Bagian 8

6.1K 330 11

Vina's POV

Aku membanting cangkir hingga pecah dan membuat kopi yang belum kuminum sedikitpun itu mengotori dinding dan lantai ruang tamu. Asisten rumah tangga yang berdiri disampingku tak berani bergerak, aku tahu dia sangat kaget dengan ulahku barusan. Membuatkanku kopi tapi langsung ku banting begitu saja cangkirnya.

" Pergilah bi... " Ujarku pada asisten rumah tangga yang bernama Sarmi itu.

Bi Sarmi berlalu, dia akan membereskan kekacauan kecil yang kubuat ini setelah aku tidur nanti. Hal yang biasa dilakukannya saat aku sedang kesal atau marah. Saat seperti ini aku sedang tidak mau diganggu siapapun.

Aku kesal bukan pada bi Sarmi. Tapi karna kejadian saat aku mengantar Ara tadi. Sial..! Setelah sekian lama kenapa aku harus bertemu salah satu diantara mereka?

" Edo... " Bisikku

Kujambak rambutku frustasi

" Brengsek!! " Teriakku.

Ku hempaskan tubuhku disofa, isi kepalaku dipenuhi bayang-bayang masa lalu....

#####

Flashback (10th lalu)

" Kak... Dipanggil papa! " Teriak Edo diluar sana sambil mengetuk pintu kamarku.

Aku yang sedang asyik melihat-lihat lekuk tubuh para model sexy berbikini dalam majalah yang sedang kupegang menjadi terganggu oleh teriakan Adikku itu.
Aku mengerang kesal lalu meletakkan kembali majalah dewasa itu ke nakas samping tempat tidur.

Kubuka pintu kamarku, ternyata Edo masih berdiri ditempatnya. Tampangnya menunjukkan kekhawatiran

" Masih disini lo? Gangguin orang aja! " Ujarku kesal padanya

" Bukan gue kak..tapi papa.! " Jawabnya masih dengan ekspresi yang menurutku aneh itu.

" Kenapa muka lo? " Tanyaku heran.

Edo tak segera menjawab,membuatku dongkol sendiri lalu berjalan hendak meninggalkannya. Ia lalu  mengikutiku, aku berbalik....

" Ngapain ngikutin gue? " Gertakku

" Ini masalah serius kak, papa nunggu lo diruang tengah. Mama juga ada. " Jawabnya serius,aku yang tak peduli hanya mendengus lalu melanjutkan jalanku.

Tiap hari orang tua itu bisanya cuma membentakku, bahkan kasar padaku.

" Kak...kali ini lo ketauan lagi. Papa tadi habis dari rumah Sofi... " Sontak kata-kata Edo menghentikan langkahku.

Sofi adalah pacarku.

" Sial.!! " Geramku lalu mempercepat langkahku menjadi sedikit berlari.

Karna tak fokus aku hampir saja terjungkal saat menuruni tangga, untung Edo langsung bereaksi.

" Lepasin.! " Kusingkirkan dengan kasar tangan Edo yang memegangi pundakku.

Setelah sampai, kulihat papa berdiri menghadap jendela kaca dan memandang jauh keluar, sedangkan ibu duduk disofa. Terlihat matanya sembab seperti habis menangis. Bau "peperangan" sudah tercium olehku.

Aku tak berani mendekati mereka, sungguh...aku tidak suka keadaan seperti ini.

Semua masih terdiam, seperti enggan mengeluarkan sepatah katapun. Membuatku semakin tak nyaman dan menebak-nebak apa yang akan terjadi

Lalu....

" Sudah kuduga. Kamu memang nggak berguna... Berapa kali diberi peringatan tetap saja kamu nggak akan pernah mengerti. Benar-benar membuatku muak " Papa mulai bersuara. Pelan namun penuh penekanan.

So Possessive (gxg)Baca cerita ini secara GRATIS!