BAB 15 : Pinjam Sebentar

40.6K 4K 34
                                    

Uhukk! Uhuukk! Uhukkk!!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Uhukk! Uhuukk! Uhukkk!!!

Nayara tersedak kue strawberry yang sedang ia makan. Dengan cepat, Arsen mengambil air mineral yang berada di atas meja, membuka segelnya, lalu memberikannya ke Nayara yang saat ini sedang terbatuk-batuk. Nayara segera menerima botol air itu dan langsung meminumnya. Setelah menghabiskan setengah dari isi botol air, tenggorokan Nayara mulai lega tetapi masih menyisakan sedikit rasa gatal.

Reyna yang baru kembali dari toilet melihat Nayara terbatuk-batuk kecil bertanya, "Kenapa lu Nay?"

"Keselek kue" jawab Nayara.

Reyna yang memang definisi dari sahabat yang sesungguhnya, bukannya khawatir melihat Nayara yang tersedak dan terbatuk-batuk, dia malah mengejek Nayara.

"Makanya Nay kalau makan tuh baca doa dulu, tungguin gw balik dari toilet. Kualat kan lu."

Mendengar ejekan itu, Nayara menatap Reyna kesal dan memarahinya karna terlalu lama pergi ke toilet, sampai-sampai ia harus bertemu dengan Arsen. Oke Nayara tau, kalau pertemuannya dengan Arsen bukan karna ia ditinggal sendirian oleh Reyna. Bagaimana pun mereka pasti akan bertemu karna mereka di dalam satu acara yang sama. Tapi tetap saja ini salah Reyna, kalau saja Reyna tidak memaksanya ikut, Nayara tidak akan bertemu dengan Arsen lagi dan ia tidak akan mendengar pertanyaan gila itu yang sekarang membuat dirinya tersedak. Pokoknya ini semua salah Reyna.

"Berisik. Lo pipis apa maen catur di toilet. Lama banget" semprot Nayara.

"Pipis lahh. Ya kali gw maen catur di toilet. Fyi nih, toiletnya juga rame banget, kalau gak percaya silahkan cek aja sendiri. Terus tadi gw juga sekalian touch up, udah berminyak banget muka gw, udah berasa kayak kilang minyak berjalan tau gak" jelas Reyna dengan menggebu-gebu.

Karna terlalu napsu membalas ucapan Nayara, Reyna sampai tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di samping sahabatnya itu. Seorang laki-laki dan ia mengenalinya walaupun baru sekali bertemu.

"Eh? Temannya Nayara yang ketemu di café yah?" tanya Reyna.

"Iya" jawab Arsen singkat.

"Kenalin gw Reyna. Sohibnya Nayara yang paling cantik" ujar Reyna memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.

Melihat Reyna yang memperkenalkan diri dengan senyum super manis miliknya, yang Nayara tau sering Reyna gunakan untuk menaklukkan banyak pria, Nayara memberikan ekspresi ingin muntahnya. Dan ternyata Reyna melihat itu.

"Dihh dasar sirik. Udah gak usah anggep dy, cuekin aja. Jadi nama kamu siapa?" Reyna kembali fokus dan bertanya ke Arsen.

"Arsen" jawab Arsen seraya mengulurkan tangannya dan mereka berjabat tangan.

"Lo karyawan di sini juga? Kalau iya, kok gw gak pernah liat lo?"

"Bukan. Saya karyawan di perusahaan partnernya d'Amont Group, Aldrich Group"

"Wahh~ Lo kerja di Aldrich Group? Kereen" puji Reyna.

Walaupun d'Amont Group adalah perusahaan besar tapi Aldrich Group adalah perusahaan yang lebih besar lagi. Dan untuk masuk ke sana sangatlah susah. Oleh karena itu Reyna memuji Arsen.

Ketika Reyna ingin bertanya lagi, terdengar suara perempuan memanggil nama Arsen. Ketiga orang itu kini menoleh ke asal suara dan melihat seorang perempuan cantik menghampiri mereka.

"Ar, aku cariin dari tadi, ternyata kamu di sini"

Oh dia bareng Mba Nadia..

Nadia menolehkan kepalanya ke dua wanita yang berada di sebelah kanan Arsen dan seketika terkejut melihat seseorang yang ia kenali.

"Nayara?" panggil Nadia dengan ekspresi terkejutnya ketika melihat Nayara.

"Hai Mba Nadia" sapa Nayara dengan tersenyum ramah.

"Kamu tamu undangan juga di sini?"

"Oh, bukan mba. Sahabat aku karyawan di sini dan aku dipaksa buat nemenin dia. Kenalin mba, ini Reyna sahabat yang aku maksud. Rey, ini Mba Nadia. Hmm.. Pacarnya Arsen" Nayara memperkenalkan Reyna dan Nadia satu sama lain.

"Hai mba. Saya Reyna"

"Nadia"

Saat Nadia ingin berbicara lagi dengan Nayara dan Reyna, Arsen memotongnya dengan mengucapkan satu kata yang membuat ketiga wanita itu bingung, tidak mengerti.

"Bukan" Arsen mengucapkan kata itu sambil menatap ke arah Nayara.

Nayara yang merasa ditatap membalasnya dengan bertanya, "Bukan.. apa?"

"Saya bukan pacarnya Nadia"

Seketika keheningan menghampiri mereka. Untungnya tidak berlangsung lama karna Nadia segera membuka suara, mencoba mencairkan suasana.

"Ahh itu, Iya Arsen benar. Kami belum berpacaran. Saat ini kami hanya berteman"

"Belum? Berarti ada kemungkinan Mas dan Mba akan berpacaran ke depannya?" kali ini Reyna yang bertanya dengan excited.

"Ya, kalau Tuhan berkehendak kita berjodoh. Iya kan Ar?"

Arsen tidak menjawabnya sama sekali.

"Aku doakan semoga berjodoh yah Mba. Kalian sangat cocok. Hmm, kita mau permisi balik ke meja kita yah Mba. Reyna udah pegel katanya. Mari Mba Nadia" pamit Nayara sambil menarik lengan Reyna.

"Kapan gw bilang begitu? Nay, gw belom ambil.." bisik Reyna yang tidak terima Nayara menyeretnya pergi. Ia belum mencicipi kue sama sekali. Belum selesai Reyna protes, Arsen memotongnya terlebih dahulu.

"Tunggu sebentar. Saya belum selesai bicara dengan kamu Ara" ujar Arsen seraya mencekal tangan Nayara.

"Ara?" Reyna bingung dengan nama yang dipanggil oleh Arsen.

"Maksud saya Nayara. Boleh saya pinjam teman kamu sebentar, Reyna?" tanya Arsen.

Apa dia bilang? Pinjam? Dipikir gw kepala chargeran yang bisa dipinjam-pinjam..

"Oh, boleh, boleh. Boleh kok. Lama juga gak apa-apa" jawab Reyna dengan senyum lebar di bibirnya.

Nayara menatap Reyna tidak terima. Bisa-bisanya ia menyetujui permintaan Arsen ketika dia tau kalau Nayara membenci Arsen.

Reyna kampreet!

"Oke, terima kasih. Nad, kamu duluan aja. Tunggu di meja kita. Nanti saya menyusul"

"Oh.. oke"

"Ayo"

"Ayo"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang