Delapan #duka (15+)

27.8K 427 18
                                    

Merenung, kerjaan Manda setiap hari hanyalah merenung. Entah mengapa, kekosongan terhadap hidupnya semakin jelas saja.

Dua tahun dia lewati dengan kehidupan seperti itu, sungguh membuat dirinya tertekan. Sisi dirinya yang hancur tambah hancur, entah ini akibat dia atau hanyalah sebuah takdir.

Di atas ranjang kasur yang sangat dia rindu kan, Manda terduduk, memeluk kedua kakinya erat dengan tatapan mata kosong. Di luar sana lalu lalang orang-orang menyebut namanya di sela-sela percakapan.

Sesekali dia mengumpati orang-orang itu, hatinya sedang teriris, tak mau keadaannya semakin miris.

וו×

"Perempuan kalau udah nggak sekolah, nggak kerja, ya mau ngapain lagi kalau nggak nikah, ngurus anak suami,"

Bu Lisa tersenyum miring, dengan mata sembabnya dia hanya bisa terdiam. Mendengarkan ucapan tetangga-tetangganya yang berada di sana.

Kedua maniknya melirik segerombolan manusia di depannya, sedang berbisik ria tak tahu adab. Kabar duka sudah menjadi suatu hal yang hilang begitu saja, bagi mereka.

ו×

Manda meneguk ludahnya kasar, dia buru-buru menarik selimut dan menutupi seluruh badannya saat ketukan pintu kamar terdengar. Lamunannya menjadi buyar, Manda panik entah kenapa.

"Man..." suara panggilan itu sangat familar di pendengarannya, paniknya perlahan menurun. Pintu itu terbuka, seseorang berdiri di sana, Manda bisa melihat dari lubang-lubang selimut yang masih terlihat.

"Masuk aja!" suaranya sedikit berdengung, Yuna mendengar itu. Lantas dia segera mendekati Manda, terduduk di sampingnya. Dia tak menyangka, teman gilanya sudah sebesar ini walaupun tak pernah terlihat dewasa.

"Turut berduka cita, ya. Gue juga sedih tau, Papah lu udah gue anggep ayah sendiri. Dia baik, sabar," ucap Yuna sembari mengelus punggung Manda.

Telinganya mendengar isakan yang Manda hasilkan. Bahu itu naik turun, Yuna tersenyum pahit. Jujur, dia tak suka dengan sikap dan tingkah perilaku menyimpang yang Manda miliki, tapi jika melihat anak itu bersedih, hatinya juga ikut teriris.

"Kenapa hidup gue gini amat?"

Pertanyaan Manda tak jelas, namun Yuna masih bisa mendengarnya.

"Buka dulu selimut lu!"  Yuna menarik selimut yang Manda pakai, hatinya sedikit meluruh melihat wajah bengap merah itu. "Sini!" tuntunnya agar Manda merubah posisi menjadi duduk. Suara-suara di depan masih terdengar, namun tak seramai tadi.

Yuna tersenyum, tangan lembutnya mengusap rambut Manda yang menutupi muka.

"Hentiin semua ini, Man. Lu ber-hak hidup tenang, walaupun nggak bahagia, seenggaknya lu jauh lebih baik dari yang dulu-dulu!"

"Susahh, Naa!! Lu nggak bakal tau rasanya gimana. Gue nggak tau caranya hentiin semua ini! Waktu gue mau tobat, kenapa ada aja godaan??"

Yuna geleng-geleng kepala. Temannya satu itu malah lebih terisak, keringat dari pelipisnya tampak kembali. Manda terlihat sangat lelah, lelah dengan dirinya sendiri.

"Jalanin aja, kalau lu masih bisa tahan, coba pertahanin! Jangan mudah kebawa suasana!"

"Diem lu anjing! Gue kira lu ke sini buat semangatin gue, papah gue meninggal, kok lu malah bahas ngew- sih!"  Manda berteriak sambil mendorong bahu Yuna hingga perempuan itu terpental-pental ke samping.

He | Bima (Read Desk First)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang