BAB 27 : Aksi Menghindar

34.1K 4K 58
                                    

Nayara menghindari Arsen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nayara menghindari Arsen. Sejak pulang dari makan malam di A Maggio Restaurant, Nayara mulai menghindari Arsen. Semuanya bermula saat Nayara mengeluarkan semua unek-uneknya malam itu pada Kirana dan Reyna lewat video call. Pembicaraan mereka malam itu masih terus berputar di kepala Nayara sampai sekarang.

"Kalau kata gw sih, lu cemburu Nayara Chavali"

Kirana langsung menungkapkan apa yang dia pikirkan ketika sahabatnya itu selesai bercerita. Saat ini, Nayara sedang video call dengan Kirana & Reyna.

"Gak. Gw gak cemburu Kirana Praya Cantika" Nayara langsung menyangkal ucapan Kirana.

"Kalau kata gw sih, gw satu suara sama lu, Ki" kata Reyna yang sejak tadi diam, ikut menyetujui ucapan Kirana.

Nayara memutar kedua bola matanya mendengarnya, "Satu suara. Satu suara. Lu pikir ini lagi pemilu"

"Dihh kok sewot mbaknya. Kasih paham, Ki"

"Giliran suruh ngejelasin aja gw" protes Kirana pada Reyna.

"Lu tuh lebih bagus dalam hal jelas-menjelaskan daripada gw, Ki. Terus, lu gak liat gw lagi ngapain? Gw lagi pake masker Kirana Praya Cantika" balas Reyna mencoba untuk tidak membuka mulutnya terlalu lebar agar maskernya tidak retak.

Kali ini Kirana yang memutar bola matanya mendengar ucapan Reyna. Kirana lalu mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan mulai menjelaskan pendapatnya kalau yang Nayara rasakan itu kecemburuan.

"Lu cemburu karna biasanya Arsen gak pernah cuekin lu. Dari awal pertemuan kalian lagi, Arsen gak pernya cuekin lu. Selalu ajak lu ngobrol duluan karna lu gak mau ngajak dia ngobrol duluan. Dan hari ini, tadi, dia gak ngajak lu ngobrol karna asik ngobrol sama sahabatnya yang baru ketemu lagi dari mereka lulus SMA. Lu cemburu karna baru hari ini, setelah pertemuan kalian lagi, perhatian Arsen gak ke lu tapi ke Odie. Padahal sebelumnya dia jahilin lu, elus hidung lu yang dia cubit, sebut lu wanitanya dan bilang kalau dia mungkin bakal suka beneran sama lu kalau lu terlalu menggemaskan. Menurut gw itu cemburu, Nay"

"Gw tambahin, sahabat sekaligus mantan pacar pertamanya" kata Nayara menambahkan.

"Nahh tuh kan. Udahlah ngaku aja kalau lu tuh cemburu" desak Kirana.

"Gak. Gw gak cemburu. Gw cuma nambahin info yang kurang dari omongan lu. Lagian mana ada sih dari sahabat, pacaran, terus putus dan hubungannya masih baik-baik aja"

"Ada. Tuh buktinya Arsen sama Odie" balas Kirana dengan tenang.

"Mereka aneh"

"Gak aneh. Mereka dewasa. Toh mereka putus baik-baik, ngapain harus musuhan"

"Anehlah. Gw gak pernah ketemu orang kayak mereka"

"Gak pernah ketemu yang kayak mereka bukan berarti mereka aneh"

"Rey. Lu diam aja. Belain gw kenapa sih." ujar Nayara meminta pembelaan pada Reyna yang sedari tadi hanya diam saja mendengarkan perdebatannya dengan Kirana.

"Mau belain apa? Gw setuju sama semua omongan Kiran" balas Reyna yang sudah melepas sheet mask-nya.

"Eh, Rey. Tadi dengar gak, ada yang nyebut kata mantan tapi penuh penekanan banget ngomongnya" kata Kirana mulai mengejek Nayara dan sinyal ejekan itu ditangkap baik oleh Reyna.

"Dengar dong. Bilangnya gak cemburu tapi ngomongnya penuh penekanan banget"

"Dengar yah wahai sahabat-sahabatku yang super nyebelin, GW GAK CEMBURU. Berapa kali sih gw harus bilang kalau gw tuh gak cemburu. Gw cuma kesel dikacangin, sedangkan mereka asik ngobrol berdua serasa cuma ada mereka di meja"

"Ya. Ya. Ya" Kirana mengiyakan dengan enggan, lalu kembali merebahkan badannya di tempat tidur.

"Sekali lagi. Gw. Gak. Cemburu"

Reyna yang sekali lagi mendengar Nayara mengucapkan 3 kata itu penuh penekanan, juga mengiyakan dengan enggan, "Ya. Ya. Ya".

Nayara kesal karna kedua sahabatnya tidak ada yang membelanya. Tujuan dia menelpon mereka adalah untuk meminta pembelaan bukannya disudutkan gini. Dengan kesal dia mengakhiri video call.

"Ck. Salah emang cerita sama lu berdua. Gw matiin. Bye."

Setelah panggilan video call mereka berakhir, Nayara mulai merenungkan tentang perasaannya setelah bertemu kembali dengan Arsen. Di lubuk hatinya Nayara membenarkan ucapan Kirana. Ia merasa nyaman berbicara dengan Arsen, walaupun pembicaraan mereka berujung perdebatan, tapi Nayara nyaman.

Nayara tidak mau perasaan nyamannya ini semakin berkembang. Dia tidak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Jadi dia memutuskan menghindar dari Arsen.

Dia baik sama gw karna rasa bersalah bukan suka. Ingat itu Nayara.

"Kamu menghindari saya akhir-akhir ini" ucap sebuah suara dari samping kiri Nayara.

Nayara tersentak mendengar suara seseorang dari samping kirinya. Lamunannya tadi langsung buyar seketika. Nayara menolehkan kepalanya ke asal suara dan melihat laki-laki yang beberapa hari ini dia hindari.

Arsen menolehkan kepalanya menatap dalam mata Nayara, "Kenapa?".

Nayara membuang mukanya, kembali menghadap ke depan, ke arah beberapa pegawai EO yang sedang mendekor ruangan yang akan dipakai untuk perayaan ulang tahun perusahaan Aldrich.

"Sibuk. Toko lagi rame" jawab Nayara mencoba menjawab setenang mungkin.

"Oh. Rame. Tapi saya dapat info dari Nita kalau toko cukup senggang"

Ucapan Arsen barusan membuat Nayara menggeram dalam hati.

Nitaaaa!

"Kamu punya nomornya Nita? Kok saya gak tau" tanya Nayara mencoba mengalihkan pembicaraan.

Arsen menolehkan kepalanya lagi, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Nayara sepenuhnya.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Ara. Saya tanya sekali lagi, kenapa kamu menghindari saya? Setiap saya telpon membicarakan hal di luar pekerjaan, kamu selalu membuat alasan untuk segera mengakhiri telpon. Setiap chat saya yang tidak ada konteks pekerjaan juga kamu abaikan. Kamu kenapa? Saya ada salah sama kamu? Jangan buat saya pusing, Ara" ucap Arsen panjang lebar.

Sejauh ini, sepertinya ini adalah ucapan terpanjang Arsen.

Saat ini, laki-laki itu sedang menatap Nayara dengan frustasi. Arsen tidak mencoba menyembunyikannya sedikit pun dari Nayara.

Bukannya menjawab pertanyaan Arsen, Nayara malah kembali bertanya, "Kamu ngapain di sini? Kantor lagi gak sibuk?"

Rasanya Arsen ingin menjambak rambutnya sekarang juga. Dia mencoba menenangkan dirinya dengan menarik napas, lalu menghembuskannya dengan pelan sebelum menjawab Nayara. Dia tidak mau membentak wanita di depannya. Dia tidak mau memperburuk keadaan.

"Gak. Kantor gak sibuk. Saya gk sibuk. Kamu yg sibuk. Lebih tepatnya pura-pura sibuk"


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang