[27]

19.7K 767 50
                                    

Happy reading!! ^^

Keesokan harinya Vano terbangun dari tidurnya dengan sedikit rasa apa ya namanya, bangunnya ngga nyelo. Kalo di tempatku sih nyebutnya mak glegah, bangun bangun langsung kaya orang panik gitu tanpa ngumpulin nyawa dulu. Vano begitu karena tak menemukan Naya di sampingnya.

"NAYA SAYANG, NAY, NAYAAA" Vano berlarian keluar kamar sambil berteriak mencari Naya ke sekeliling rumah.

"apa sih Van, masih pagi udah teriak-teriak" ucap Naya yang kembali dari halaman belakang. Vano menerjang tubuh Naya, ia memeluknya erat.

"kenapa, hmm?" Naya membalas pelukan Vano sambil mengelus punggung Vano.

"kirain cuma mimpi"

"maksudnya gimana sih"

"kamu kan udah balik ke rumah ini, kirain itu cuma mimpi soalnya bangun bangun di samping aku kosong gaada kamu, aku takut kamu pergi"

"astagaaa Vano kirain kenapa, aku gabakal pergi-pergi ninggalin rumah, kecuali kalo kamu buat masalah lagi"

"ish sama aja, pokoknya gabole pergi ninggalin Vano"

"enak kan kalo aku pergi, jadi gaada yang ganggu"

"enggaaaa, lebih enak kalo kamu peluk aku terus kaya gini"

"dasar manja"

"gapapa, emang tadi kamu darimana? tumben pagi-pagi udah ngilang"

"buang sampah, sampahnya penuh itu belom kamu buang dari kemaren"

"ya mana sempet sih Nayaaa"

"yaudah minggir, aku mau bersih-bersih dulu" Naya melepaskan pelukan Vano lalu berjalan menuju wastafel untuk mencuci piring.

"gamauuu, aku mau sama kamu" Vano kembali memeluk Naya dari belakang, sedangkan Naya tetap melanjutkan kehiatan mencuci piringnya.

"kamu belom mandi kok udah wangi sih, hmm?" Vano mencium leher Naya berkali-kali.

"ih geliii Van" Vano semakin menambah ciumannya, dia tuh semakin dilarang semakin menjadi-jadi.

"gapapa, abisnya wanginya enak banget sih, mau aku cupang sekalian ngga?" ucap Vano cengengesan.

"Vano mesum mesum mesum"

"Vano ganteng ganteng ganteng" pede abiezzz ni orang, tapi emang ganteng sii.

"huhhh udah sana duduk, enak enakan nyender, pundak aku berat"

"oke oke ngga nyender lagi" Vano mengangkat kepalanya dari pundak Naya, tangannya yang masih melingkar itu mengelus perut datar Naya.

"Vano dibilangin geli kok ngeyel sih"

"sensi amat neng, lagi pms ya?"

"bodo"

"jangan kebanyakan marah gitu, nanti cantiknya berkurang" Vano mengecup pipi kiri Naya dari belakang.

"ish main cium cium aja"

"emang harus bilang bilang dulu?"

"iya harus"

"oke, ayangggg Vano mau cium boleh?"

"ngga"

"nah kan, percuma aku bilang" Vano melepas pelukannya lalu berbalik menuju meja makan. Naya segera menarik tangan Vano agar kembali menghadapnya.

Naya mengelap tangannya yang basah menggunakan kain bersih, setelah itu ia menepuk pipi Vano.

"selamat ngambek sayang"

Baby Boy || AlvanoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang