Prolog

30 4 1
                                        

Di dalam ruang biru, seseorang sedang berdiri dan menatap cermin yang kosong. Tidak satu hal pun ia ucapkan, bibirnya yang pucat terus terdiam. Sorot matanya tampak kosong, menunggu sosok yang lain muncul di dalam cermin itu.

Cahaya di ruangannya hanya mampu menerangi tempat yang sempit. Semakin lama jam berdetik, semakin redup cahaya itu menerangi dirinya. Tidak ada bola lampu yang bisa menggantikannya, karena semua yang di dalamnya terperangkap bersama sosok pemuda itu.

Tidak ada pintu maupun jendela, tidak ada hewan maupun tumbuhan, hanya ada seseorang yang diam terpaku, jam yang berdetak, lampu redup, dan sebuah cermin tanpa pantulan.

Seseorang dengan tatapan kosong itu sedikit mendongakkan kepalanya.

"Apa yang aku harapkan selama ini?"

Pikirnya.

Entah sudah berapa kali pertanyaan tersebut melintas di benaknya, sebuah pertanyaan tanpa jawaban.

"Apakah tidak apa-apa jika terus seperti ini?"

Pertanyaan lain mencuat. Pikirannya menjawab tidak apa-apa, tetapi hatinya menjawab hal yang lain.

Ketidakselarasan antara hati dan pikiran membuat pemuda itu ragu dan enggan mengambil keputusan akhir. Setiap harinya ia hanya menjadi robot berjiwa manusia.

Sehingga selama bertahun-tahun itu ia terperangkap di dalam ruang biru sendirian, tidak pernah ada sosok lain selain dirinya sendiri. Keinginan dalam hati, batin yang berontak, ketidakpastian esok hari. Menunggu seseorang untuk muncul dan menariknya dari belenggu yang ia sebut dengan karma, atau setidaknya itu yang dia yakini.

Dia tidak pernah memikirkan alasan kenapa dia berada di ruangan tertutup itu, kenapa tidak ada orang lain selain dirinya? Atau kenapa ruangan itu hanya berwarna biru. Kenapa tidak putih, atau berwarna merah?

Karena jika dia memikirkannya, dia takut akan sesuatu. Dia takut akan penyesalan yang pasti mendatanginya. Dia takut dengan masa lalu yang sudah usai terjadi. Dia ingin menjauhkan masa lalu itu ke dalam jurang terdalam.

Dia hanya menunggu, hatinya selalu menunggu ketidakpastian. Dia tidak tahu kapan waktu untuk keluar. Mungkin hatinya juga tidak ingin keluar.

Pada batas pikiran dan hatinya, ia menggantung harapan semu itu di atas cermin yang berdebu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 20, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MemoriaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang