11. VIBRATOR

347K 9.4K 524
                                    

...

Gadis dengan daster lylacnya itu mempercepat langkah kaki untuk segera keluar. Bel rumah sudah terdengar sejak tadi. Namun karena tidak ada penghuni rumah selain dirinya membuat Nayla cepat-cepat menuju pintu utama.

"Eh."

Nayla menatap cengo kearah tukang paket dengan sekotak barang yang dibawanya. Kurir tersebut menyengir karena mengingat paket yang ia bawa ini dari seorang remaja yang harus diberikan kepada pacarnya. Siapa lagi kalau bukan ulah Erlangga.

"Mbak, paket," ucap kurir tersebut.

Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Nayla berfikir keras, perasaan dirinya belum pernah memesan barang lagi. Kenapa tiba-tiba ada kurir yang mendatangi rumahnya.

"Ehm, tapi saya nggak pesen pak," ucap Nayla pelan.

"Keknya bapak salah nganter paket deh," lanjut gadis itu.

Kurir paket tersebut menggeleng lalu mengeluarkan selembar kertas yang sebelumnya benda tipis tersebut asli dari Erlangga.

"Ini mbak, ada titipan suratnya juga."

Nayla mengambil surat tersebut lalu membaca tulisan yang bisa dikatakan sangat rapi. Eakk, kaget yak! Ini tuh dari gue yang mesenin. Ambil gih, udah gue bayarin. Jangan pingsan jangan marah, buka paket dengan setulus hati. Sekian terima gaji.

Gadis itu menetralkan wajahnya yang sudah tak bisa dikondisikan lagi lalu kembali menatap kurir yang masih menyodorkan paketnya. "Kata mas yang tadi, dari calon suami. Ini udah dibayar ya mbak. Tinggal diterima aja."

Nayla menerimanya dengan hormat. Setelah itu ia menunggu hingga kurir tersebut mulai menjauh dari pekarangan rumahnya. Gadis itu membawa kotak paket ke kamar.

Ia membuka paket tersebut dengan hati-hati. Tulisan paket tersebutpun sudah terlebih dulu dirobek oleh Erlan. Berarti sangat rahasia bukan?

Gadis itu membulatkan mata menatap barang yang berada didalam kotak tersebut. Barang yang tidak dikenali. Dengan cepat ia menelpon seseorang yang mengirimi barang tersebut.

"Erlangga, lo ngirim apa?" tanyanya saat panggilan sudah tersebut.

Pria disebrang sana terkikik. "Gue kesana ya? Mama lo lagi ke mall bareng mama gue. Bisa berduaan kita." Setelah itu panggilan diputuskan oleh Erlangga. Nayla hanya mengedikkan bahu dan membiarkan dua jenis barang yang berbeda itu berada dikasurnya. Nayla lebih memilih untuk mencepol rambutnya asal lalu berdiam diri di balkon kamar.

Setengah jam menunggu Erlan, akhirnya pria itu datang juga. Nayla bersedekap dada sambil menatap seseorang dengan cengirannya berada didepan pintu kamarnya yang sudah terbuka.

"Rumah lo pindah ke Bandung ya?" tanya Nayla menyindir.

"Ck! Ya gue kan mandi dulu baru kesini. Wajar aja lama." Erlangga segera masuk sambil memperhatikan barang yang ada diatas ranjang Nayla itu.

"Kuy di coba," ucap Erlan membuat Nayla terheran. Gadis dengan daster itu duduk diranjang sambil memegangi salah satu kotak disana.

Lagi-lagi wajah Nayla cengo saat memperhatikan tulisan yang berada dikotak tersebut. "Erlan lo ngapain beli ini?" tanyanya sedikit menaikkan nada.

Erlangga menatap kotak yang berada ditangan Nayla. Ah itu koleksinya. "Gue cuma ngoleksi aja kok. Kalo mau nyoba sama lo kan bisa gue pake," ucap pria itu santai sambil merebut kondom yang masih berada didalam kotaknya dari tangan Nayla. Wajah gadis itu masih terheran.

Setelahnya, Nayla memperhatikan kotak yang kedua. Ia menelan ludah kasar, yang ini lebih meresahkan. Erlangga tersenyum nakal lalu mendekatkan wajahnya. "Besok pagi ikut gue ke Sekolah. Ini, dipake. Kalo gak tau caranya nanti gue ajarin," bisik Erlan pelan sambil menunjuk kotak yang Nayla pegang.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang