🌙ㅣ28. Hutang Budi?

45.7K 8K 696
                                    

Pisang emas dibawa belayar
Masak sebiji di atas peti
Hutang emas boleh dibayar
Hutang budi dibawa mati

"Emm ... kamu?"

Mendengar suara seseorang dari samping kirinya, lelaki yang sedang bersandar pada pohon menoleh, tatapannya menajam melihat siapa yang ada di sana. Seorang gadis dengan kacamata bulat. Sepertinya ia pernah melihat gadis itu. Tapi di mana? Apa di club, ya? Atau cafe?

"S-siapa lo?" lelaki itu menggigit bibir bawahnya, rasa perih di lengannya terasa amat menyakitkan. Sayatan panjang itu ternyata tidak bisa membuatnya banyak berbicara.

"Kok gak ke rumah sakit?"

Lelaki itu menggeser tubuhnya saat gadis tadi mendekat. Detik berikutnya ia meraung kesakitan saat tangan gadis tadi menyentuh lukanya.

"LO BEGO APA GIMANA SIH?! UDAH TAU LUKA! SAKIT ANJIR!!" teriaknya kencang, mampu menarik perhatian beberapa orang. "Aduuh aduh!! Anjir sakitt!"

Rembulan mengerjap, cengirannya ia keluarkan membuat lelaki di hadapannya mendengus. "Maaf, Bulan gak sengaja. Gimana kalau kita ke rumah sakit? Biar dokter aja yang obatin, Bulan gak bisa ngobatin."

"Ya, siapa yang mau lo obatin sih? Gue gak minta?!" dengus lelaki itu.

"Yaudah ayo, Bulan anterin," ucap Rembulan dan membantu bangkit lelaki yang terus menerus meringis itu.

"T-tapi ..."

"Tapi apa?" Rembulan mendongak, menatap manik coklat cerah yang lelaki itu miliki. Rembulan akui manik itu amat indah, tapi tidak seindah manik milik abang dan kakaknya.

"A-ada nyokap gue." Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke samping kiri, menghindari kontak mata dengan Rembulan. "Nyokap gue dokter di rumah sakit yang di deket sini. Gue gak bisa ketemu dia."

"Kita pilih rumah sakit yang jauh aja?" tanya Rembulan dengan binaran mata.

"Gue keburu mati kehabisan darah, dong?"

Rembulan mengernyit, kemudian mengangguk polos. "Oh, iya juga ya."

Lelaki yang tadi lagi-lagi mendengus, ternyata gadis yang hendak membantunya ini gadis lugu yang sepertinya gampang ditipu. Apa ia pergi saja, ya? Jangan mengikuti gadis seperti itu kalau ia tidak mau berurusan lebih panjang dengan seorang gadis naif. Itu semua akan merepotkan.

Tapi, lukanya harus cepat ditangani. Ia juga tidak akan bisa berjalan sendirian atau meminta bantuan karena ponselnya tidak ada.

Argh!! Sial banget sih gue!

"Kalau gitu ... gimana kalau kamu ikut Bulan?"

Lelaki tadi mengernyit, kepalanya miring ke kanan. "Ikut ke Bulan? Gue 'kan bukan astronot."

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang