🌙ㅣ23. Penyebab

49.1K 8.4K 182
                                    

''Jika sudah dianggap buruk oleh orang, maka kebaikan yang dilakukan pun akan berkesan buruk di matanya''

''Jika sudah dianggap buruk oleh orang, maka kebaikan yang dilakukan pun akan berkesan buruk di matanya''

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Dari mana?"

Rembulan menyembulkan kepalanya dari balik punggung Alvaro yang menjulang di hadapannya. Mereka baru saja turun dari motor tepat di depan rumah, dan langsung disambut oleh kedua orang tuanya lengkap dengan Alderion, Alzero, dan juga Alvano.

"Kamu bawa Bulan ke mana?" Anggara bertanya untuk yang kedua kali. Tatapannya mengarah tepat pada Alvaro yang enggan menjawab.

Rembulan menatap Anggara yang masih fokus pada Alvaro, lalu dirinya menatap Laila yang menatapnya penuh tanya. Rembulan ingin berbicara dan menjelaskan semua yang terjadi pada Anggara, tapi melihat raut wajah Anggara, sepertinya Rembulan tidak bisa berbicara. Ia takut.

"Alvaro, jawab Papa! Kamu tuli?!" Anggara terus menghujam Alvaro dengan tatapan tajam, ia tidak akan melepaskan Alvaro sampai lelaki itu membuka mulut dan menjawab semua pertanyaannya.

"Papa, coba tanya Bulan," ucap Alderion mencoba menengahi, ia tidak mau sampai ada keributan malam-malam seperti ini.

Anggara menggeleng. "Pasti Bulan bakalan bohong, dia pasti diperintahin sama Varo buat gak ceritain apa-apa. Iya 'kan?!"

Alvaro yang mendengar tuduhan Anggara itu hanya mendengus, pandangannya teralih ke samping kanan, ia malas menanggapi jika Anggara sudah seenaknya seperti ini. Percuma jika ia mengatakan yang sejujurnya namun Anggara tetap tidak akan percaya.

"Papa ...." Rembulan membuka suara, ia melangkah dan berdiri di samping Alvaro. "Ta-tadi Bulan dikejar orang sama kak Varo. J-jadi kita kabur, Pa. K-kita-"

"Dikejar?!" Alvano memotong. "Dikejar siapa? Buat apa ngejar kalian?!" tanyanya panik. Wajar Alvano panik, ia tahu Alvaro siapa dan ia juga tahu musuh Alvaro itu ada di mana-mana. Rembulan mengatakan jika mereka dikejar? Alvano tidak mungkin santai-santai saja 'kan?

"Mmm ... tadi ... tadi gak tau siapa." Rembulan menggigit bibir bawahnya cemas. Ia memang tidak tahu orang-orang yang mengejar dirinya dan Alvaro itu siapa. Alvaro pun tidak mengatakan pada Rembulan ada masalah apa dan kenapa bisa Alvaro berkelahi dengan mereka.

"Bagus." Anggara berujar dingin, tatapannya masih terpaku pada Alvaro. "Bikin Bulan hampir celaka sama geng motor gak jelas punya kamu itu hah?! Ikut Papa!!"

Alvaro pasrah saat tangannya ditarik paksa oleh Anggara. Laila sempat menahan suaminya itu, namun Anggara mengatakan untuk tidak ikut campur dan mengintruksiknya agar tidak mengikuti. Laila pun diam, ia tidak berani membantah.

Sementara Rembulan, ia langsung berlari dan menarik lengan Anggara agar pria itu melepaskan cengkramannya pada Alvaro. Sungguh, Rembulan tidak mau jika keributan seperti halnya pertama kali ia datang terulang, Rembulan juga tidak mau melihat Alvaro disalahkan karena masalah ini. Lagi pula, bukan salah Alvaro mereka dikejar tadi. Itu semua salah Rembulan karena memaksa Alvaro kabur.

"Papa, Kak Varo gak salah," ucap Rembulan dengan nada memelas. "Bulan gak bohong. Tadi Bulan yang ngikutin kak Varo, Bulan yang bandel, Pa."

"Bulan gak usah bela dia!" Alvano datang dari arah belakang, ia menarik lengan Rembulan agar menjauh dari Anggara. "Kita di sini lebih tau, siapa yang jadi penyebab masalahnya."

"Tapi-"

"Pa, dengerin Bulan dulu." Alderion memotong Rembulan yang hendak memprotes Alvano. Ia menarik lengan Anggara agar melepaskan Alvaro. "Bulan gak mungkin bohong sama Papa. Alvaro juga enggak akan mungkin mau nyelakain Bulan, Pa. Dia tahu mana yang bener mana yang salah, dia udah dewasa."

Anggara kini beralih menatap Alderion. "Dia masih balapan liar malam-malam! Mertaruhin nyawa sendiri! Buang-buang uang! Ngerusak badan! Ngebantah Papa! Apa kamu itu sebut dewasa, Rion?!" tanya Anggara dengan suara meninggi, telunjuknya pun terangkat di hadapan Alderion. "Kamu pikir dia sedewasa apa?! Setelah dia ngorbanin nyawa Bunda kamu, dia tetap seperti ini! Bahkan gak berhenti dan makin parah!! Kamu gak lupa sama kejadian itu, Rion?!"

Semua orang yang ada di sana terdiam, termasuk Alderion yang mematung di tempat. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali selain menatap Anggara yang terlihat sangat marah, kedua mata Anggara merah tapi juga berkaca-kaca tepat setelah mengatakan hal yang tidak ingin mereka ungkit lagi.

"Papa-"

"KAMU PIKIR DIA SEDEWASA APA?!" Anggara berteriak lagi, kali ini lebih keras. "DIA YANG BUNUH BUNDA KAMU!! DIA YANG BIKIN KITA KEHILANGAN WANITA SATU-SATUNYA DI SINI, RION!! DIA PEMBUNUH!! DIA YANG BUNUH BUNDA-"

"PAPA!!" Alderion balas berteriak, kedua matanya menyorot tajam Anggara diringi dengan kedua tangannya yang mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Semua yang ada di sana tersentak, terkejut saat melihat Alderion untuk pertama kalinya meneriaki Anggara, Papanya sendiri. Sebelumnya, Alderion belum pernah bersikap seperti ini. "Cukup! Rion gak mau denger itu dari Papa! Rion tau! Rion cukup tau tentang hal itu! Tapi kenapa Papa harus ungkit?! Gak ada hubungannya sama yang sekarang, Pa!!"

"ALDERION!!" Anggara menggertak. "Kamu bilang Papa tidak usah mengungkit lagi?! Kamu bilang tidak ada hubungannya?! Bagaimana jika Bulan yang jadi korban seperti Bunda dulu karena kelakuan bejat Alvaro!! Bagaimana jika Bulan yang mengalami hal seperti Bunda kamu dulu?! Bagaimana jika itu terjadi, Rion?!!"

Hening, suasana mendadak hening menyisakan semilir angin malam yang semakin lama semakin keras berembus menusuk kulit. Mereka semua terdiam dengan tatapan kosong, berdiam diri dengan pikiran berkecamuk.

Sementara Rembulan, ia mengarahkan tatapannya pada Alvaro yang kini menunduk, lelaki itu bahkan sedari tadi tidak mengeluarkan satu patah kata apapun. Seolah-olah ia memang merasa bersalah, dan hanya bisa berdiam diri sebagai cara yang terbaik.

"Papa juga sama." Alderion kembali bersuara menghalau sepi. "Papa egois. Papa cuman bisa mikirin perasaan papa sendiri, Papa selalu ngambil keputusan tanpa persetujuan yang lain. Apa papa lupa? Bukan Varo doang yang bersalah atas kematian Bunda. Tapi Papa juga! Papa juga ikut bersalah!!"

Anggara mengalihkan pandangannya pada Alderion, kedua alisnya menukik tajam, tidak suka saat Alderion tiba-tiba menyalahkannya.

"Maksud kamu? Kamu nyalahin kesalahan adikmu pada papa?!" ujarnya. "Kamu bilang ini semua salah papa?!"

Alderion menghela napas pelan, ia berjalan menghampiri Alvaro dan menarik lengannya menjauh dari Anggara. "Kalau aja waktu itu papa gak nyalahin bunda atas kesalahan Varo, pasti Bunda gak akan pergi."

"Itu semua-"

"Kalau aja papa gak bentak bunda, dia pasti masih ada di sini." Alderion berkata lebih pelan. "Kita semua salah, Pa." Kepalanya pun menunduk tanpa melihat siapapun lagi, sampai akhirnya ia masuk ke dalam bersamaan dengan Alvaro yang mengikutinya dengan pasrah dari belakang.

Suasana setelah itu pun kembali sepi, tak ada siapapun yang berbicara lagi sampai akhirnya Laila menyuruh Alzero, Alvano, dan Rembulan untuk segera masuk ke dalam. Hari sudah malam, tidak baik jika mereka terus-menerus berada di luar dengan angin kencang menerpa.

"Maaf ya, Ma. Ini salah Bulan." Rembulan memeluk Laila saat mereka hendak ke dalam rumah. "B-Bulan salah."

Laila menggeleng, ia mengusap pelan rambut Rembulan. "Mama yang salah. Sepertinya mama salah pilihin keluarga buat kamu, Bulan. Maaf."

- to be continue -

AAAAAA!!! DRAF AKU DIKIT LAGIIIIIIII😵
Belum sempet ngetik nih, belum ada mood.
Doain semoga aku bisa ngetik malam ini dan ngumpulin chapter lagi. Biar bisa double update😃

Doain juga semoga ulangan sejarahku lancar, aaamiiin.

Hehehe, makasii☺

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang