[28]

20K 764 44
                                    

Happy reading!! ^^

Beberapa bulan telah berlalu, pernikahan Naya dan Vano sudah menginjak bulan ke-6 atau bisa dibilang setengah tahun. Rumah tangga mereka aman tentram terkendali tidak ada masalah apapun, oiya cuma masalah dikit dikit gitu lah. Vano juga udah mulai kuliah, biar bisa nerusin perusahaan papa Ardi.

Hari sabtu pagi, Naya bangun subuh subuh sekitaran jam 4. Perutnya terasa mual sejak semalam, tidur pun ngga nyenyak.

Setelah ia bangun dan membuka matanya, Naya berlari masuk ke dalam kamar mandi. Vano yang peka dengan pergerakan Naya juga langsung bangun dan menyusul istrinya ke kamar mandi.

Hoekkk Hoekkk

Naya ingin memuntahkan semua isi perutnya namun tidak ada yang keluar. Perut Naya kosong karena ia sudah memuntahkan semuanya semalam.

"sayang kita ke dokter aja ya?" ucap Vano khawatir sambil memijat tengkuk Naya dan juga merapikan rambut Naya yang tergerai agar tidak menghalangi wajahnya.

Hoekkk Hoekkk

"gamauuu, nanti disuntik" Naya memang sedikit takut sama jarum suntik.

"engga disuntik sayanggg, kita cuma periksa aja, kalaupun disuntik juga ngga sakit kok cuma clekit gitu doang" sambung Vano, ia mengelap peluh yang keluar di dahi Naya.

"gamau Vanooo" Vano memeluk tubuh Naya erat.

"sayang dengerin Vano, kamu itu muntah muntah gitu kan kita gatau keadaan kamu itu lagi sakit atau cuma kecapean, kalo kamu abis makan muntah abis makan muntah trus perut kamu kosong gimana? Kita periksa ke dokter ya? Muka kamu juga pucet gitu, aku khawatir kamu kenapa-napa sayanggg" ia mengelus belakang kepala Naya.

"pusing" Naya menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Vano.

"yaudah kamu bobo aja ya, aku panggilin dokternya biar periksa kamu kesini" Naya mengangguk.

"ayo bobo lagi, mau gendong ngga?"

"mauuu" Naya mengalungkan tangannya di leher Vano, lalu Vano mengangkat tubuh Naya dan menggendongnya ala koala, cielahhh suka banget ngehaluin mereka kalo posisi gini:)

Mereka keluar dari kamar mandi langsung menuju ranjang untuk membaringkan Naya.

"kamu bobo dulu okeyy, aku panggilin dokter" Naya mengangguk lemah.

Vano menutup tubuh Naya menggunakan selimut lalu mengecup dahi Naya singkat dan terakhir mengelus kepala Naya lembut.

"tunggu bentar ya" Vano keluar kamar untuk menjemput dokter yang akan memeriksa Naya.

Setelah beberapa menit kemudian, Vano kembali masuk ke dalam kamar bersama seorang dokter wanita yang membawa peralatan pemeriksaan untuk Naya.

"selamat pagi ibu"

"pagi dok"

"keluhan apa yang dirasakaan akhir-akhir ini bu?" tanya dokter itu sembari memeriksa Naya.

"dari semalam mual mual dok, pusing juga" jelas Naya.

"maaf kalo boleh tau, terakhir menstruasinya kapan bu?"

"udah 2 bulan yang lalu" lalu dokter itu tersenyum dan menghampiri Vano.

"gimana keadaan istri saya dok?"

"maaf pak saya tidak bisa membantu menyembuhkan istri bapak, karena itu gejala bawaan"

"maksudnya?"

"lebih baik bapak konsultasi dengan dokter kandungan atau bidan"

"istri saya ada masalah dengan kandungannya dok?"

"bukan, selamat kalian akan menjadi orang tua, usia kandungan ibu Naya sudah sekitar 3 minggu pak"

Baby Boy || AlvanoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang