BAB 1 - Segelas Berdua

887 138 6
                                        

Pagi ini, seperti biasa Ayara berkutat dengan pekerjaannya sebagai Sekretaris Direktur Utama yang tidak lain adalah Yasawirya Najandra—kekasihnya. Sudah hampir tiga tahun Ayara menjabat sebagai sekretaris sekaligus kekasih Yasa, dan rasanya menyenangkan mampu menemani Yasa meniti kesuksesannya seperti sekarang. Ayara tahu sekeras apa, sejatuh bangun apa Yasa untuk sampai ke titik ini, menjadi salah satu pengusaha retail fashion terbesar se-Asia Tenggara. Maka dari itu, Ayara berjanji untuk selalu berada di sisi Yasa, membantu pekerjaannya sebagai seorang sekretaris dan menemani Yasa dalam keadaan apapun sebagai seorang kekasih.

Ayara menatap Yasa di balik kaca yang menghadap ke ruang Direktur Utama itu, dilihatnya laki-laki itu sedang membaca laporan penjualan Quartal satu di tahun ini yang tadi saja baru diberikan Ayara dengan beberapa proposal terkait kerja sama untuk membuka cabang di luar Negeri.

Teng!

Satu notifikasi di ponselnya membuat pandangan Ayara berpindah, ia tersenyum setelah melihat nama yang muncul di layar ponselnya.

Mas Yasa

Mau makan siang di restoran favorit kamu?

Ayara kembali menatap Yasa dari balik kaca, tak diduga tatapan Yasa pun kini mengarah pada Ayara seolah menantikan jawaban dari wanitanya. Tanpa ragu dan tanpa menunggu, Ayara menganggukan kepalanya dengan senyum di bibirnya yang membuat Yasa juga tersenyum.

//

"Mas, kamu udah baca proposal kerja sama terkait pembukaan cabang di luar Negeri? Aku lihat, banyak sekali variabel untuk pembiayaannya apakah worth it?"

Yasa tersenyum menatap Ayara yang kini sedang menyatap makanan favoritnya yang ada di restoran padang di salah satu Mall di Jakarta Selatan. Sama seperti dirinya, Yasa pun tahu jika Ayara adalah wanita pekerja keras sebab di sela-sela waktu makannya, istirahatnya atau apapun itu terkadang Ayara selalu mengajak Yasa berdiskusi terkait pekerjaannya.

"Aya.. kamu lupa sekarang kita lagi makan siang lho."

Ayara menatap Yasa dengan tatapan bersalah, ia lupa jika ia dan Yasa sudah berjanji untuk tidak membicarakan pekerjaan di luar kantor terlebih saat berdua.

"Maaf, Mas." Ucap Ayara pelan.

"Tapi karena kamu sudah bertanya, maka aku akan menjawabnya. Kamu tau istilah high risk high return? Nah terkadang sebagai pengusaha kita harus melihat peluang itu untuk memajukan dan mengembangkan usaha kita lebih lagi. Jadi kalau kamu tanya is it worth it tentunya jawaban aku hanya iya." kata Yasa memberikan penjelasan. Ayara yang mendengar itu terkagum dengan siifat Yasa—kagum dengan semua hal yang ada di dalam diri Yasa.

Yasa mengambil daging rendang dan menaruhnya di piring Ayara sebab rendang adalah makanan favorit Ayara, "Jadi sudah terjawab? Dan bisa kita bahas yang lain Nyonya?" katanya dengan senyum gigi yang begitu menawan.

Ayara terkekeh pelan sebelum akhirnya mereka kembali melanjutkan sisa makanan yang berada di piringnya masing-masing.

"Aya..." Yasa memanggil Ayara pelan, dilihatnya wanita itu sedang meminum es jeruk di gelasnya seusai menghabiskan makanan di piringnya.

Ayara tak menjawab ia hanya berdeham pelan sambil menghabiskan sisa minumannya.

"I love you." kata Yasa yang membuat Ayara hampir saja tersedak.

Laki-laki itu memang tak pernah bisa tertebak tingkah lakunya, namun meski begitu Ayara memang sangat mengetahui jika Yasa begitu mencintainya pun sebaliknya.

"I love you too." balas Ayara dengan senyum mengembang di bibirnya, tak kalah, Yasa pun membalas senyum itu.

"Aya..." Yasa kembali memanggil.

"Iya, Mas?"

"Aku ketemu Ayah kamu kemarin."

Ayara yang masih meminum es jeruknya itu langsung menatap Yasa ketika laki-laki itu mengucapkan kalimat terakhirnya. Matanya membulat tajam, entah ia terlalu kaget atau terlalu marah saat Yasa harus membahas mengenai hal yang sudah lama Ayara ingin hilangkan.

"Berapa?" tanya Ayara.

Yasa diam.

"Berapa uang yang dimintah Ayah aku?" tanya Yasa lagi dan lagi.

"Aya.. Ayah ngga minta uang—"

"Terus? Berapa yang kamu kasih ke Ayah? Akan aku ganti ya, Mas."

Yasa diam. Ia tahu serumit apa hubungan Ayara dengan Ayahnya yang bahkan membuat Ayara memilih keluar dari rumah untuk hidup mandiri. Sudah enam tahun lebih, sejak pertama kali Ayara bertemu dengan Yasa, Ayara tak pernah menemui Ayahnya, sesekali Ayahnya mengirimkan pesan dan Ayara mengirimkan uang tiap kali Ayahnya mengirimkan pesan, hanya itu saja dan tak ada yang berubah.

"Beliau menanyakan kabar kamu."

Ya Tuhan, lelucon macam apa yang baru Ayara dengar?

Ayara tertawa, kencang sekali sampai-sampai air matanya terjatuh begitu saja. Mendengar Ayahnya menanyakan kabarnya sama seperti mendengarkan dongeng masa lalu, tidak mungkin.

Ayara mengelap air matanya dengan jari-jari manisnya, "Lucu banget kata-kata yang kamu ucapin tadi, Mas. Terdengar seperti nyata." ucapnya sambil tertawa pada Yasa.

"Maaf..." Ucap Yasa pelan, tangannya menggenggam jemari Ayara, ia tahu membahas hal ini hanya akan membuat Ayara merasakan kesedihan sebab ingatannya akan membawa Ayara pada kejadian-kejadian yang ingin Ayara lupakan--bahwa hancurnya ia dahulu ada andil Ayahnya. Tapi Yasa pun tak bisa selamanya berbohong dan menutupi fakta bahwa ia sering bertemu dengan Ayah Ayara, sekedar berbicara dan menanyakan keadaan Ayara.

"Ngga apa-apa, aku paham apa yang ingin kamu lakukan untuk memperbaiki hubunganku dengan Ayahku. Tapi, Mas.... ini ngga mudah untuk aku bisa berdamai--"

"Iya, Aya, aku paham." tak ingin berlanjut dan membuat Ayara tambah sedih, Yasa memotong ucapan Ayara. Tangannya menghapus air mata yang masih jatuh di pipi mulus Ayara itu.

Detik dan menit sudah berlalu begitu saja, baik Ayara maupun Yasa memilih untuk diam sejak percakapan terakhir mereka yang membahas Ayah Ayara. Ayara menatap jam di tangannya, waktu sudah menunjukan pukul satu siang dan itu artinya ia dan Yasa harus bergegas kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Ayara menarik napasnya, bagaimanapun ia harus profesional, sebab di jam kerja ia tetaplah seorang sekretaris Yasa. Ayara menatap Yasa yang saat ini memalingkan pandangannya, menatap entah siapa.

"Mas?" Ayara memanggil lembut, Yasa menengok lalu tersenyum, "Sudah jam satu siang, ayo kita kembali ke kantor." lanjutnya.

"Sebentar, aku boleh ke sana dulu?" Yasa kembali memalingkan pandangannya, diikuti oleh Ayara.

Wanita bergaun merah.

Ternyata Yasa sedari tadi memandang wanita itu, wanita yang tampak familiar bagi Ayara, seperti ia sering bertemu namun entah dimana Ayara tak tahu pasti.

"Dia Maina, teman kecilku dulu, aku hanya ingin menyapanya."

Ah iya! Maina Bawika, seorang presenter talk show kebanggaan Ibu Kota, pantas saja rasanya tidak asing bagi Ayara yang sering melihat Maina di televisi.

"Kamu mau ikut denganku? Aku akan kenalkan kamu dengan Maina, mau?" Yasa menatap Ayara.

Meski ragu, Ayara hanya menggeleng, ia hanya.... Rasa-rasanya ini bukan waktu yang tepat, terlebih perasaan Ayara masih belum baik, ia tidak bisa bertemu dengan orang lain dan memaksakan senyum di bibirnya saat ia tak bisa melakukan hal itu. Maka, ia membiarkan Yasa menghampiri Maina, sendiri. Toh, Yasa hanya menyapa, tak lebih dan tidak akan pernah.

Segelas BerduaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang