4. PERIHAL ...

249K 10.9K 696
                                    

4. Perihal ...

Kebanyakan typo nyebut bapaknya😭 dahlah. Kebiasaan ngetik Alvan.

...

Erlangga beserta keluarganya sudah berada dirumah Nayla. Memenuhi undangan dari Sella pagi tadi. Pria dengan hoodie hitam itu tak bisa menahan senyumnya lagi. Memperhatikan gadis yang fokus dengan makan malamnya.

"Sebenernya, ada hal penting yang om mau omongin ke kamu."

Tatapan Erlangga teralihkan kepada Dafa. Mereka sudah menyelesaikan makan malamnya terkecuali Nayla yang makan dengan cara menyicil. Sedikit demi sedikit lama-lama juga habis.

"Nayla masih lama makannya sayang?" tanya Sella.

Nayla hanya menundukkan kepala sambil mengangguk. Semakin memperlambat cara makannya membuat Erlangga berdehem.

"Mau bicarain apa om?" tanya Erlan.

Alvan, Naya dan Sella yang sudah tau apa yang akan dibicarakan hanya terdiam memperhatikan. Alya sama halnya dengan Nayla. Gadis kecil itu tengah asik memakan cemilan dengan varian rasa.

"Erlangga, Nayla. Sebelumnya maaf karena seluruh keputusan yang ada pada malam ini sudah disetujukan oleh kedua orang tua. Saya dan orang tua kamu sudah membicarakannya sejak lama. Kami setuju, kalian kami jodohkan."

Uhukkk

Pranggg

Setelah tersedak makanan, Nayla tak sengaja menjatuhkan sendok yang berada ditangannya. Sella cepat-cepat menyodorkan segelas air kepada anaknya itu. Wajah Nayla memerah setelah menghabiskan segelas air.

"Apaan perjodohan! Nggak nggak Nayla nggak mau. Nayla nggak setuju!"

Beda halnya dengan pria yang dipasangkan dengan gadis itu. Erlangga sudah tak bisa menahan kesenangannya lagi. Pria itu langsung saja mengeluarkan suaranya.

"Tapi gue mau," ucap Erlan membuat Nayla mengeram kesal lalu pergi dari sana.

Gadis itu menaiki tangga lalu segera kekamarnya. Dafa menatap Erlan seperti isyarat untuk menyuruh pria itu mencari keberadaan Nayla. Erlangga bangkit dari duduknya lalu mengikuti gadisnya itu keatas.

"Gue kurang setuju," ucap Nayla saat merasakan ada seseorang dibelakangnya.

Erlangga menutup pintu terlebih dahulu lalu mengunci benda persegi panjang tersebut.

"Bukannya dulu kita mau biar selalu bersama."

Nayla mengembalikkan tubuhnya dan langsung mendapatkan pelukan dari pria jangkung dihadapannya. Gadis itu membalas pelukan Erlan. Kehangatan yang ia rindukan.

"Gue kangen lo, Erlangga."

Erlangga merasakan tubuh gadis itu sedikit bergetar karena menahan tangis bahkan suara Nayla terdengar parau.

"Kenapa waktu di Sekolah nyuekin gue? Nampar gue jugak."

Setelahnya, gadis itu terkikik. Erlan sedikit menjauhkan Nayla dari dekapannya. Menatap wajah yang memerah karena nangis itu namun ia tertawa.

"Hehe, sakit nggak tamparan gue?"

Raut wajah datar terlihat diwajah Erlan. Dengan gemas pria itu langsung mengulurkan tangannya untuk menoel-noel pipi Nayla.

"Aaa, gue kira lo beneran lupa sama gue!" Erlangga menaikkan nada bicaranya.

"Yakali gue ngelupain lo. Masih manggilin gue Loli ya? Padahal gue udah 18 tahun." Erlangga tertawa mendengar hal itu.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang