Bagian 11

6.3K 317 8

Vina's POV

Aku bodoh sekali, hanya karna setelah bertemu Edo aku langsung drop. Sekuat apapun aku ternyata bisa sakit juga.
Masa lalu yang sudah kukubur dalam kembali muncul bahkan dalam bentuk nyata. Edo.
Entah kenapa aku membencinya meskipun dia tidak salah, semua gara-gara papa yang terlalu membeda-bedakan kami sejak kecil. Terutama dalam hal kasih sayang.

Aku bosan seharian ini cuma tidur dirumah, walaupun itu sangat kubutuhkan untuk memulihkan kesehatanku. Aku menolak saat bi Sarmi ingin membawaku ke rumah sakit, karna aku takut jarum suntik.
Tapi aku tetap menyuruhnya untuk memanggilkan dokter ke rumah untuk memeriksaku tentunya tanpa jarum suntik.

Hingga sore hari aku semakin bosan, akhirnya tercetus ide yang membuatku sedikit bersemangat. Yaitu menyuruh Ara untuk datang kesini menemaniku, setidaknya ada hal yang cukup menarik untuk kupandangi selain tv.

Aku mencoba menghubunginya...tak diangkat. Kucoba lagi...tidak diangkat lagi. Dan kucoba lagi...tetap sama.
Lalu ku sms dan bbm tetap tak ada balasan, apa dia belum pulang? Tadi dia bilang tidak akan lembur karna mau ke rumah sakit. Ku coba lagi....tetap sama.

Aku mulai kesal dan memanggil pak Usman untuk menjemputnya di rumah sakit kalau dia memang ada disana. Setelah kuberi tahu dimana letak Denis dirawat, pak Usman segera berangkat.

Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Ara datang juga, aku menyuruhnya duduk disampingku meskipun aku masih sangat kesal padanya karna tak menanggapi telponku. Namun setelah dia memberiku perhatian, menanyakan keaadaanku bahkan menyentuh keningku yang membuatku sedikit tersentak, rasa kesalku hilang begitu saja. Aku sangat suka diperhatikan olehnya, sudah kuduga jika ada dia pasti suasana hatiku akan berubah lebih baik.

Aku merebahkan diriku dan menyandarkan kepala dipangkuannya dan memintanya memijat kepalaku yang langsung dilakukannya. Kukatakan padanya penyebab aku sakit, yaitu gara-gara setelah bertemu Edo tapi tanggapan Ara malah membuatku malas neneruskan ceritaku.

Aku meminta Ara untuk tidur disini dan besok pagi diantar pak Usman. Namun dia menolakku hanya karna malu sama tetangga-tetangganya yang menurutku kampungan itu.

" Tapi mereka sangat baik kak, " Kilahnya.

Aku bangun dan kudekatkan wajahku untuk memaksanya, menatapnya dari jarak dekat mrmbuatku hampir kehilangan kontrol untuk segera melumat bibir mungilnya.

" Kalau mereka baik...ya udah besok kamu diantar. Nggak ada bantahan lagi. " Jawabku mencoba menahan gejolak, lalu segera menjauhkan wajahku darinya.

Lalu dengan menahan lemah dan pusing, kuajak dia melihat-lihat kamarnya yang tentu saja langsung membuatnya takjub.
Hingga akhirnya aku tak tahan  menahan rasa pusing yang mendera.

Ara menuntunku ke kamarku lalu setelah minum obat, aku tidur dan ku tarik dia untuk tidur bersamaku. Aku tidak perduli apa yang akan dipikirkannya. Akupun tahu dia gugup dan deg-degan karna dalam dekapanku aku merasakan detak jantungnya yang cepat. Dan mungkin akan membuatnya susah tidur nanti, namun sekali lagi aku tak perduli. Yang penting aku bisa memeluknya seperti ini. Dan benar saja, lama-lama kesadaranku memudar memasuki alam mimpi.

............

Suara cicit burung membangunkanku dalam kondisi yang lebih segar dan tentunya lebih baik dari semalam karna pusingku telah hilang.

Aku merasa mendekap seseorang, astaga.....aku lupa kalau semalam Ara tidur bersamaku. Dan kenyataan ini membuatku merasa sangat senang.

Dia masih terlelap dengan posisi masih dalam pelukanku, tangan kiriku menopang kepalanya dan wajahnya menghadap dadaku. Sungguh posisi yang menurutku romantis sekali.
Kulonggarkan tangan kananku yang memeluknya untuk memandang wajahnya yang terlelap. Haah..Ara..Ara kau manis sekali.

So Possessive (gxg)Baca cerita ini secara GRATIS!