🌙ㅣ38. Menghilang!

56.3K 8.8K 652
                                    

''Keberanian itu dicari, bukan dinanti''

"Dari mana sih?!"

Rembulan terlonjak, jika saja punggungnya tidak ditahan oleh orang di belakangnya, mungkin saja ia sudah terjatuh di ubin di depan kelas. Alvaro tiba-tiba saja muncul di hadapan Rembulan membuat Rembulan mengerem mendadak. Untung saja wajah tampan Alvaro yang muncul, bukan wajah penuh darah yang hancur. Rembulan bersyukur untuk itu.

"BULAAAAAAN!! DARI MANA SIIHHH?!!!" kini giliran Alvano, lelaki itu berlari dari arah depan Rembulan dan berteriak kencang seolah-olah tidak peduli ia berada di mana.

"Kalau mau ke mana-mana, bilang dulu Bulan. Biar kita gak nyariin," ucap Alzero yang berada di belakang Rembulan. Ia yang menahan Rembulan agar tidak terjatuh.

"Oh itu ...." Rembulan menggaruk pipinya yang mendadak gatal. Ia tidak menyangka jika ketiga saudaranya itu malah panik seperti ini. Padahal Rembulan terpisah dari mereka baru lima menit, belum berjam-jam. "Bulan dari gudang," jawab Rembulan.

"Ngapain?" Alzero menaikkan satu alisnya. "Lo dibuli lagi sama nenek sihi—"

"Enggak, bukan gitu bang." Rembulan langsung memotongnya. "Kak Syaila gak pernah buli Bulan lagi, udah lama dia gak kelihatan. Bulan cuman nyari temen Bulan di sana, tapi gak ada."

Rembulan berkata jujur. Dirinya memang pergi ke gudang untuk menemui Bela dan teman-temannya yang lain, Rembulan hanya ingin menjelaskan mengenai keluarganya dan juga mengenai keadaan Rembulan sekarang. Ia tidak ingin teman-temannya salah paham dan menganggap Rembulan mengkhianati mereka.

Apalagi Jio, lelaki itu pernah mengatakan bahwa ia benci dengan orang-orang kaya. Rembulan ingin mengubah pikirannya, dan berniat mengenalkan mereka pada saudara-saudara Rembulan agar bisa mematahkan anggapan mereka pada orang-orang yang berstatus tinggi.

Namun sayang sekali, Rembulan tidak bisa menemukan mereka di mana pun. Tadinya Rembulan ingin mengecek ke kelas mereka masing-masing, jika saja ketiga saudaranya tidak menahannya.

"Temen yang mana?" Alvano mengerutkan kening. Selama ini ia belum pernah melihat Rembulan bekumpul dengan orang lain, Alvano juga jarang melihat Rembulan mengobrol dengan teman-temannya di kelas. "Jangan bohong."

"Bulan gak bohong." Rembulan mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan wajah. "Bulan mau kenalin mereka sama kalian, tapi mereka gak ada. Bulan belum nemuin mereka."

"Tapi lo belum makan." Alvaro menunjukkan kotak bekalnya dan kotak bekal milik Rembulan. "Makan dulu, baru nyari. Nanti sakit," ucapnya masih dengan ekspresi datar seperti biasa. Dengan segera, Alvaro menarik Rembulan menjauh dari kelas, menuju tempat aman agar mereka bisa menikmati makanan.

"KITA GAK DIAJAK?!" Alzero dan Alvano berteriak kompak, membuat seluruh perhatian tertuju pada mereka berdua.

Alvaro menghentikan langkahnya sejenak, setengah badannya berputar menatap kedua saudaranya. "Jangan, jadi nyamuk nanti," ucapnya enteng dan kembali menarik Rembulan agar mengikutinya.

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang