8. PANAS

315K 9.5K 586
                                    

8. Panas

Kuy! Ramein dgn komen

...

Erlan menghalangi tangan Nayla yang akan mengambil segelas susu. Pria itu sudah tak yakin bisa menahannya jika Nayla meminum susu digelas sana terlebih bentukan gadis itu sekarang. Nayla hanya memakai kaos kebesaran tanpa memakai bawahan sama sekali. Payudara yang tercetak jelas membuat Erlan sudah tak bisa berfikir jernih.

"Jangan diminum," tegah Erlangga.

Nayla nampak heran dan masih berusaha mengambil segelas susu meskipun tangannya dicekal Erlangga.

"Mau susu," pinta Nayla memohon.

"Jangan by, gue nggak yakin bisa nahan lagi kalo lo minum nih susu," ucap Erlangga membuat Nayla terheran.

Gadis itu hanya berdecak lalu mengambil segelas susu didepannya dengan tangan yang sebelah lagi. Erlangga tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melongo menatap gadis yang menghabiskan segelas susu itu hingga tandas.

"Enak banget. Lo minum juga dong," suruh Nayla sambil mengambilkan gelas yang masih berisi susu. Memberikan ke Erlangga.

Okeh sudah menjadi resiko. Erlangga mengangguk lalu meminum susu tersebut hingga tersisa setengah.

Nayla kembali ke ranjang. Membaringkan tubuhnya lalu memainkan handphone. Erlangga mendiamkan dirinya dikursi terlebih dahulu. Mengamati pergerakan Nayla hingga beberapa menit. Gadis itu terlihat gelisah. Erlangga juga merasakannya.

Degup jantungnya berdebar cepat. Gadis itu merasakan hal aneh ditubuhnya. Suasana kamar terasa panas padahal sebelumnya ia merasa kedinginan. Nayla menatap pria yang hanya memakai celana sepaha itu kebingungan.

"El gue kepanesan," ucap Nayla tak tahan merasakan udara dikamar ini.

Erlangga bangkit lalu menyugar rambutnya kebelakang. Gadis itu mendelik menatap sesuatu yang menyembul didaerah selangkangan Erlan. Nayla memalingkan wajahnya kearah jendela kamar.

"AC kamar gue rusak by." Nayla menatap datar kearah Erlan. Huh kenapa bisa seperti ini.

Nayla membiarkan Erlangga berada disebelahnya. Gadis itu nampak panik dengan keadaan tubuhnya. Ia mengipasi diri dengan bajunya sendiri.

"Enghhh..."

Gadis itu tersentak kala Erlan memegang leher belakangnya. Kenapa se-sensitif ini. Biasanyapun ia tak seaneh ini. Nayla menatap lekat wajah Erlan yang sayup.

"Kenapa?" tanya Nayla. Erlangga hanya menggeleng. Tak baik jika menyuruh Nayla, nantipun dipastikan Nayla melepas bajunya sendiri tanpa disuruh.

Tanpa berbicara lagi, Nayla langsung saja melepas kaos kebesaran itu. Puting payudara gadis itu terlihat mencuat. Erlangga meneguk ludah melihat Nayla dari belakang. Nafas gadis itu terdengar berat. Naya membalikkan badan membuat Erlan menatap cengo dengan keadaan didepannya.

"Panes," ucap Nayla kesal.

Gadis itu mendekat kearah Erlan yang masih kuat-kuat menahan nafsunya. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Nayla. Bahkan miliknya yang dibawah sana sudah tersiksa. Erlangga memang sengaja mencampuri obat perangsang diminuman mereka tadi. Hal itu membuatnya kini merasakan hal yang aneh. Terlebih, Erlangga mencampuri lebih banyak diminumannya. Pria itu terlihat sedikit kesal juga.

"Lo campurin apa minuman gue?" tanya Nayla sedikit terkikik. Nyatanya, sehabis meminum susu tadi ia mulai merasakan semua hal aneh ini.

Nayla mendekat kearah Erlangga. Mendorong tubuh pria itu hingga terbaring diranjang. Nayla menjatuhnya tubuhnya diatas dada bidang pria itu. Ia memeluk Erlangga membuat payudaranya bergesekan langsung dengan kulit Erlan. Nayla mendesis, rasanya nikmat jika putingnya bergesekan langsung. Gadis itu semakin menekan tubuhnya membuat Erlan mengeram.

"Enghh Nay jangan kek gini, gue gak tahan."

Menjauhkan tubuhnya dengan Erlan. Naya menatap lekat pria dibawahnya. "Tapi lo mau kan?"

Karna sudah tak tahan lagi, Erlangga langsung mengubah posisi membiarkan Nayla yang berada dibawahnya. Erlangga mengisap puting payudara yang mencuat itu membuat tubuh Nayla menggelinjang. Tangannya meremas rambut Erlan seperti meminta lebih.

"Ahh...terushh..El..hh.."

Sebelah tangan Erlan terulur kebawah untuk melepas celana dalam milik Nayla. Gadis itu sedikit mengangkat tubuhnya memudahkan kegiatan Erlangga dibawah sana. Tangan Erlan mengelus sensual vagina gadis itu.

"Shhh..."

Cepat-cepat Erlan bangkit untuk melepas celana dan dalamannya. Penisnya benar-benar mengeras dan sudah siap untuk memasuki milik Nayla.

"Ahh..punya lo gede Erlan." Ujung penis itu bergesekan dengan klitoris Nayla.

Setelahnya Nayla menangis. Dirinya juga ikut tersiksa. Sentuhan dari Erlangga memberinya nikmat tapi ia tak ingin melakukan semua ini terlebih ia dan Erlangga belum menikah.

"Jangan dimasukin plishh..."

Erlangga memaksakan penisnya untuk menerobos milik gadis itu. Sangat susah dan sempit, ia berusaha mendorong sekuat tenaga. Nayla merapatkan pahanya.

"Ahhh...jangan El...hiks..engh..."

Wajah Erlan seperti memohon menatap Nayla sedangkan gadis itu sudah menangis tak ingin melakukannya. "Nanggung by, gue gak kuat nahan," ucap Erlangga pelan.

"Kalo gue hamil gimana?"

"Gue keluarin diluar."

Erlangga kembali mengukung tubuh Nayla. Gadis itu masih saja sesenggukan menahan tangisnya. "Tahan ya? Gue masukin."

Gadis itu mengalungkan tangannya dileher Erlan. Nayla hanya bisa memperhatikan rambut pria itu karena Erlangga menatap kebawah sana sambil berusaha memasukkan penisnya divagina gadis itu.

"Shh...pelan-pelan El, gue takut."

Nayla menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Merasakan penis Erlan yang berusaha memasuki miliknya. "Hikss...nggak muat, Erlan nggak usah."

Sekali hentakan, penis tersebut berhasil memasuki vagina Nayla. Tubuh cewek itu tersentak. Kepalanya mendongak merasakan sakit pada miliknya. Vaginanya seperti dirobek paksa oleh milik Erlan.

"AHHH...ERLANGGA SAKIT!"

"Arghh...Nay tahan enghh..."

Pria itu mengeram tertahan. Penisnya seperti dijepit kuat oleh vagina cewek itu. Ia berusaha menenangkan diri agar tak memperlakukan Nayla dengan kasar. Erlangga menatap wajah cewek yang kesakitan dibawahnya. Sesuatu terasa mengalir dibawah sana. Erlan mendapati darah disprei kasurnya.

"Ahhh...El perih..hh...punya gue perih hikss...plishh keluarin."

Bukannya mengeluarkan miliknya, malahan Erlangga memaksa penisnya untuk masuk sepenuhnya ke milik cewek itu. Tangan Nayla beralih untuk mencengkram sprei sekuatnya.

"Akhh...ahh...Erlan jangan dimasukin trushh...hhh..sakit El."

Erlangga memejamkan mata merasakan semua ini. Pria itu memeluk tubuh Nayla. Meletakkan kepalanya diceruk leher cewek itu. "Hhh...tahan bentar. Nanti enak kok, percaya sama gue."

Pria itu mendiamkannya cukup lama hingga merasakan Nayla yang sedikit menggerakkan pinggulnya sendiri membuat cewek itu mendesis. "Awshh...kok masih perih sih!"

Erlan terkikik menatap wajah Nayla yang menahan sakit namun dibalik wajahnya, cewek itu seperti mencari kenikmatan apa yang diucapkan Erlangga tadi.

"El ngeganjel."

Nayla mengcengkram tangan Erlan yang berada disisi tubuhnya. Cewek itu mendongak mengamati wajah Erlangga yang memejamkan mata itu. Setelahnya Erlan menyentak miliknya membuat Nayla sedikit melengkungkan tubuhnya.

"Engh...perih El."

...

Nexttt???

Kalo ada yg typo
Komen aja

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang