5. NENEN

355K 11.2K 1.2K
                                    

5. Nenen

"Gede juga tete lo. Gue remes ya?"

Nayla mengangguk ragu. Setelahnya sebelah tangan Erlan terulur untuk memberikan remasan lembut pada payudara gadis itu membuat Nayla mendesah. Sangking gemasnya, Erlan langsung meremas payudara itu sekuatnya.

"Ahhh..Erlan sakit. Jangan kuat-kuat ngeremesnya."

Gadis itu memicingkan mata menatap Erlan. Pria yang bersalah hanya bisa tersenyum santai.

"Tadi tante Sella nyuruh gue buat nemenin lo."

Nayla mengangguk karena sudah tau kalau mamanya akan pergi kearisan dan papanya yang masih bekerja.

"Shhh...Erlan geli engh..."

Pria itu membasahi nipple Nayla dengan ujung lidahnya. Nayla mendongakkan kepala dengan tangannya yang langsung meremas rambut Erlangga.

Plop

Erlangga menghisap payudara itu seperti bayi yang sedang menyusu kepada ibunya. Tangan Nayla masih asik menjambak pelan rambut pria itu. Tubuhnya terasa aneh saat ini.

"Kenapa?" tanya Nayla saat Erlan menjauh dari payudaranya.

"Hambar tapi gemoy ih." Lagi-lagi pria itu meremas sebelah payudara Nayla membuat cewek itu mendesis.

Sebelah tangan Erlan turun kebawah untuk menyingkap rok yang dipakai gadis itu. Nayla tersontak, ia berusaha merapatkan pahanya namun pergerakan Erlan yang lebih kuat bisa mengunci pergerakan gadis itu.

Erlangga menyatukan kedua tangan Nayla lalu meletakkan diatas kepala gadis itu. "Erlangga lepasin," mohon Nayla.

Pria itu menggeleng lalu melumat bibir Nayla secara kasar. Setelahnya tangan pria itu terulur ke bawah untuk mengelus milik Nayla yang masih terbungkus celana dalam.

"Shh..El jangan engh..."

Nayla selalu merasakan hal aneh saat Erlangga menyentuh sesuatu yang sensitif dari tubuhnya.

"Tembem, gue suka," ucap Erlan sambil memainkan jarinya didaerah sensitif milik Nayla. Dengan sekuat tenaga, Erlangga langsung merobek penutup gadis itu membuat Nayla semakin takut sekarang.

"El jangan aneh-aneh deh!"

Tangan pria itu menyentuh milik Nayla secara langsung. Jarinya menggesek klitoris Nayla membuat tubuh gadis itu gemetar menahan sesuatu.

"Ahhh...Erlan geli ouhh...udah El jangan mainin itu gue."

"Geli atau nikmat?" tanya Erlan nakal dan semakin mempercepat gesekan pada klitoris gadis itu. Mencubit hingga memilinnya membuat Nayla memekik tertahan.

"Ahhh gue mau pipis. Erlan stop enghh..."

Tubuh Nayla menegang. Kaki gadis itu masih gemetar saat cairan tak henti-henti mengaliri miliknya. Erlangga tersenyum nakal lalu menjilat jarinya yang basah akibat cairan nikmat dari Nayla.

"Hahh gue capek," ucap gadis itu ngos-ngosan.

Erlangga mendekatkan wajahnya dengan wajah Nayla. Gadis itu memejamkan mata. Merasakan nafas aroma mint yang menerpa wajahnya. "Belum juga dimasukin. Udah capek aja," ucap Erlan dengan suara yang berat.

Pintu diketuk seseorang. Dengan sekuat tenaga Nayla memaksakan dirinya untuk terlepas dari Erlangga. Meskipun tenaganya akan tetap terbilang lemah. Namun pria itu hanya tersenyum nakal tanpa mau melepaskan Nayla saat ini.

"Kenapa tante?" tanya Erlangga tak berpindah posisi sedikitpun. Cari mati memang.

"Naylanya mana?" tanya Sella.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang