Harry's POV

Sialan kepalaku berdenyut-denyut sekarang. Apa yang salah denganku hari ini? Pulang dengan keadaan mabuk lalu tertidur sepanjang siang hingga gadis yang kusukai pergi bersama sepupu yang sangat tidak aku sukai.

Cairan mengerikan itu kembali keluar lewat mulutku. Sialan karena aku memuntahkan semua sarapan dan makan siangku.

"Fuck! Sekarang aku harus berjalan sendirian menuju kamar tanpa ada yang membantu?" Aku berusaha bangun dari tempatku ini. Mencoba berpegangan dengan closet namun aku malah terjatuh lagi. "Sialan! Sialan! Sialan!"

"Harry! Ya Tuhan!"

"Blue?"

Wajahnya yang jelita itu sungguh menghipnotis. Mata serta bibirnya, aku ingin memilikinya. Bisa menatapnya seharian atau menciumnya kapan saja, kurasa itu angan-angan yang bagus. Aku terkekeh dalam batin.

"Ya Tuhan, apa yang kau lakukan Harry? Seharusnya kau istirahat di kamar. Ayo aku bantu kau berdiri" Tangannya menggenggam lenganku sembari membantu berdiri. Setidaknya aku sekarang punya kekuatan untuk bangun dan berjalan ke kamar sialanku.

Langkahku gontai di lengannya, aroma tubuhnya dari jarak sedekat ini begitu memabukkan. Dia memang memabukkanku setiap waktu. Akankah ini terjadi selamanya?

"Kau harus beristirahat, Harry. Tubuhmu lemah dan demam. Akan kubuatku sesuatu untuk dimakan, oke?"

Aku menggeleng.

"Tidak. Tetaplah disini." Pintaku.

"Harry, kau baru saja memuntahkan semua makananmu. Kau harus makan sesuatu. Biar kuambil cemilan untukmu."

"Kumohon Blue. Yang aku butuhkan saat ini hanyalah kau duduk disini menungguiku."

Aku berhasil meyakinkannya kali ini. Ia duduk dipinggiran kasurku sedangkan aku berbaring didekatnya. Merasakan efeknya begitu besar untukku, kurasa aku jatuh lebih baik dari sebelumnya. Apa dia memiliki kekuatan ajaib? Atau dia baru saja menyihirku?

Ku genggam tangan kanan Blue dan meletakkanya di bibirku. Ekspresinya terkejut dan bingung, sama seperti pertama kali kami berciuman. Wajahnya yang kebingungan itulah yang aku suka. Begitu menggemaskan dan menyebalkan namun juga merindukan.

"Kumohon jangan." Tangannya hampir saja ditarik dari dekapanku.

"Oh Harry," Wajah bingungnya lagi. "apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang Ayahku akan katakan jika aku denganmu seperti ini?"

"Aku selalu merasa bersalah karena menghabiskan liburan musim panasku disini. Aku karena kau jadi seperti ini. Tentang Edward yang terkadang masih menghantuiku. Semuanya."

Sialan karena dia berkata Edward! Mengapa dia terus saja mengambil hakku disaat dia sudah tidak ada disini?!

"Aku menyukaimu, Blue." Kataku dengan singkat.

Normal POV

Sengatan listrik itu jauh lebih baik daripada sengatan yang dirasakan Blue saat ini. Andai saja, Harry itu Edward atau andai saja Harry bukan saudara tirinya. Akan jauh lebih baik jika Blue mencoba. Ia ingin memberi kesempatan itu untuk Harry.

"Harry aku--"

Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, dia menemukan Harry bangkit dari kasurnya dan mendaratkan ciuman dibibir Blue.

Hangat. Kasar. Penuh pengharapan. Entah apalagi sekarang.

Harry terus mengecup Blue yang diam tak membalas. Ia menciumnya dengan pelan, tak ada maksud untuk memaksanya. Beberapa kali Harry menarik bibir bawah Blue walau gadis itu tak merespon apapun.

The Triplets // harry stylesBaca cerita ini secara GRATIS!