13. AMPLOP MERAH MUDA

194K 7.3K 541
                                    

13. Amplop Merah Muda

Dalam waktu seminggu ini, dua keluarga tengah disibukkan untuk acara pernikahan mendadak Erlangga dan Nayla. Kini, Nayla tengah berada dikelasnya. Beruntung saat ini kelasnya sedang jamkos, Nayla pun memanfaatkan waktu tersebut untuk memberikan amplop merah muda ke Rima dan Ziva. Ingat! Hanya dua sahabatnya itu.

"Wah, apa nih?" tanya Ziva masih biasa.

Dua gadis itu mengambil amplop dengan tulisan nama mereka disana. Ziva dan Rima masih memperhatikan dengan baik nama yang bersangkutan diacara penting tersebut. Ziva membulatkan mata sambil menggeplak bahu Rima berulang kali.

"LO NIK--"

Nayla langsung membekap mulut Ziva dengan tangannya. Pandangan seluruh penghuni kelas terarah ke tiga gadis diurutan meja paling belakang itu. Nayla hanya menyengir untuk menghadapi tatapan heran dari seluruh temannya.

Gadis dengan jepit mawar merah muda menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan. Ia siap untuk menjelaskan sesuatu yang amat penting dan juga harus dijelaskan secara rinci agar Ziva dan Rima paham.

"Jelasin," ucap Rima memicingkan mata. Ziva mengangguk ikut meminta penjelasan juga.

"Okeh."

Nayla memperbaiki duduknya terlebih dahulu. Beruntung kelasnya rusuh dibagian depan sana sehingga dibelakang sini hanya mereka bertiga. Nayla sudah siap menghadap belakang sepenuhnya menghadap Rima dan Ziva dengan memutar kursi tersebut terlebih dahulu.

"Gue sama Erlangga dijodohin. Awalnya kita santai karena kita bakal nikah setelah lulus Sekolah. Eh ternyata, bonyok gue sama bonyoknya Erlan ada kepentingan di Luar Negri. Terpaksa, gue dinikahin biar Erlangga bisa ngejaga gue sepenuhnya selagi papa sama mama diluar Negri," ucap Nayla panjang lebar tak lupa dengan suara yang berbisik.

Rima dan Ziva mengangguk paham. "Lah terus, lo mau selesai Sekolah gitu?" tanya Rima.

Nayla menggeleng. "Ya nggak lah. Gue cuma ngundang kalian sama Erlangga yang ngundang dua temennya itu. Selainnya, papa bilang bakal ngundang semua teman kerjanya aja. Jadi, acara ini sederhana bagi gue sama Erlan tapi mewah bagi papa sama mama," ucapnya lagi.

Sedangkan dilain tempat, dua teman Erlangga lebih heboh setelah dijelaskan alasan pria itu kenapa mau nikah muda apalagi masih Sekolah.

Alan tersenyum nakal sambil mengelus rahang tegasnya. "Tapi mantep tuh kalo sange tinggal gas aja. Gak bakal ngabisin sabun juga," ucap pria itu membuat Devian melempar buku tulis kearah Alan.

"Otak lo emang gak bener," ucap Dev.

Erlangga menenangkan kedua temannya terlebih dahulu. "Diharap tenang, yang terpenting kalian datang okay?"

Devian dan Alan mengacungkan jempolnya pertanda setuju dan pastinya akan mendatangi acara tersebut.

...

Nayla tengah terduduk dipinggiran ranjang sambil memainkan ponselnya. Gadis itu sangat merasa jenuh karena dirinya tak diberi izin oleh kedua orangtuanya untuk bermain keluar. Nayla mengalih pandangan kearah pintu kamarnya yang terbuka, Erlangga berdiri dengan membawa sekantung plastik yang berisi cemilan dengan rasa Strawberry. Pria itu tahu apa yang menjadi favorit calon istrinya.

"Gue bosen banget," adu Nayla. Erlangga mendekat sambil meletakkan plastik tersebut di ranjang.

"Tuh habisin, biar nggak bosen lagi," suruh Erlangga, pandangannya tertuju kearah cemilan yang banyak itu.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang