23. SEBELAS DUABELAS

162K 7.9K 871
                                    

23. Sebelas Dua belas

Sungguh tak terduga, tepatnya saat ini, pagi sekali, rombongan temannya sudah siap berada didepan pintu utama. Erlangga menatap datar kearah empat orang disana. Devian, Alan, Ziva dan Rima beserta beberapa kantong plastik berisi makanan ringan didalamnya.

"Mau pindahan?" tanya Erlan melihat tamu itu nampak heboh.

Alan menyengir. "Numpang main aelah. Datar amat muka lo. Btw bini mana?" Pria itu langsung nyelonong memasuki rumah Erlangga tanpa izin lalu disusul tiga orang lainnya.

Seseorang yang ditanyakan muncul seketika. Terlihat Nayla tengah menuruni anak tangga satu persatu menatap cengo kearah temannya yang tiba-tiba datang tanpa menginformasikan terlebih dahulu.

"Wahh kejutan banget. Ada apa nih?" tanya Nayla.

Rima dan Ziva mengangkat kantong plastik berisi makanan ringan yang mereka bawa. "Makan-makan kita. Kuy kebelakang rumah lo. Bersantai di pinggir kolam. Enak kek nya," ajak Ziva semangat.

Raut wajah Nayla langsung senang. Cewek itu girang lalu melajukan langkahnya saat menuruni tangga membuat Erlangga panik takut kepeleset. Ingat! Nyawa manusia tak seperti nyawa kucing. 

"Udah pada sarapan nih?" tanya Nayla saat mereka sudah berada dihalaman belakang rumah. Semuanya menganggukkan kepala termasuk suaminya sendiri. Tentu saja, Nayla dan Erlangga juga sudah sarapan sejak tadi sebelum para curut itu datang.

"Gue tebak pasti si Alan belum mandi. Lan, noh kolam nganggur." Pria itu menatap datar kearah Ziva yang asal ceplos. Tapi benar sih! Dirinya memang belum mandi.

Erlangga membisikkan sesuatu ditelinga Devian membuat dua pria itu langsung membuka kaos yang mereka kenakan tanpa sepengetahuan yang lain. Devian mendekat kearah Ziva lalu mengangkat cewek itu dengan mudahnya, membawa Ziva mendekat kearah kolam renang lalu menceburkan dirinya disana.

Ziva kaget bukan main, setelah wajah Devian yang tertawa melihatnya barulah ia sadar, ternyata kulkas bisa tertawa keras juga. Tangan Devian memeluk erat pinggang cewek itu hingga mendapat balasan berupa tangan ziva yang dikalungkan dilehernya. Alan tersenyum datar. Ngenes sekali jadi jomblo.

"Sebentar lagi pasti Erlan ikut nguwwu juga 'kan?"

Baru saja selesai mengatakan hal tersebut, dengan santainya Erlan mengendong Nayla ala bridal style membawa istrinya itu berenang bersama teman lainnya. Lagi-lagi, Alan tersenyum kecut.

"Rim, mau sama gue gak?" tawar Alan kearah cewek yang sedari tadi diam itu.

Rima mengalihkan pandangan kearah Alan yang perlahan membuka baju lalu mendekat kearahnya.

"Nahh setuju nih gue," ujar Ziva mendapat anggukan dari Nayla.

Cewek yang mendapat ajakan itu mengangguk pelan dengan senyum yang terbit diwajah cantiknya. Alan bersorak senang lalu mengangkat tubuh Rima menyeburkan dirinya bersamaan di kolam lalu merengkuh pinggang cewek itu sekuatnya. Rima tersentak, menatap cengo kearah Alan.

"Aroma-aroma ada yang bakal jadian nih," ucap Erlangga.

"Anjirr, nempel banget!" Alan bersorak senang mendapatkan pelototan mata dari Rima. Bahkan pelukan Alan semakin menguat membuat payudara milik Rima semakin menempel didada bidang Alan. Tatapan teman yang lainnya pun ikut merubah menjadi datar.

"ALAN MESUMMM!"

Rima berontak minta dilepaskan namun membuat Alan malah meletakkan kepalanya diceruk leher Rima.

"WOIII, belum jadian anjir!" Erlan berdecak berulang kali. Akibat jomblo terlalu lama, Alan menjadi seganas itu?

"Mau jadi pacar gue nggak?" bisik Alan pelan ditelinga Rima.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang