BAB 24 : Hmmm..

33.1K 3.5K 58
                                    

"Kamu?? Ngapain di sini???"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kamu?? Ngapain di sini???"

Suara Nayara yang setengah berteriak menyambut Arsen yang baru saja masuk ke dalam toko bunganya. Sambutan yang sudah diperkirakan Arsen karena ia sengaja tetap datang ke toko bunga Nayara untuk menjemputnya, tidak menghiraukan pesan Nayara kemarin.

"Selamat siang, Mas Gans. Mau jemput Mbak Nay yah?" sapa Nita dengan senyum lebar, 180 derajat berbeda dari Nayara.

Dengan tersenyum kecil, Arsen membalas sapaan Nita sekaligus menjawab pertanyaan wanita yang merupakan pegawai Nayara itu, "Selamat siang. Iya".

"Ya ampun mba! Senyumnya manis banget!" bisik Nita histeris ke Nayara. Mendengar itu, Nayara hanya memutar kedua bola matanya.

Mengabaikan Nita, Nayara melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam Arsen, lalu berkata, "Kan saya sudah bilang gak usah jemput".

Arsen tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam yang Nayara berikan padanya. Ekspresi Nayara saat ini malah terlihat sangat menggemaskan di matanya. 

"Kamu cuma makan somay aja?" tanya Arsen yang mengabaikan ucapan dan tatapan tajam Nayara.

"Saya udah bilang gak usah jemput. Nanti ketemuan aja di sana" Nayara mengulangi ucapannya tadi. Dia tidak berniat menjawab pertanyaan Arsen tentang menu makan siangnya. Tapi, sama dengan Nayara, Arsen juga tidak berniat membalas ucapan Nayara tentang isi pesannya yang menyuruh jangan menjemput wanita itu.

"Emang kenyang? Kita bakalan lama kan di sana?"

"Ar, kamu baca pesan saya kan?"

"Mending kamu makan yang lain lagi. Kita bakal lama kan di pasar bunga?"

"ARSEN!"

Oke, Arsen mengalah. Dia menghembuskan napasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan wanita itu, "Iya saya sudah membaca pesan kamu".

"Terus kenapa masih ke sini?"

"Memangnya saya mengiyakan pesan kamu?" jawab Arsen dengan pertanyaan lagi.

Mulut Nayata ternganga sedikit, lalu menggeleng-geleng kecil. Dia tidak habis pikir dengan tingkah laku Arsen. Nayara memijit kepalanya pelan sebelum berkata, "Pokoknya kita tetap pergi sendiri-sendiri. Sekarang, mending kamu keluar dan pergi duluan. Sebentar lagi saya menyusul"

"Bukannya lebih baik kalau kita pergi bersama? Lagian saya sudah di sini. Akan membuang-buang waktu kalau kita pergi terpisah. Jakarta macet, Ara. Iya kan, Nita?" kata Arsen meminta dukungan Nita.

"Hah? Ah, iya, Mba. Mending pergi bareng Mas Gans aja. Bener, Jakarta macet"

Nayara langsung menatap kesal Nita. Bisa-bisanya dia lebih memihak Arsen daripada dirinya yang notabene atasannya. Ditatap seperti itu, Nita langsung berbalik badan, berpura-pura sibuk merapihkan bunga-bunga yang ada di vas-vas.

"Mending kamu pesan makanan lagi aja. Itu gak cukup untuk makan siang. Sekalian pesankan saya juga, saya belum makan siang juga" kata Arsen memutus keheningan yang terjadi.

Nita yang mendengar itu, segera berbalik badan dan mengangkat tangannya.

"Mas, saya yang pesankan yah? Kebetulan tadi Mba Nay bilang mau makan soto Betawi"

"Boleh. Terima kasih"

NITAA! BENER-BENER MAU DIPOTONG GAJINYA NIH ANAK!

--------------------------------------------------------------------------------------------

"Masih marah?" tanya Arsen sambil melirik Nayara sekilas.

Mereka sudah selesai mencari dan memesan bunga-bunga untuk dekorasi pesta ulang tahun perusahaan Aldrich. Sekarang mereka sedang berada di dalam mobil menuju ke restoran Itali favorit Arsen untuk makan malam. Atas paksaan Arsen tentu saja.

"Menurut kamu?" Nayara balik bertanya.

"Masih"

Setelah itu mereka berdua saling diam lagi. Ketika Arsen menghentikan mobilnya karna lampu lalu lintas sudah berwarna merah, Nayara kembali berbicara tanpa menatap ke arah Arsen.

"Lain kali jangan main asal ngaku pacar"

Arsen menolehkan kepalanya ke Nayara dan membalasnya dengan gumaman, "Hmm".

"Jangan sembarangan manggil sayang"

"Hmm"

"Tangannya juga dijaga. Jangan asal elus-elus kepala orang"

"Hmm"

"Ham, hem, ham, hem, aja. Kamu gak punya kosa kata lain selain hmm?" Kali ini Nayara menolehkan kepalanya menatap Arsen karna kesal hanya dibalas dengan gumaman saja. Tapi kekesalannya seketika berubah menjadi keterkejutan karna ternyata sejak tadi Arsen menatapnya.

"Iya. Saya gak akan seperti itu ke wanita lain" kata Arsen sambil menatap Nayara lembut.

Jawaban dia kok seakan-akan gw beneran pacar dia yang lagi cemburu sih??? Terus nih jantung gw juga kenapa jadi deg-degan gini sihhh???

Nayara tidak bisa membalas lagi. Dia terlalu sibuk menenangkan detak jantungnya.

Lampu lalu lintas mulai berubah warna dari merah ke kuning, lalu hijau, dan Arsen kembali melajukan mobilnya. Tidak ada pembicaraan lagi sampai mereka tiba di parkiran restoran.

"Ayo turun. Kita sudah sampai"


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang