Bukannya di setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Kamu tahu itu, tapi mengapa seolah terkejut dibuatnya? Sudah semestinya kita ditinggalkan atau meninggalkan. Namun keduanya bukan pilihan yang harus kamu pikirkan, kamu hanya perlu kesiapan untuk datangnya kata pergi.
-Claudy Nathania Putri
***
"Claudy, ayah nganterin bunda ke pasar dulu ya, sekalian mau keluar sebentar ada urusan pekerjaan. Kamu di rumah sama oma." Pamit Zaki, Ayah Claudy.
"Iya ayah, ayah sama bunda hati-hati." Jawab bocah kecil yang masih berumur enam tahun.
"Iya sayang, bunda sama ayah berangkat dulu ya," Ucap kedua orang tua Claudy sambil tersenyum.
"Jangan lupa beliin jajan buat Claudy." Teriak Claudy saat ayah dan bundanya semakin menjauh dari rumahnya.
Tak lama setelah ayah bundanya berangkat, tiba-tiba ada seorang nenek yang mengajaknya masuk ke dalam rumah, ya, itu neneknya Claudy, Nenek Ani. Tetapi Claudy memanggil neneknya dengan sebutan oma.
"Sayang, ayah sama bunda udah berangkat. Claudy masuk yuk, main di dalam rumah aja Oma juga mau nyapu, nanti kamu sendirian." Ajak oma kepada cucu satu-satunya itu.
"Tapi Claudy bosan oma, Claudy mau ke rumah Nayya aja, main bareng sama dia." Rengek Claudy kepada omanya.
"Yaudah kalau begitu, mau oma antar?" Tanya oma sambil merapikan poni rambut Claudy yang berantakan.
"Iya boleh oma, Claudy takut diculik om-om kalau sendiri." Jawab Claudy diiringi dengan kekehan kecil.
"Cucu oma siapa yang ngajarin sih." Gemas oma pada Claudy sambil menggandeng tangan bocah cilik itu menuju ke rumah Nayya.
***
Mereka berdua pun tiba di depan pintu bewarna putih, mereka berdiri sambil mengetuk pintu menunggu tuan rumah tersebut membukakan pintu.
Ya, Claudy dan Nayya memang sudah berteman dari kecil, bersahabat lebih tepatnya. Karena memang rumah mereka saling berdekatan, jadi mereka sering menghabiskan waktu bersama.
"Nah, itu Nayya-nya, yaudah oma pulang dulu ya. Claudy sama Nayya mainnya yang akur, jangan rebutan mainan," Pesan oma pada mereka berdua.
"Siap, oma." Kompak mereka berdua menjawab.
Setelah ditinggal oma-nya, Claudy dan Nayya langsung mengeluarkan beberapa mainan barbie untuk dimainkan.
Satu jam berlangsung....
"Clau, kamu bosan nggak? Kalau bosan ganti permainan yang lain aja yuk, gimana kalau kita main petak umpet?" Usul nayya.
"Yaudah ayo, siapa duluan yang jaga?" Tanya Claudy.
"Aku yang ngumpet, kamu yang jaga. Gimana?" Usul Nayya dan langsung disetujui Claudy.
Belom sempat bermain petak umpet, tiba-tiba oma Claudy datang sambil menangis dan terburu-buru.
"Oma ada apa, kok nangis?" Bingung Claudy terhadap oma-nya.
"Ayo pulang dulu sayang, mainnya udahan yaa" Ajak Oma, dan langsung menggandeng Claudy untuk pulang.
***
Sampai dirumah Claudy heran, mengapa dirumahnya banyak sekali orang.
Segeralah ia bertanya pada oma-nya, "Oma, ini kenapa banyak sekali orang, ada apa?"
"Ayo masuk dulu sayang" Ucap Oma sambil menangis sesenggukan.
Sampai di dalam rumah, Claudy melihat bundanya menagis disamping mayit yang sudah ditutupi kain dan hendak segera dimandikan dan kemudian dimakamkan. Melihat itu, Claudy langsung berlari ke arah bundanya dan langsung mendapat pelukan yang sangat erat dari bundanya.
"Nak, ayah sudah tidak ada, Ayah meninggal karena kecelakaan." Ujar bunda Claudy sambil menangis sesenggukan.
Bak disambar petir disiang bolong, Claudy yang mendengar itu langsung menangis histeris dan memeluk bundanya lebih erat lagi.
"Bunda, kenapa ayah ninggalin Claudy, katanya tadi mau perginya sebentar doang, kenapa malah pergi ninggalin Claudy untuk selama-lamanya" Isak tangis Claudy terdengar jelas, dan segeralah bundanya memeluk sambil menepuk-nepuk bahu Claudy agar Claudy bisa sabar menghadapi apa yang dialaminya.
Claudy yang masih berumur enam tahun harus kehilangan ayahnya. Disaat teman-temannya masih bisa bermanja-manja sama ayahnya, sedangkan Claudy hanya bisa membayangkan "andai ayah masih ada disini, nemenin Claudy, dengerin cerita Claudy, main sama Claudy"
Tes....
Air mata jatuh mengenai lengan Claudy dan membangunkan dari mimpinya.
"Mimpi itu lagi" Ucap Claudy di dalam hati.
Melihat jam masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Segeralah ia mencari buku diary-nya dan menulis untuk mengungkapkan rasa rindu kepada sang ayah. Claudy menangis sambil membayangkan sosok ayahnya ditemani hujan deras dan bau petrichor yang khas, kemudian ia menuliskan
Halo ayahnya Claudy, Claudy rindu!
Kenapa ayah ninggalin aku? Hatiku sakit ketika melihat interaksi antara anak dan ayah yang begitu harmonis. Aku iri, pengen ada di posisi itu. Tapi, aku sadar aku ngga bakal bisa ngerasain hal seperti itu.
Claudy sekarang udah gede, ayah. Claudy pengen suatu saat kalau mau cari cowo, carinya yang kaya ayah, hehe. Bisa jadi tempat keluh kesah, yang bisa ngehibur Claudy waktu sedih, dan buat partner bercanda, agar Claudy tidak kesepian lagi.
***
Haloooo🙌
Jangan lupa vote dan komen, ya!
Kasih tau juga kalau ada typo😁
Rabu, 1 Desember 2021
YOU ARE READING
CLAUDY
Teen Fiction(JANGAN LUPA FOLLOW, VOTE, DAN TINGGALKAN KOMEN) Claudy Nathania Putri Seperti namanya, gadis berumur enam belas tahun ini memiliki paras yang cantik dan memiliki kepribadian yang selalu ceria. Namun, sebenarnya hidup dia hampa setelah kepergian aya...
