BAB 16 : Hanya Dua Pilihan

36.7K 4.3K 73
                                    

Arsen membawa Nayara ke taman di luar gedung acara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Arsen membawa Nayara ke taman di luar gedung acara.

"Kamu ngapain bawa saya keluar segala sih? Gak bisa bicara di dalam aja?" Nayara memprotes.

"Di dalam terlalu berisik dan kamu memang mau semua orang mendengar perdebatan konyol kita tentang kamu yang tidak mau berteman dengan saya? Kalau mau, kita bisa kembali ke dalam sekarang." jawab Arsen tenang.

"Jadi kamu masih ingin membahas tentang ajakan pertemanan kamu ke saya?"

"Iya"

"Bagian mana dari jawaban saya yang kurang jelas 2 minggu lalu? Saya sudah menjawab tidak dan jawaban itu tidak akan berubah" tegas Nayara dengan dua tangan terlipat di depan dada.

"Segitu bencinya kamu sama saya sampai tidak mau berteman dengan saya?"

"Saya tidak benci sama kamu"

"Kalau kamu tidak benci, kenapa tidak menerima ajakan pertemanan saya?"

"Ar, permintaan maaf kamu memang saya terima tapi memaafkan bukan berarti terbuka untuk pertemanan"

"Ar?" tanya Arsen mendengar panggilan Nayara padanya.

"Hah?"

"Kamu panggil saya apa?"

"Ar? Kamu kenapa malah mengalihkan pembicaraan sih?"

"Bukan hanya tidak menerima ajakan pertemanan saya tapi sekarang kamu juga mulai tidak sopan? Tadi juga kamu juga memanggil saya Arsen kan?"

Nayara mengerutkan dahinya bingung dengan ucapan Arsen saat ini.

"Maksud kamu apa sih? Kan memang nama kamu Arsen, masa aku panggil Devano. Itu nama adik kamu"

"Gak lucu"

Nayara menggeram pelan "Emang lagi gak ngelucu. Sekarang balik ke topik awal. Saya tegaskan sekali lagi, saya tetap tidak mau berteman dengan kamu dan jawaban saya tidak akan berubah"

"Ara, kenapa kamu begitu keras kepala menolak ajakan saya?"

"Kamu juga, kenapa kamu begitu keras kepala memaksa saya menjadi teman kamu?"

Sekarang keduanya terdiam dan saling menatap satu sama lain. Tanpa diduga, ucapan Arsen selanjutnya membuat mata Nayara hampir copot dan jantungnya seperti terjatuh ke tanah.

"Oke kalau kamu tidak ingin menjadi teman saya, mungkin kamu lebih memilih ingin menjadi pacar saya? Lagi?"

"APAA?!?"

Arsen berjalan mendekati Nayara. Ketika sudah cukup dekat, Arsen membungkukkan badannya, mensejajarkan kepalanya dengan Nayara, lalu menatap dalam mata wanita itu.

"Pilihannya hanya dua, Ara. Jadi teman saya atau balikan dengan saya?"


Maap bab ini pendek banget XD

Maap bab ini pendek banget XD

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang