Sequel : 3. Nginep

7.8K 756 13
                                    

       Glen menyambut Sabrina yang di perbolehkan pulang oleh dokter khusus yang selama ini merawat gadis itu.

Glen membawa Sabrina ke mobil, sedangkan para orang tua tengah menunggu di rumah untuk menyambut Sabrina seperti biasa.

"Katanya udah ada pendonor." Sabrina tersenyum cerah.

Semenjak pacaran dengan Glen, semua terasa mudah, dia selalu bahagia. Bahkan pendonor pun kini ada.

Glen terkejut dengan senangnya."Serius?" tanyanya.

Sabrina mengangguk sama senangnya."Nanti abis pemeriksaan lagi, katanya di putusin tanggal operasinya." jawab Sabrina riang.

Glen memeluk Sabrina, dia harap kebahagiaannya akan terus berlanjut. Dia butuh Sabrina dalam hidupnya.

"Semoga terus lancar. Cepet sehat, sayang." bisik Glen penuh haru.

Sabrina menjatuhkan air mata bahagianya, dia juga ingin segera sehat. Banyak sekali batasan saat ini, membuat Sabrina tidak sebebas orang lain dalam menjalani hidup.

"Do'ain ya, biar sembuh." suara Sabrina terdengar gemetar dalam pelukan Glen.

Glen tidak menjawab, dia membingkai wajah Sabrina, mengulum bibirnya dengan penuh haru bahagia.

Senyum Glen bahkan terbit di kala lumatan - lumatan kaku yang di berikan Sabrina.

Glen bergerak menggendong Sabrina dan di pangkunya tanpa melepaskan pagutan.

"G-Glen, u-dah, kita lagi di par-kiran."

Glen tuli, dia terlalu hanyut dan terbuai. Tahu nyaman begitu dari dulu dia pacari Sabrina. Selama ini hanya kecupan bagai adik kakak yang mereka lakukan.

"Emh—" Sabrina menepuk bahu Glen agar berhenti, dia takut jantungnya kenapa - kenapa lagi.

Glen melepaskana pagutannya, mengusap wajah Sabrina dengan berusaha menetralkan nafasnya.

***

"Selamat datang lagi di rumah." sambut Larisa, Mawar, Sarah dan Satya.

Sabrina tersenyum hangat, memeluk mereka satu persatu dengan tangis bahagia.

"Jangan sampe ke rumah sakit lagi ya, kak." kata Mawar saat di peluk Sabrina.

"Semoga, maunya juga tidur di rumah, war." balas Sabrina seraya melepas pelukan lalu beralih pada Satya sebagai orang terakhir.

"Sehat terus, biar Glen ga ganggu mommynya terus."

Glen mendengarnya mendengus, sedangkan yang lain tertawa pelan dan melirik Satya maupun Glen geli.

Glen meraih pinggang Sabrina."Ga akan ganggu mom lagi, soalnya udah punya pacar." bangganya lalu melirik Sabrina yang tersipu malu.

Kebahagiaan yang mereka rasakan semakin menjadi, semoga akan selalu begitu.

***

"Kemana?" Glen menahan pergelangan tangan Sabrina yang akan beranjak.

"Udah malem, pulang." polos Sabrina.

Glen menarik lembut tangan Sabrina agar kembali duduk."Nginep aja, udah izin ke mami kok." jelasnya.

"Nginep? Di sini cuma kita berdua, keluarga kamu lagi keluar, engga ah." tolak Sabrina tanpa berpikir.

Berdua dengan Glen? Setelah status mereka pacaran? Sabrina takut ada hasutan setan.

"Biasanya juga nginep, ada atau engganya mereka." Glen menekuk wajahnya tidak suka, dia jelas tidak ingin di bantah.

"Kita beda sekarang." Sabrina menjawabnya agak mencicit.

"Cuma pelukan, paling tambah ciuman aja." Glen bernegosiasi, membujuk pacar seumur jagungnya itu.

Sabrina terdiam.

"ayolah, sayangku Sabrina." desak Glen dengan sabar."ga akan sampe ke hal - hal terlarang." lanjutnya sangat yakin.

Sabrina pun mengangguk dengan pasrah walau tetap takut.

"bagus." di usapnya kepala Sabrina lalu beralih kebibirnya.

Sepertinya Glen akan kecanduan mencium bibir manis Sabrina, mengabsen giginya dan bermain bersama lidahnya.

Sabrina sontak menahan jemari Glen yang meremas sesuatu di balik kaos itu.

"Maaf, refleks." Glen bersuara pelan dengan kembali bermain di mulut manis nan wangi itu.

"Emph— udah." Sabrina melepaskan pagutannya dengan Glen.

"Hm, kita tidur." Glen meraih remote televisi, mematikannya lalu menuntun Sabrina ke kamarnya.

Sabrina berdebar tak karuan, semoga Glen tidak melewati batas saat di kamar nanti.

Glen membuka pintu kamar, membiarkan Sabrina masuk di susul dirinya.

Glen kembali menuntun Sabrina ke kamar mandi, mengajaknya membersihkan gigi dan muka.

Sabrina tersenyum tipis saat semua kebutuhannya masih Glen simpan, dia memang sering menginap.

"Karena sekarang pacaran—" Glen memberikan sikat gigi yang sudah di beri pasta gigi pada Sabrina."kita sikat giginya kayak gini." di peluknya Sabrina dari belakang.

Sabrina tersipu, padahal dia sudah sering di peluk dari belakang oleh Glen. Mungkin status yang mempengaruhinya.

Setelah selesai melaksanakan ritual, keduanya mulai naik ke atas kasur.

"Masuk selimut." perintah Glen yang di patuhi Sabrina."deketan, pengen peluk kamu, Na."


Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang