Sequel : 4. Pendonor

6.4K 615 8
                                    

      Burung berkicau, embun menghiasi dedaunan. Pagi hari yang begitu cerah nan indah. Sabrina menggeliat, matanya yang terpejam perlahan bergerak dan terbuka. Wajah Glen yang pertama dia lihat, tengah tersenyum dengan begitu tampannya.

Sabrina mengerjap heran.

"Ayo sekolah, pules banget kamu tidur." Glen mengecup kilat bibir Sabrina lalu mengusap pipinya.

Sabrina tersipu, bibirnya hendak tersenyum lebar namun dengan cepat dia kulum.

"Ayo, bangun."

"Ini udah bangun."

"Ayo, bangun."

"Ayo, bangun."

"Ayo, bangun."

Semua berputar dan menjadi gelap, Sabrina membuka matanya dengan kaget saat merasakan sesuatu yang dingin mengusap pipinya.

"Susah banget sih di bangunin! Kita kesiangan! Malah senyum - senyum ga jelas. Ayo bangun." jengkel Glen lalu berlalu ke lemari.

Sabrina mengerjap, ternyata pagi yang manis tadi hanyalah mimpi. Sabrina merasa aneh dalam mimpi pun karena Glen biasanya uring - uringan tidak jelas kalau pagi dan ternyata memang mimpi.

"Malah ngelamun! Ayo turun! Ga mau sekolah?" tanyanya kesal dengan masih memakai seragam.

Sabrina memalingkan wajahnya saat Glen melepas handuknya."Iyah, ini turun." bibirnya mengerucut bete.

***

Glen mengendus pipi Sabrina dengan gemas.

"Kenapa harus di uks sih, padahal ikut upacara ga masalah." keluh Sabrina.

"Kalau di rumah kita ga akan cuma kayak gini." bisik Glen seraya menjilat pipi berisi Sabrina sekilas.

"Ga jelas! Jangan gitu, Glen!" tegur Sabrina.

"Hm." Glen masih betah mengendus.

"Udah ah, nanti ada yang liat bahaya." Sabrina mendorong jauh wajah Glen yang kini di tekuk tidak suka.

"Lo ga suka? Risih?" tatapan Glen menajam marah.

"Bukan gitu." Sabrina membelai wajah Glen."kita di sekolah." lanjutnya.

"Di rumah juga lo sering nolak makanya gue paksa."

"Kok lo - gue?" sedih Sabrina.

"Jangan alihin topik!" Glen terlihat semakin marah.

"Ya-yaudah, sini peluk lagi." Sabrina melebarkan kedua tangannya.

Glen mendatarkan ekspresinya lalu memeluk Sabrina dengan mesra. Apa salahnya bermesraan, toh tidak melewati batas.

"kalau ada perawat atau siswa pingsan gimana?" bisik Sabrina.

"Ya lepas aja, gampang." jawab Glen sesimple itu.

"Ga takut masuk BK?"

"Lebih takut kehilangan kamu." jawabnya tegas.

Sabrina tersipu."Hm.. Bisa aja, oh iyah, jangan lo - gue lagi." pintanya yang pasti Glen kabuli."rasanya kita ga pacaran kalau lo - gue." lanjutnya.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang