3. LOLI

214K 9.9K 297
                                    

3. Loli

"Tadi malem kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Naya sambil mengoleskan selai coklat pada roti milik Erlangga. Pria itu berdehem lalu melirik Alya yang asik meminum susu hangat.

"Biasalah ma," sahutnya membuat Naya seketika paham. Pastinya Alya dan Yudha yang menjadi topiknya.

Alvan dengan jas hitamny terduduk dikursi dan langsung melahap sarapan yang dibuat oleh Naya. Pria itu makan dengan cepat bukan karena kesiangan melainkan rasanya yang enak.

"Kek orang gak makan-makan setahun lebih," ucap Erlan pelan mendapat lirikan dari Alvan.

Okeh! Perang antar anak dan orangtua akan dimulai. Erlangga dan Alvan memang tak pernah akur entah kenapa bisa begitu. Cepat-cepat Naya menyodorkan dua helai roti yang bertumpuk kearah Erlan.

"Anak mama yang ganteng, cepet dimakan sayang. Habis itu berangkat Sekolah. Adek mau ikut sama papa atau abang berangkatnya?"

Alya nampak berfikir. Naya mengalihkan pandangan dari Alvan yang terus menatap Erlan. Anaknya itu malah asik memakan roti, namun tatapannya tak jauh dari Alvan.

"Yaya mau sama bang Nata aja."

Erlan menggigit roti sekuatnya. "Yudha lagi!"

Setelah selesai sarapan, Alya bangkit dari kursinya. Gadis itu mendekat kearah Naya dan Alvan untuk pamit mencari keberadaan Yudha.

"Alya berangkat dulu pa, ma dan abang yang jelek."

"Gue ganteng tanyain aja mama," sengit Alvan.

"Erlan gak boleh lo gue in Alya."

Kini, Alvan yang bangkit setelah menyelesaikan sarapannya. Pria itu memeluk Naya sebentar lalu mengecup keningnya.

"Dunia ini memang penuh dengan keuwuan," ucap Erlan mengalihkan pandangan.

"Makanya cari pacar," ucap Alvan sengit lalu meninggalkan mereka berdua.

Tersisa dua orang dimeja makan. Naya dan Erlangga. Pria itu teringat kejadian kemarin dan langsung memanggil mamanya.

"Mama, Erlan mau bicara penting."

Naya menatap putranya.

"Kenapa mama nggak bilang kalau Nayla udah di Indonesia? Tante Sella juga nggak ngabarin Erlan. Apalagi om Daffa," ucap Erlan membuat Naya tersedak makanan.

"Nayla udah di Indonesia? Kok mama nggak tau. Mungkin om Dafa sama tante Sella sibuk makanya belum sempat ngabarin kamu." Naya berpraduga terlebih dulu.

Fyi, disaat usia Nayla menginjak 7 tahun. Gadis kecil itu dibawa ke Jepang bersama kakek neneknya untuk mengawali Sekolah Dasarnya hingga lulus SMP lalu kembali ke Indonesia disaat usia 18 tahun. Tapi, kenapa Erlan lengah begitu saja.

"Erlangga, aku seneng banget," ucap gadis berusia 6 tahun itu.

Erlangga nampak heran. Setelah ia menyelesaikan bermain dengan Yudha, kedatangan Nayla kerumahnya membuat ia senang namun hal yang diucap Nayla membuat Erlan terheran.

"Seneng kenapa?" tanya Erlangga.

"Aku mau ikut sama oma di Jepang."

Tidak! Itu bukan berita yang menyenangkan melainkan sesuatu yang menyakitkan jika didengar oleh Erlangga. Mungkin Nayla sangat senang dengan hal itu karena gadis yang sedikit memilik darah jepang dari keturunan Bundanya itu sangat menyukai negara tersebut dan salah satu budayanya.

"Kita pisah dong?" suara Erlan terdengar sendu. Senyum yang terdapat diwajah Nayla memudar.

"Aku janji bakal kembali ke Indonesia kok terus selalu sama kamu. Kamu juga janji nggak boleh sama yang lain. Kamu harus sama aku terus meski kita pisah."

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang