15. NGEBACOT

179K 8K 323
                                    

15. Ngebacot

Ziva dan Rima menatap heran seseorang yang baru saja memasuki kelasnya. Gadis dengan bando merah muda itu langsung menduduki kursinya sendiri. Menatap kebelakang sambil memperhatikan kedua wajah temannya.

"Kenapa?" tanya Nayla.

"Kok lo udah Sekolah?" tanya Rima heran.

"Cara jalan lo normal jugak," ucap Ziva ambigu.

"Lah emang selama ini cara jalan gue loncat-loncat?"

Ziva menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ya nggak gitu. Apa jangan-jangan punyanya Erlangga kecil, jadi lo nggak ngerasain apapun," ucap Ziva mendapat geplakan dari Rima. Benar-benar membuat seseorang berfikir yang tidak-tidak.

Nayla mengernyitkan dahi mendengar ucapan Ziva barusan. Kecil? Tidak, sampai saat ini Naylapun masih membayangkan bagaimana rasanya penis berukuran besar milik Erlangga akan menerobos miliknya nanti-nanti. Membuat gadis itu meringis saja padahal baru memikirkannya.

"Atau ... lo belum ngelakuin?" tanya Rima.

Gadis yang ditanyai itu hanya mengangguk pelan.

...

Erlangga kepalang bingung melihat Nayla yang hanya terdiam seperti orang bisu bahkan hanya untuk bergeram sedikit saja terlalu keberatan bagi Nayla. Hanya saja tangan gadis itu yang terlihat asik mengotak atik handphonenya.

"Nay, are you okay?" tanya Erlan.

Nayla hanya mengangguk pelan. Sore ini moodnya benar-benar buruk. Membuat dirinya terdiam saja sejak tadi.

"Aaa jangan diemin gue dong."

Erlangga menjatuhkan tubuhnya diranjang lalu memeluk perut Nayla, menduselkan kepalanya diperut gadis itu. Nayla hanya bisa menahan geli dengan apa yang diperbuat suaminya.

"Erlan geli," ucap Nayla pelan. Erlangga mendongak menatap wajah Nayla yang sedang menatapnya juga. Posisinya saat ini, Nayla sedang berbaring dan Erlan berada diatas tubuh gadis itu sambil memeluk perut Nayla.

"Makanya jangan diemin gue."

Tangan Erlangga menyibak kaos oblong yang Nayla pakai. Mengecup perut datar gadis itu berulang kali hingga menimbulkan suara kecupan yang aneh didengar bagi Nayla.

"Mens nya lagi lama ya?" tanya Erlan.

Nayla meletakkan handphonenya terlebih dahulu. Ia sengaja menumpuk dua bantal agar bisa melihat wajah Erlan dengan jelas. Nayla mengangguk atas pertanyaan Erlangga membuat pria itu merucutkan bibir mungilnya.

"Nggak bisa dipercepat?" tanya pria itu lagi.

Nayla memicingkan mata. "Ya nggak bisa lah Erlangga," sahutnya sambil geram membuat Erlan terkikik melihat wajah gadis itu.

"Terus kapan ih nganunya."

Nganu nganu, pikiran Nayla sudah ambigu dibuatnya. "Sabar," jawab Nayla pelan.

"By, mau nenen."

Gadis itu tersenyum lalu mengelus rambut Erlangga. "Nenen aja nggak boleh elus-elus punya gue," ucap Nayla memperingati.

Erlangga mengangguk semangat lalu merangkak naik dan mulai mengukung tubuh Nayla. Semakin menaikkan kaos yang Nayla kenakan hingga menampakkan payudara gadis itu sebab Nayla tak memakai bra.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang