23. SOLIDARITAS KAMI

77 13 2
                                    

hai, khawaaan

lama, ya, nggak update? maaf, lagi asik nonton sampe lupa nulis...

kalian ada yang mau liat visual siap lagi nih, yang masih buat kalian penasaran? coment part selanjutnya aku kasih visualnya...

so, langsung baca yu, dan jangan lupa Vote dan spam coment, ya. supaya aku sering-sering update!

 supaya aku sering-sering update!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

23

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

23. SOLIDARITAS KAMI.

"Kehangatan kami akan selalu ada jika saling menghormati"

Gedung 2 di kampus Hercules sore ini mulai terlihat sepi, namun masih terdengar beberapa Langkah kaki disana. Gedung terakhir tersebut hanya ada beberapa ruangan untuk praktek dan semacamnya.

Langkah kaki dengan iriangan lagu di mulut seseorang terdengar dari arah belakang, pemuda dengan tas selempang di punggungnya baru saja menyelesaikan tugas di galeri kampus. ia sengaja menyelesaikan tugasnya secara berkala sebab ingin istirahat lebih cepat.

"tugas, makan, Latihan...malam aja dah gue Latihan," ucap Fikar memutuskan dengan cepat.

Langkahnya menuju tangga terhenti Ketika mendengar suara perempuan mennagis di Lorong sebelahnya, ia menoleh dan mendapati Vania yang meujup wajahnya dengan kedua tangan.

"kenapa lagi tu cewek?" tanya Fikar pada dirinya sendiri.

Ia merasa bimbang, antara harus mendekat atau pulang. Jika ia mendekat masalah pula ikut datang, jika ia pulang, setega itu dia dengan perempuan?

Fikar mendengkus kasar karena pikirannya sendiri, sedangkan disisi lain, Vania masih terus sesegukan hingga wajahnya merah dan mata yang sembab. Mungkin hampir dua jam dia berada disana untuk menangis dan menumpahkan emosinya.

"bangun," titah Fikar dengan suara datarnya.

Vania yang mendengar sekilas tetap menutup wajahnya, namun suara tangisnya bertahap berhenti. "gue mau sendiri," kata Vania.

Decak rasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang