🌙ㅣ30. Seburuk Apa?

47.9K 7.9K 528
                                    

''Pikiran orang-orang tak akan pernah sama dengan apa yang kita harapkan''

''Pikiran orang-orang tak akan pernah sama dengan apa yang kita harapkan''

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kita mau di sini sampai kapan, Bang?"

Ketikan jari Alderion pada keyboard laptopnya terhenti mendengar suara Alvaro. Kepalanya menoleh, detik berikutnya kembali ke layar laptop di depan matanya.

"Abang gak tau. Maaf Varo, tapi abang—"

"Varo tau, Abang kecewa 'kan sama Papa?" Alvaro yang sedang duduk di sofa itu kembali bertanya. Majalah di pangkuannya ia simpan di meja, perhatiannya kini teralih pada Alderion sepenuhnya. "Tapi bang, kalau abang kayak gini karena Varo, Varo rasa gak perlu."

Alderion menghela napas, badannya kini berbalik menghadap adiknya. "Iya, Abang kecewa sama papa. Abang masih gak nyangka papa masih berpikiran kayak anak kecil gitu. Urusan abang kayak gini karena kamu, itu emang bener. Abang gak terima kamu disalahin terus, padahal bukan kamu aja yang salah di sini. Kita semua salah. Bunda juga salah."

"Bang—"

"Papa salah, dia nyalahin bunda terus-terusan dan nekan bunda. Bunda salah karena gak bisa ngendaliin emosinya dan main pergi. Abang salah karena masih belum bisa apa-apa. Zero salah karena dia terlalu plin-plan, kamu salah karena gak berusaha ngertiin kondisi. Vano juga salah karena gak bisa jaga hubungan saudara." Alderion tersenyum tipis. "Intinya di sini kita semua salah."

Alderion mengarahkan pandangannya pada Alvaro yang juga memandangnya seperti biasa. Tatapan dingin milik Alvaro. Sepertinya adiknya satu ini memang terbiasa mengeluarkan tatapan seperti itu, untungnya Alderion sudah terbiasa.

"Tapi ... apa papa gak berusaha nyari kita, ya? Padahal kita tinggal di apartemen gak jauh dari rumah."

Mendengar pertanyaan itu, jantung Alderion terasa tertusuk sesuatu yang tajam. Bibirnya mendadak gemetar, namun ia tahan dengan cara menggigitnya, dan mengeluarkan senyuman khasnya.

"Apa papa emang sebenci itu sama Varo, Bang?"

"Bukan gitu."

"Atau emang papa udah gak nganggap Varo, Bang?"

"Enggak, enggak gitu."

"Dia masih nyalahin Varo, dia tetep anggap Varo pembunuh, Bang?"

"B-bukan."

"A-apa seharusnya Varo g-gak lahir, Bang?"

Pandangan Alderion terangkat, pupilnya melebar saat melihat Alvaro tertunduk dengan mata yang sudah basah, kedua pundak adiknya itu bergetar membuat Alderion mematung di tempat.

Alderion, baru melihat pemandangan ini.

"V-Varo s-seburuk a-apa di mata p-papa?"

Alvaro menangis. Lelaki bengis dengan tatapan membunuh itu menangis di hadapan kakak pertamanya. Lelaki yang dikenal tahan banting, bandel, dan bisanya hanya membangkang kini harus tertunduk bagaikan anak kecil. Ia mengeluarkan perasaan yang sebenarnya, tepat di hadapan Alderion.

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang