🌙ㅣ33. Ayo, Kembali!

50.4K 8.5K 296
                                    

''Sesuatu itu ada batasannya''

Suara bel yang ditekan berulang-ulang membuat tatapan tajam Alvaro pada Alderion terhentikan, lelaki itu menyimpan gelas yang ia pegang di meja lalu menatap Alderion penuh tanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suara bel yang ditekan berulang-ulang membuat tatapan tajam Alvaro pada Alderion terhentikan, lelaki itu menyimpan gelas yang ia pegang di meja lalu menatap Alderion penuh tanya.

"Temen abang?"

Alderion terdiam sejenak, mengingat-ngingat apakah ia pernah mengajak teman kampusnya ke apartemen atau tidak. Tapi seingatnya, ia tidak pernah mengajak siapapun. Jadinya ia menggeleng sebagai balasan.

"Coba bukain, Var. Siapa tau tamu buat kamu."

Perasaan gue gak enak. Alvaro membatin, eskpresi datarnya menatap pintu tanpa minat, kemudian ia menghela napas. "Abang aja."

"Abang nyuruh kamu, Var."

"Gak."

"Varooo."

"Gak."

"Ya udah mulai besok kamu masuk sekol—"

"Iya, Varo bukain!" dengan sangat-sangat terpaksa dan gerakan lunglai, Alvaro beranjak dari kursi menuju pintu. Ia mengacak rambutnya sekilas, pusing sendiri mendengar bel yang terus ditekan. Apa orang itu tidak sabaran?!

Ceklek.

Alvaro membuka pintu agak kasar, penglihatannya menangkap sepatu hitam mengkilat berdampingan dengan sapatu berwarna biru tua. Kemudian, diikuti sepatu-sepatu lain di belakang.

Bukan hanya sepatu sih, tapi kakinya juga ada.

Kening Alvaro mengerut dalam, kepalanya perlahan terangkat untuk melihat siapa yang datang, dan detik berikutnya, Alvaro menyesal kenapa harus menuruti Alderion untuk membuka pintu.

"Var—"

Alvaro segera menutup pintu, namun sialnya seseorang di luar sana lebih dulu menahannya membuat Alvaro tidak bisa berkutik. Ia bisa melihat lengan seseorang masuk, menahan agar Alvaro tidak terus mendorong pintu agar tertutup, sampai akhirnya aksi itu terhenti karena Alvaro menyerah.

"Siapa, Va—" mata Alderion membulat melihat siapa yang datang. Dengan gerakan cepat ia berbalik memunggungi mereka. "Di sini gak ada siapa-siapa!!" ucapnya panik.

"Konyol, Bang. Konyol!" Alvano menyahut dari luar, tangannya yang menahan pintu agak sedikit pegal. Ia dan papanya memang sudah berhasil. Abang-abangnya memang ada di sini!

"Alderion, Alvaro." Anggara memanggil. Nadanya lembut, mengalun perlahan sampai-sampai membuat Alvaro terdiam mematung. Suara Anggara jauh lebih berbeda dari sebelumnya. Jika biasanya Anggara menyelipkan nada terpaksa jika menyebutkan nama Alvaro, tetapi kali ini tidak sama sekali.

Alderion terdiam di tempat, ia masih memunggungi keluarganya dengan jantung yang terasa akan merosot menyatu dengan ususnya. Alderion sangat terkejut. Ia tidak mengira papanya akan datang seperti ini. Apa yang membuat Anggara menjemputnya? Kenapa bisa? Padahal Alderion yakin, Anggara tidak akan sadar dengan perbuatannya sebelum Anggara merasakan kembali apa itu arti kehilangan. Alderion sudah mengenal watak papanya. Tapi kali ini, kenapa berbeda?

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang