🌙ㅣ32. Perubahan

47.5K 8.2K 434
                                    

''Ada perubahan yang bisa diterima, namun ada pula yang tidak''

''Ada perubahan yang bisa diterima, namun ada pula yang tidak''

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Pagi!!"

"Bangun yo, anak-anak papa!!"

"Bangun para bujang!! Cepet, nanti Papa tinggal!!"

"Lima menit lagi, Pa." Alzero membalas, sementara tangannya menarik selimut hingga mencapai leher. Alarmnya masih belum berbunyi, untuk apa Alzero bangun? Lebih baik ia memejamkan matanya lagi, melanjutkan mimpi.

"Gak, ayo cepet bangun. Sekarang."

"Sepuluh menit lagi, Pa," jawab Alvano yang langsung menyembunyikan kepalanya pada bantal.

"Sekarang. Ayo cepet bangun! Papa tunggu lima detik! Bulan, kamu juga bangun. Ayo siap-siap!"

"Eung ... t-tapi paaa ..." Rembulan melirik kiri dan kanannya, lalu menghela napas. "Bulan gak bisa bangun, bang Zero sama bang Vano megang tangan Bulan."

Anggara, lelaki yang semalaman menyesali perbuatannya itu terkekeh melihat Rembulan menatapnya dengan tatapan memelas. Gadis itu sudah jelas kesulitan karena kedua abangnya mengimpitnya. Rembulan seperti guling yang diperebutkan dua anak.

"Zero, Vano, bangun sekarang. Kalian gak mau ketemu sodara kalian lagi nih?" tanya Anggara dengan kedua tangannya terlipat di depan dada. Sontak, suara gaduh terdengar tepat saat kening Alvano menghantam lantai dengan kencang.

"LO KOK NENDANG GUE, BANG NOLL?!" teriak Alvano tak terima. Ia sangat yakin, Alzero yang menendang keningnya dan membuatnya terjatuh. Kasihan sekali keningnya yang mulus, harus tertimpa nasib sial dua kali.

Alzero tidak menjawab, lelaki itu terduduk diam di kasur dengan mata mengedip-ngedip bingung. Sepertinya ada yang salah dengan kalimat papanya barusan.

"Gimana, Pa?" tanya Alzero dengan tatapan menyelidik pada Anggara, lalu di detik berikutnya, ia kembali terdiam dan membekap mulutnya. "SEJAK KAPAN PAPA BANGUNIN ZEROO?!!"

"Haa?" Alvano loading.

"SEJAK KAPAN PAPA MAU BANGUNIN KITAA?!" teriak Alzero lagi.

"Bang, lo kalem dikit ngapa?" tanya Alvano lalu menggelengkan kepalanya seperti ibu rumah tangga yang pusing mengurus urusan dapur. "Papa 'kan cuman bangunin—SEJAK KAPAN PAPA MAU BANGUNIN KITA, BANG?!!"

Dua bantal langsung mengenai wajah adik dan kakak itu. Anggara memijat pangkal hidungnya sejenak. Agak pusing dengan kelakuan anaknya sendiri. Tapi, asik juga.

"Ayo cepet mandi, Papa mau jemput anak papa. Kalian ikut gak?" tanya Anggara lagi menyudahi lamunan tiga anaknya yang masih terdiam di tempat tidur.

Anggara bisa melihat dengan jelas kebingungan dalam raut wajah Alzero dan Alvano. Kecuali Rembulan yang menampilkan senyuman manisnya di pagi hari seperti ini. Yah, lagi pula Rembulan sudah tahu hal ini akan terjadi sekarang. Jadinya Anggara mengacak rambut Rembulan.

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang