🌙ㅣ25. Kejelasan

49.6K 8K 147
                                    

''Masalah perlu diselesaikan dengan keterbukaan''

Rembulan mematung di tempat saat kedua matanya saling tatap dengan Alzero. Mereka berdua sama-sama diam termasuk Syaila yang memperhatikan dari belakang Alzero dengan tatapan bingung.

"Lo nguping kita?!" pekik Syaila. Gadis itu terburu-buru menghapus air matanya dan menghampiri Rembulan. "Berani-beraninya lo nguping gue!! Lo mau gue—"

"Jangan sentuh Bulan." Alzero menahan pergelangan tangan Syaila yang hendak menarik Rembulan. Lelaki itu menatap Syaila dengan tajam. "Jauh-jauh dari Bulan," ucapnya lagi dengan penuh penekanan.

Syaila memandang Alzero dengan tatapan bingung dan tidak menyangka. Ia menatap lelaki di depannya seolah-olah bertanya, mengapa lelaki itu membiarkan orang yang sudah mengintip mereka berdua di taman? Apalagi perbincangan keduanya ini penting. Bagaimana jika gadis yang menguping itu membeberkannya ke semua murid di sini?

"Hero—"

"Stop panggil gue kayak gitu!" Alzero membentak. "Lo bukan Ala!"

"T-tapi—"

"Jauh-jauh dari gue sebelum Ala yang asli dateng!" Alzero menepis kasar tangan Syaila, kemudian dengan secepat kilat ia menarik lengan Rembulan dan membawanya pergi membiarkan Syaila terdiam sendirian.

- 4B -

"Mmm ... gue belum tau kondisi Varo sama bang Rion gimana. Semalem bang Rion emang pergi dari rumah bareng sama Varo." Alzero membuka kotak bekal yang ia bawa dari rumah. Laila membawakannya karena permintaan Alzero tadi pagi. Alasannya sih, Alzero tidak mau jajan ke kantin karena sedang menghemat uang ingin membeli mobil keluaran terbaru.

Rembulan yang sekarang duduk di rumput tepat di sebelah Alzero juga membuka kotak bekalnya, mengambil susu kotak rasa coklat lalu menyeruputnya sedikit. Pikirannya masih kacau setelah kejadian tadi malam. Pertengkaran itu ternyata amat parah. Alderion dan Alvaro menghilang tadi pagi, dan satpam bilang mereka berdua pergi malam-malam menggunakan mobil Alderion. Entah mereka akan ke mana, yang pasti Rembulan jadi cemas dengan keadaan mereka sekarang.

"Gak usah khawatir." Sesuatu menyentuh kening Rembulan. Itu adalah tangan Alzero yang sedang mengelus keringatnya yang entah kenapa bercucuran. Lelaki itu tersenyum manis. "Gue yakin bang Rion bakalan balik lagi sama Varo. Mereka mungkin lagi nenangin diri mereka dulu."

"Ini semua karena Bulan 'kan?" tanya Rembulan dengan pandangan lesu. "Kalau aja Bulan gak—"

"Ssst ssst sstt ssssssssttt!!" Alzero langsung menempelkan telunjuknya pada bibir Rembulan yang lembut. Sekali lagi ia tersenyum membuat wajahnya kian memesona berkali-kali lipat. "Papa emang tempramen, dan semenjak Bunda meninggal, Papa jadi makin parah dan emosinya kadang gak terkendali, apalagi kalau sama Varo."

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang