🌙ㅣ34. Malaikat?

51.7K 8.9K 517
                                    

''Penyelamat bisa datang kapan saja''

"Bulan?" Alderion berbalik, menatap Rembulan yang sudah menangis, kedua pipinya bahkan basah akibat air matanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bulan?" Alderion berbalik, menatap Rembulan yang sudah menangis, kedua pipinya bahkan basah akibat air matanya.

"Kak Rion kenapa?" Rembulan menatap Alderion dengan tatapan sedih. "Bulan gak kenal sama kak Rion yang ini."

Alderion menggigit bibir bawahnya pelan, tatapannya terus tertuju pada gadis yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Entah mengapa, Alderion langsung menghampirinya seolah-olah magnet dalam diri Rembulan mampu menarik Alderion kuat-kuat. Dan Alderion tidak mampu mengelak.

"Sekarang, siapa yang egois, Kak?" Rembulan mengangkat pandangannya pada Alderion. "Siapa yang egois? Padahal kakak tau yang benar apa, tapi kenapa kakak diem?"

Helaan napas pelan keluar dari mulut Alderion, mata besar dan berkilaunya itu menatap sejenak pada Anggara yang berdiri di ambang pintu, kemudian ia menatap Alvaro yang balas menatapnya datar. Namun, sekarang pandangan Alderion tertuju sepenuhnya pada Rembulan, karena gadis itu menangkup kedua pipinya dan mengarahkannya agar mereka berdua bertatapan.

"Kak Rion pasti tau, apa ucapan papa tadi bohong atau bukan. Kak Rion pasti tau 'kan? Kenapa kakak tetep diem?"

"Bulan—"

"Permintaan maaf memang gak cukup buat nebus kesalahan sebesar ini. Tapi seenggaknya, Kakak mau kasih papa kepercayaan 'kan? Kakak mau kasih dia dukungan buat perbaikin semuanya 'kan?" Kedua tangan Rembulan kini beralih mencekal kedua lengan Alderion. "Bulan tau posisi kakak serba salah. Selain harus jadi anak pertama yang tanggung jawab sama adiknya, Kakak juga harus jadi anak pertama yang dukung dan bantu orang tuanya. Beban kakak pasti berat. Bulan mau kakak berbagi, jangan dibiarin sendiri kayak gini. Kakak masih punya papa, Kakak masih punya bang Zero, bahkan kakak punya mama. Kakak gak sendirian."

"Bagi semuanya kak. Kasih kepercayaan kakak sama papa buat ringanin beban kakak sekecil apapun itu."

Tangan Alderion bergerak pelan, membalas genggaman Rembulan seiringan dengan kepalanya yang menunduk. Alderion tidak tahu harus berkata apa karena semua yang Rembulan katakan memang benar. Ia bingung, takut, dan juga lelah.

Selama ini, Alderion yang mempertahankan hubungan keluarganya agar tetap terjaga. Ia yang berusaha mati-matian agar adik-adiknya dan Anggara tetap memiliki hubungan baik walaupun jarang berkumpul atau bertemu. Mungkin sekarang, Alderion sudah terlalu lelah mengurusnya. Ia ingin keluar dari sesuatu yang tidak akan berubah itu, ia keluar dan ingin membebaskan perasaannya sejenak. Tidak memikirkan bagaimana caranya agar Anggara mau menelepon adik-adiknya, dan tidak berpikir keras bagaimana agar adik-adiknya tidak menjaga jarak dengan Anggara.

Alderion sudah lelah. Beban yang mendarat di pundaknya terus bertambah bukan berkurang.

Dan sepertinya, penyebabnya karena Alderion memaksakan kepercayaannya sendiri dan tidak berbagi pada siapapun itu.

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang