10. IDAMAN

237K 7.9K 329
                                    

10. Idaman

Tim yang diketuai Erlangga sudah berhasil memasukkan bola basket berulang kali ke ring. Tim tersebut dinyatakan menang. Anggota Cheerleader yang dipimpin Nayla mulai bersorak memberikan yel-yel terbaiknya. Selalu SMA Cahaya mendapatkan penghargaan baik jika dalam permainan bola basket.

Erlangga menyugar rambutnya kebelakang. Pria dengan headband hitam sangat terlihat tampan. Keringat yang mengaliri pelipis pria itu semakin menambah kesan sexy. Sorakan ramai terdengar dari sekitar tribun yang terdapat para kaum hawa disana.

"Ada traktiran nggak nih?" tanya Alan kepada sang ketua.

Pria dengan jersey navy itu mengangguk. "Mau apa emang?" tanya Erlangga menatap Alan.

Devian mendekat kearah teman-temannya berkumpul. Pria itu menghentikan langkahnya kala gadis dengan pakaian cheer mendekat kearahnya. "Buat kamu," ucap Ziva. Dev tersenyum hangat lalu mengambil sebotol air dari tangan Ziva.

Alan mengangkat sudut bibirnya sebelah. "Giliran sama Ziva aja sehangat Bali. Coba sama kita, udah kek Malang dinginnya." Pria yang disindir itu mengembalikan raut wajahnya menjadi datar. Ya! Memang Ziva dan Mia--mamanya yang bisa membuat pria itu menjadi hangat. Selain mereka berdua, Devian akan menjadi pria dingin.

Diujung lapangan terlihat Rima dan Nayla yang menantikan Ziva yang hampir mendekatinya. Erlangga terus menatap gadis dengan pakaian cheer itu. Nayla tampak cantik apalagi dengan jepitan bunga yang ia berikan kemarin malam. Sangat pas dan cocok jika Nayla yang memakainya.

"Ini jugak, senyum-senyum sendiri."

Erlangga tersentak dan langsung menatap datar kearah Alan yang merusak haluan indahnya.

Nayla, Ziva dan Rima terlihat akan meninggalkan tribun. Erlangga masih memantau pergerakan salah satu dari mereka. Karna dari pergerakannya, Nayla nampak beda.

"Mau kemana?" tanya Alan saat melihat Erlan yang ikut berdiri dan ingin menyusul seseorang yang hampir meninggalkan tribun.

Erlangga tidak menyahut dan langsung mengejar seseorang. Pria itu semakin mempercepat langkahnya saat melihat Nayla yang memegangi kepalanya.

Kedatangannya sangat tepat. Erlangga langsung menangkap tubuh Nayla yang hampir terjatuh dilapangan. Gadis itu kehilangan kesadarannya. Ia ... pingsan.

"Nay, Nayla," panggil Erlan sampil menepuk pelan pipi gadis itu.

Ziva dan Rima ikut panik. Devian dan Alan mulai mendekat kearah Erlangga. "Kenapa sampek gini?" tanya Erlan menatap Ziva dan Rima.

"Em, tadi Nayla bilang dia belum makan pagi," ucap Rima setengah gugup.

Erlangga memejamkan mata. Padahal tadi pagi ia sudah berulang kali memaksa Nayla agar makan sedikit saja, namun gadis itu terus menolak dengan alasan akan makan di Sekolah saja.

Wajah gadis itu memucat. Tubuhnya melemah sangat lemah. Langsung saja Erlan mengangkat Nayla dan membawa gadis itu ke UKS, disusul Ziva dan Rima dibelakang.

Pria itu nampak panik. Membuka pintu UKS dengan kakinya lalu membaringkan tubuh Nayla di ranjang. Cepat-cepat Erlan mencari minyak kayu putih diruangan kesehatan itu. Ziva dan Rima ikut membantu mencarinya.

Erlangga mulai mengoleskan minyak tersebut dipelipis Nayla dan untuk memberi aroma dipenciuman gadis itu.

"By, lo sih nggak mau makan dulu tadi," ucap Erlan lirih.

Ziva dan Rima saling pandang. By? Telinga mereka tidak salah mendengar 'kan? Rima menyolek pundak Erlan. "Lo jadian sama Nayla?" tanyanya pelan.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang