🌙ㅣ35. Permintaan Si Kecil

52.9K 9K 1.1K
                                    

''Hal sekecil apapun, jika berarti, kita pasti akan terus mengingatnya''

''Hal sekecil apapun, jika berarti, kita pasti akan terus mengingatnya''

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Alvaro menatap datar sendok yang terulur ke hadapannya. Sedangkan si pelaku yang mengulurkan sendok itu tersenyum pada Alvaro, dan berharap lelaki itu membuka mulut untuk menerima suapannya.

"Varo bukan anak kecil, Pa." Alvaro mengelak, ia mendorong tangan Anggara agar menjauh.

"Lho? Dulu kamu pernah bilang, kamu mau disuapin papa sampai umur dua puluh tahun. Itu permintaan kamu waktu kecil, Varo. Masa lupa sih?" tanya Anggara sambil terus menyodorkan sendok dengan sepotong puding di atasnya.

"AHAHAHAHA BISA GITU BANG?!" Alvano tertawa keras. "Masa sih lo mau disuapin sampe segede gitu?"

"Cieeee ada yang maluu, cieeee." Alzero mencolek-colek pipi Alvaro di sebelahnya, menggoda adiknya yang tampak kesal setengah mati.

Alvaro menghela napas, tatapannya mengarah pada sendok yang terus Anggara julurkan, detik berikutnya mulutnya terbuka, melahap puding rasa coklat yang dibuat Laila tadi pagi.

Sudah seminggu Alvaro dan Alderion kembali ke rumah, sekarang mereka sedang menikmati hari libur dengan piknik ke taman yang biasa mereka kunjungi dulu. Mereka juga memilih tempat yang sama, tidak berubah dari pertama mereka ke sini.

Selama seminggu itu pula, Alvaro melihat banyak sekali perubahan pada papanya. Dari mulai membangunkan anak-anaknya setiap pagi, mengobrol santai di lantai tiga tempat kelima anaknya berkumpul setiap waktu luang, dan juga banyak hal yang tidak pernah Anggara lakukan kini dilakukan pria paruh baya itu.

Entah harus senang atau bagaimana, Alvaro sendiri bingung menanggapinya. Di lain sisi, perasaannya tenang dan bahagia melihat itu semua, tapi di sisi lain masih ada keraguan dari Alvaro untuk Anggara. Sepertinya, Alvaro belum menerima perubahan Anggara sepenuhnya, karena di sini, Alvaro yang mendapat luka paling banyak.

"Kak?"

Alvaro menoleh saat seseorang memanggilnya dari samping kiri, yang pertama kali ia lihat adalah mata bulat yang menatapnya penuh harap. Jika di komik, Alvaro sudah pasti menemukan bintang-bintang kecil dalam manik itu.

"Hm?" Alvaro menyahut singkat, kemudian mengarahkan matanya ke depan, melihat pemandangan taman yang tampaknya sudah berubah dari ingatan terakhir Alvaro.

"Kakak seneng, gak?" bisik Rembulan membuat Alvaro mengerutkan kening. "Papa perhatian, ya? Dia inget permintaan kakak waktu kecil. Kakak seneng 'kan?"

Decakan malas langsung keluar dari mulut Alvaro, kedua alisnya juga terangkat saat menatap Rembulan. "Biasa aja tuh."

"Masa sih?" tanya Rembulan penasaran. Bukankah Alvaro senang? Seharusnya begitu, Anggara mengingat permintaan Alvaro sejak kecil, tidak mungkin Alvaro tidak senang dengan hal ini. "Kakak masih ragu, ya?"

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang