampanannya malam ini, tapi lama-lama mereka mengubah objek obrolan mereka menjadi dirinya dan itu membuat Nayara tidak tahan lagi. Apalagi isi percakapan mereka adalah membanding-bandingkan dirinya dengan Nadia.

Nayara hendak memisahkan diri dari Arsen. Baru saja dia akan pamit pada Arsen, laki-laki itu sudah lebih dulu memotongnya.

"Itu Mama-Papa saya di sana. Kita ke sana dulu" kata Arsen seraya meraih tangan Nayara, menggenggamnya, lalu membawa Nayara menuju tempat Lily dan Tristan berada.

Sebenarnya Nayara bisa saja menolak ajakan Arsen untuk menghampiri orang tua laki-laki itu, jika saja Lily dan Tristan belum melihat kedatangan mereka. Sayangnya Lily dan Tristan sudah melihat kedatangan mereka. Alhasil membuat Nayara tidak bisa menolak dan mau tidak mau mengikuti laki-laki itu.

Nayara bukannya tidak mau menyapa Lily dan Tristan, dia hanya tidak mau menyapa Lily dan Tristan bersama Arsen. Arsen yang menjemputnya saja pasti sudah membuat Lily dan Tristan berpikiran yang tidak-tidak dengan hubungan mereka. Nayara tidak mau membuat Lily dan Tristan semakin berpikiran yang tidak-tidak.

Sesampainya Nayara dan Arsen di depannya, Lily segera menyambut Nayara.

"Nayy!" seru Lily, lalu memeluk Nayara singkat dan dilanjutkan dengan cipika-cipiki.

"Malam, Tante-Om" sapa Nayara.

"Malam, Nay" balas Tristan.

"Kamu cantik banget malam ini, Nay" Lily memuji penampilan Nayara malam ini.

"Hari ini aja aku cantiknya, Tan? Kemarin-kemarin gak?" tanya Nayara berusaha menjahili Lily dengan pertanyaannya. Namun balasan dari Lily membuat Nayara menyesal telah bertanya jahil seperti itu.

"Hmm... Gimana, Ar, kemarin-kemarin Nayara cantik gak?" Lily melempar pertanyaan Nayara ke anaknya. Tristan yang melihat kelakuan jahil istrinya hanya bisa menahan tawanya.

"Mahh... Jangan mulai deh" kata Arsen mencoba menghentikan aksi jahil ibunya.

"Apa sih? Mama cuma nanya, tinggal jawab cantik atau gak, susah banget"

Mendengar ibu dan anak itu yang mulai berdebat, Nayara mencoba menghentikannya dengan mengalihkan pembicaraan.

"Haha... Aku cuma bercanda tadi, Tan. Tante juga cantik banget malam ini"

"Malam ini aja, Nay?" tanya Lily mengulang pertanyaan Nayara tadi.

"Hahaha~ Ceritanya balas dendam nih, Tan? Gimana Om, Tante Lily cantiknya malam ini aja apa setiap hari?" balas Nayara yang melempar kembali pertanyaan Lily ke Tristan, seperti yang tadi dilakukan Lily, melemparkan pertanyaan Nayara ke Arsen.

Dengan senyum di bibirnya Tristan menjawab, "Setiap hari dong". Lalu laki-laki yang berstatus sebagai ayah kandung Arsen itu mencium kening samping istrinya.

Nayara senang melihat pasangan suami-istri di depannya yang masih romantis padahal sudah puluhan tahun menikah. Nayara harap suatu saat nanti pernikahannya juga akan seperti Lily dan Tristan, tetap romantis meski sudah bertahun-tahun menikah.

"Tuh, Ar. Harusnya balas kayak gitu tadi. Dasar gak peka" kata Lily yang kembali menggoda Arsen.

Arsen menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Arsen tau ibunya tidak akan berhenti menggoda Arsen dan Nayara. Jadi, Arsen memutuskan untuk pergi saja.

"Abaikan aja. Ayo kita pergi, Ibu Lily udah mulai rese" kata Arsen sambil menautkan kembali tangannya dengan tangan Nayara dan mereka mulai berjalan meninggalkan Lily dan Tristan.

"Durhaka kamu, Ar, ngatain Mama rese. Nay, kalau nanti dia nembak kamu, tolak aja. Biar tau rasa" ucap Lily setengah berteriak karna Arsen dan Nayara mulai menjauh.

Ketika sudah jauh dari jangkauan Tristan dan Lily, Nayara bertanya pada Arsen maksud ibunya yang terus menggoda mereka tadi.

"Kamu ngomong apa ke Tante Lily tentang kita?"

"Gak ngomong apa-apa" jawab Arsen jujur. Dia memang tidak bicara apa-apa dengan Lily, tapi adiknya, Kaila, yang bicara macam-macam dengan Lily.

Mendengar jawaban Arsen, Nayara tidak percaya. Dengan dahi yang mengerut, Nayara kembali bertanya, "Kalau gak ngomong apa-apa, kenapa Tante Lily kayak gitu tadi?"

Sudah Arsen duga, Nayara tidak percaya dengan ucapannya. Wanita itu terus menatap Arsen, menunggu jawaban darinya. Setelah diam sebentar, akhirnya Arsen pun menjawab.

"Kaila... Kaila bilang ke Mama kalau kita pernah pacaran"

Nayara memejamkan mata dan menghembuskan napasnya kasar.

Dasar Kaila cepuuuu! Awas dia kalau ketemu hari ini!

"Udah gak usah dipikirin. Sekarang mending temenin saya menyapa beberapa kolega" tambah Arsen, lalu kembali menggandeng tangan Nayara.

Mata Nayara seketika terbuka dan membulat sempurna mendengar ajakan Arsen. Dengan cepat, dia melepaskan tautan tangan Arsen di tangannya dan menolak ajakan tadi dengan tegas.

"Apa? Gak mau."

"Kenapa?"

Kenapa?!? Pakai tanya lagi. Yah siapa gw, diajak menyapa kolega. Gw bukan siapa-siapa luu~

Nayara tidak habis pikir dengan Arsen. Untuk apa dia ikut menyapa kolega-kolega perusahaan laki-laki itu. Karyawannya, bukan. Sekretarisnya, bukan. Keluarganya pun bukan.

Dengan tenang, Nayara menjelaskan alasan dan posisinya pada Arsen.

"Saya orang luar, Ar. Saya bukan keluarga kamu, bukan sekretaris kamu, bahkan bukan karyawan di perusahaan kamu. Bakal aneh kalau saya yang bukan siapa-siapa kamu, nemenin kamu ketemu kolega-kolega kamu. Lebih baik kamu menyapa mereka sendiri atau kembali ke Om Tristan dan menyapa mereka dengan Om Tristan. Itu lebih masuk akal"

Setelah menjelaskan panjang-lebar, Nayara memutuskan untuk pergi mengambil minum dan meninggalkan Arsen yang sedang menatapnya dengan... marah?

"Saya mau ambil minum. Permisi" kata Nayara lalu berjalan meninggalkan Arsen.

 Permisi" kata Nayara lalu berjalan meninggalkan Arsen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang