Prolog

11.3K 466 20

"Nona, apa Anda sudah siap? Pelelangannya akan dimulai 15 menit lagi"

Tch. Suara Ken yang lembut tapi sangat menyebalkan itu tak berhenti memanggilku sejak dua puluh menit yang lalu. Ken adalah pelayan setiaku sejak kecil. Aku rasa tanpa aku menjawab ia sudah tahu bahwa aku sedang bersiap-siap. Dengan mengenakan celana jeans, kaos biru laut kesukaanku diselimuti jaket jeans, dan sepatu sneakers berwarna putih, aku siap berangkat. Rambut hitam panjangku ku biarkan terurai. Oh, kacamata hitam! Bodohnya aku jika lupa untuk memakainya.

"Aku siap, Ken"

Pria berumur tiga puluh tahun itu membesarkan matanya melihat penampilanku saat keluar dari pintu kamar.

"Nona! Sudah ku peringatkan berkali-kali. Ini adalah acara-"

"Ssttt... berisik! Jika kau terus mengomel lebih baik aku kembali tidur"

"Baiklah, Nona"

Dengan menghela nafas panjang ia mengikutiku berjalan pergi ke halaman rumah yang sebenarnya cukup jauh. Ya.. rumahku memang sangat besar. Terdiri dari lima lantai, rumah ini lebih cocok disebut istana. Kamarku di lantai empat. Setelah beberapa menit menuruni lantai-lantai itu menggunakan lift, mobil mewah berwarna hitam mengkilap itu sudah siap. Ken membukakan pintu untukku.

Lima belas menit perjalanan membosankan akhirnya berakhir juga. Lobby hotel mewah berbintang lima itu tebuka lebar. Ken membukakan pintuku. Segera aku berjalan memasuki pintu kaca otomatis dan menuju lift. Sapaan hangat petugas hotel itu tak ku hiraukan. Dengan cepat Ken berlari mengikutiku masuk menuju lift. Tanganku menekan tombol berlambang 'RR'. Tak lama, pintu lift itu terbuka. Gelap. Hanya ada satu garis cahaya memancar dari sebuah pintu tua di dekat rak buku yang tidak terpakai. Aku berjalan menujunya. Tanganku meraih daun pintu berdebu itu dan menariknya. Hmm, kilauan cahaya itu sungguh menyilaukan mataku.

"seperti biasa, mereka terlalu berlebihan memasang lampu di semua sudut ruangan"

"itu semua memiliki tujuan, Nona Rene" jawab Ken enteng.

Aku segera menuju tempat duduk di barisan paling belakang. Ruangan yang tiga kali lebih besar dari ruangan bioskop itu sangat ramai dipenuhi wanita dengan gaun mewah dan pria berpakaian tuxedo. Satu hal yang menjadi kesamaan mereka adalah topeng. Tidak ada satu orang pun memperlihatkan wajah aslinya, termasuk aku yang daritadi mengenakan kacamata hitam. Dan tanpa ku sadari, Ken pun juga sudah mengenakan topeng sama seperti yang lain.

"Selamat malam hadirin yang terhormat! Malam ini kita berjumpa di acara tahunan pelelangan Kota Alfedein yang ke-58. Hari ini kami memiliki banyak item langka dari seluruh dunia yang pasti akan memuaskan! Selamat menawar!"

Pembawa acara memang selalu berkata omong kosong. Satu-persatu barang telah dikeluarkan. Transaksi terus menerus terjadi. Acungan tangan tak henti mewarnai pandanganku. Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran mereka. Rambut asli Cleopatra, tengkorak manusia kerdil, darah vampire. Mereka memang bodoh atau apa? Kolektor macam mereka tentu sangat mudah ditipu. Ya, ini adalah pelelangan bawah tanah. Barang-barang illegal dijual disini. Termasuk item langka.

Lebih dari lima belas barang telah terjual. Oh, barang yang ku cari tidak ada kali ini. Aku berdiri dan dengan kesal ku langkahkan kakiku keluar menuju pintu.

"Ken, tidak ada yang menarik hari ini. Aku akan-"

"Ya! Hari ini kami memiliki item langka yang jarang terjadi! Seorang anak laki-laki berusia 17 tahun! Tampan, ilmu bela diri di atas rata-rata, dan pintar! Anda bisa membuatnya menjadi budak! penawaran kami buka mulai harga 50 juta"

Mataku tetuju pada panggung karena perkataan MC itu. Terlihat seorang pemuda dengan kemeja putih dan celana jeans menutupi tubuhnya. Wajahnya tertutupi oleh topeng. Kedua tangan dan kakinya terborgol. Manusia. Kini mereka juga melelang manusia. Aku menatap lekat wajah yang tertutupi topeng itu. Hmm.. sangat menarik. Semburat senyum kemenangan muncul di wajahku.

"Ken"

"Iya, Nona?"

"Berapapun harganya, dapatkan laki-laki itu. Aku membelinya."

MineBaca cerita ini secara GRATIS!