28. Lagu yang Tak Selesai

25.6K 8.4K 2.6K
                                    

Tidak peduli seberapa parah kita terseok-seok selama ini,
Dunia akan tetap berjalan seolah tidak pernah terjadi apa-apa

○○○》♡♡♡》○○○

Keesokan paginya, Nana terbangun dengan bayang-bayang tangisan Jeffery yang masih melekat kuat dalam kepalanya. Ia terbangun dengan pandangan menerawang, perihal maaf yang ia tabur, namun tak sempat ia sampaikan.

Semalam, Jeffery melewati dirinya dengan kaki terseok-seok dan tubuh yang menggigil. Sementara ia sendiri pulang dengan keadaan tubuh dan hati yang basah kuyup. Mereka berpaling tanpa kata selamat tinggal yang hangat. Tidak ada kata sampai jumpa. Tidak ada kata hati-hati di jalan yang umum dikatakan. Sampai akhir pertemuan, keduanya masih sepakat untuk membisu.

Pagi ini, ia menemukan Cetta tidur meringkuk di sebelah kanannya. Sementara di bagian kiri, Jaya memeluk dirinya dengan tubuh tanpa selimut. Di atas dahinya ada lipatan handuk kecil berwarna merah jambu yang sudah dalam keadaan kering. Semalam ia terjebak dalam sebuah mimpi buruk. Ia berlari di sebuah jalan setapak yang gelap dan menakutkan. Nana berlari begitu jauh tanpa henti. Sampai ujung rambut hingga ujung kakinya dibasahi keringat dan ia menemukan dirinya terasa seperti terjebak di sebuah perapian tanpa jalan keluar.

Semalam suntuk, ia diterjang demam. Dan melihat bagaimana Jaya dan Cetta yang meringkuk di sebelahnya pagi ini, adalah tanda bahwa dua anak itulah yang paling sibuk semalaman. Lalu tak lama, derit pintu terdengar. Sosok Mama menyeruak bersama Eros yang mengekor di belakangnya.

Jam 6 pagi di hari senin yang seharusnya sibuk, Nana justru menemukan dirinya terbaring tak berdaya di atas kasurnya. Dia jadi menerka-nerka. Semalam ketika ia tidak sadarkan diri, apakah Jaya menyedot semua tenaganya sampai habis tanpa sisa? Karena sumpah, sekujur tubuhnya lemas bukan main.

"Cetta, Jaya, bangun. Udah jam 6, ayo sekolah." Kata Mama, perlahan-lahan mengguncang bahu dua anaknya yang paling muda.

"Aku masih ngantuk, Ma." Kata Cetta.

"Aku juga." Dan Jaya menyahut tak kalah parau. "Sekolahnya skip aja ya? Aku mau tidur sampai siang."

Mama menyerah, apalagi ketika ia menemukan Nana terkekeh di antara Jaya dan Cetta. Akhirnya, Mama hanya berkata,

"Ya udah, terserah mau sekolah atau enggak, tapi kalian minggir. Tidur di kamar aja, Mas Nana mau sarapan."

Kedua bocah-bocah itu sigap menyingkir. Dalam kantuk yang teramat dalam, mereka bersyukur bahwa Mama memahami mereka tanpa banyak mengomel. Karena demi Tuhan, mereka tidak tidur semalaman. Keduanya terlalu resah ketika Mas Nana mengigau berkali-kali dengan keadaan tubuh yang panas dan menggigil. Akhirnya, mereka merelakan diri untuk terjaga semalam suntuk. Sadar bahwa Kak Ros dan Mas Jovan masih harus bekerja keesokan harinya. Sesekali Bang Tama masih turun untuk menengok, tapi laki-laki itu berakhir pergi entah kemana menjelang jam 2 pagi.

Saat Cetta memilih untuk naik ke lantai dua dan meringkuk di atas kasurnya, Jaya tidak berpikir dua kali untuk menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Anak itu meringkuk setelah mengusir Rinso dan anak-anaknya pergi.

"Kayaknya tenagaku beneran disedot Jaya deh semalam." Kata Nana. Dengan suara sengau, laki-laki itu meringkuk ke samping. Ia kembali menyelimuti dirinya dengan selimut tebal dan kembali memejamkan matanya sayup-sayup.

Kemudian Mama berjalan ke arah gorden. Menyingkap kain berwarna abu-abu itu sampai sinar matahari menjatuhkan diri pada sudut-sudut ruang. Lalu angin segar menyeruak tak lama setelahnya. Membawa wangi petrikor sisa semalam. Hari ini, adalah hari senin yang cerah.

"Mas Nana tuh semalam habis dari mana? Atap mobil kakak bocor apa gimana? Pulang-pulang udah kayak orang habis menantang badai. Terus itu tangannya kenapa merah-merah? Habis dari--jangan main hape terus!" Mama mendelik tepat ketika ia menemukan Nana meraih ponselnya.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang