🌙ㅣ27. Belum Kembali

46.7K 7.6K 212
                                    

''Sifat egois itu dibutuhkan, hanya saja harus pada waktu yang tepat''

''Sifat egois itu dibutuhkan, hanya saja harus pada waktu yang tepat''

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Udah seminggu, Pa!"

Dentingan sendok berbunyi cukup keras saat Alvano membantingnya pada piring yang masih menyisakan nasi dan lauknya. Suasana makan malam terasa lebih dingin dari sebelumnya, karena Alderion dan Alvaro belum juga muncul.

"Papa jangan egois kayak gini." Alzero ikut berbicara. "Gimana pun juga, mereka anak papa, apa papa gak khawatir sama mereka? Papa bahkan gak pernah nyariin atau nanyain mereka berdua."

"Tapi itu pilihan mereka 'kan?" Anggara menyahut, ia mendorong piringnya menjauh dari depan matanya. Atensinya pun kini teralihkan sepenuhnya pada kedua lelaki yang juga balas menatap dengan tatapan dingin.

"Papa masih sama." Alvano bergumam pelan, kepalanya tiba-tiba menunduk. "Papa mau Varo berubah, tapi papa sendiri gak bisa berubah."

"Apa maksud—"

"Dulu, Bunda juga gini." Alzero memotong. "Papa egois dan gak mikirin perasaan bunda. Papa biarin dia pergi keluar, bahkan sampai dia enggak balik lagi, Pa. Apa papa mau ngulangin hal yang sama?"

"Cukup." Anggara menatap tajam kedua anaknya. "Andai aja kalian sadar kalau itu semua gak akan terjadi kalau kembaran kamu gak selalu buat onar!!"

Alvano mengerjap, telunjuk Anggara berada tepat di hadapannya membuat napasnya tercekat. Alvano belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. Anggara terlihat sangat menyeramkan, sekaligus sangat berbeda dengan Anggara yang dulu.

"Andai dia gak lahir!! Andai Alvaro tidak ada di sini!! BUNDA KALIAN PASTI MASIH ADA!!"

Alvano tahu, dirinya tidak disalahkan atas kejadian itu. Alvano tidak dianggap salah oleh Anggara, melainkan kembarannyalah yang disalahkan. Tapi, dirinya merasakan sakit. Ia yang merasakan sakit hati saat Papanya sendiri menyalahkan semua kejadian itu pada kembarannya. Hatinya terasa dicabik-cabik dengan kuat saat Anggara terus melontarkan kesalahan itu pada kembarannya, alias Alvaro.

"Pa—"

"Apa?! Kamu mau belain dia kayak Rion, hah?! Mau ikut pergi dari sini?! Papa gak akan larang! Tinggalin rumah ini kalau mau!"

"MAS!"

Semua tatapan langsung tertuju pada Laila yang bangkit secara kasar dari kursinya, tatapannya yang sayu berubah menajam saat Anggara menolehkan kepalanya pada Laila. Semua yang ada di sana terdiam, termasuk Rembulan yang terus menunduk.

"Apa kamu sadar sama ucapan kamu?! Mereka anak kamu! Di mana perasaan kamu, Mas?!" Laila tidak dapat menahan dirinya lagi. Sudah bertahun-tahun ia mengurus anaknya sendirian, tanpa bantuan siapapun dan hidup dengan ekonomi yang katakanlah kurang. Laila hanya tidak habis pikir, bagaimana sakitnya seseorang yang telah melahirkan anak-anaknya namun mereka harus dibentak dan bahkan diusir dari rumahnya sendiri? Itu keterlaluan. Seharusnya Anggara lebih dewasa, seharusnya ia tahu bagaimana cara menyikapi anaknya, tapi sepertinya Anggara tidak sesuai dengan harapan Laila.

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang