Extra Part

28.2K 1.7K 40
                                    

      Sarah mendesah tertahan, Satya menghisap leher Sarah dengan mengendus wanginya.

"Nanti ada anak - anak turun, udah dulu." pinta Sarah.

Satya menghentikan aksinya dengan menatap Sarah genit."Jadi nanti malem lanjut ya?" pintanya.

Sarah mengangguk dengan tersenyum cantik.

"Oke, aku nanti bak—"

"DADDY! Kenapa tendanya belum di pasang?" tanya Glen dengan wajah lucunya yang kusut karena kecewa."daddy pasti cium - cium mommy sampai lupain apa yang Glen mau?" tebaknya dengan mencerocos lucu.

Satya menganga lalu terbahak pelan, tebakan anaknya itu tepat sekali."Sekarang dad pasangin, jangan kayak banteng mau nyeluduk gitu mukanya, lucu tahu." gemasnya seraya mencubit pipi Glen lalu beranjak.

Sarah hanya tersenyum dengan samar tersipu malu, anaknya ternyata sudah semakin tumbuh besar dan banyak tahu.

"Ayo, Sabrina." ajak Glen seraya menuntun Sabrina.

Melihat itu, Sarah semakin mengembangkan senyumannya. Kedua anak kecil itu begitu serasi.

Astaga, kenapa dia baper hanya melihat anak kecil bergandengan? Pekik Sarah dalam hati.

***

Glen mengecup perut Sarah yang mulai terlihat buncit itu. Usianya sudah masuk bulan yang ke 5.

Selama itu, Sarah harus bolak - balik rumah sakit. Kehamilan keduanya lebih parah dari Glen.

"Mom, cepat sembuh. Kalau liat mom begini, lebih baik Glen cuma punya Sabrina aja." wajahnya meredup sedih, walau tetap saja terlihat lucu.

Sabrina menepuk bahu Glen pelan."Ga boleh gitu, Glen. Adik bayi denger terus sedih nanti." wajah Sabrina terlihat serius nan lucu.

Glen cemberut, masih dengan betah mengusap perut mommynya itu. Glen sebal karena di mata Sabrina dia selalu saja salah.

Sarah hanya mengulum senyum dengan sesekali membelai kepala Glen dan Sabrina.

"Nah, jadi." Satya menyeka peluhnya dengan penuh kelegaan

Sarah, Glen dan Sabrina sontak menatap Satya.

Satya menatap Glen dan Sabrina dengan senyuman."tendanya udah jadi anak - anak, gih main di sana, jangan ganggu mommy." lanjutnya.

Glen dan Sabrina dengan riangnya masuk ke dalam tenda, mengamati dalamnya lalu sibuk keluar masuk untuk memindahkan semua mainan ke dalam tenda.

Satya menyugar rambutnya dengan melangkah menghampiri Sarah yang rebahan di sofa panjang yang khusus dia beli agar Sarah nyaman berada di ruang keluarga.

"Kerja bagus, daddy." sambut Sarah seraya mengusap pipi Satya.

Satya mendekat, mengecup pipi Sarah gemas lalu pada perutnya sembari merapihkan kaosnya yang naik ke atas karena ulah Glen sebelumnya.

"Di bibir belum, sayang." tunjuk Satya pada bibirnya.

Tanpa berdebat Sarah mengabulkannya, membuat Satya tersenyum senang.

"Ga jadi kerja ke luar kota?" Sarah merapihkan rambut Satya dengan telaten.

"Ga bisa, mana tega aku ninggalin kamu. Kamu izinin aku pergi pasti, tapi di sana aku ga bisa kerja karena pikiran aku isinya Glen sama kamu." terangnya sungguh - sungguh, di coleknya hidung Sarah sekilas.

Sarah tersipu."Babynya engga?" di usap perutnya yang membuncit itu.

"Tentu sama baby girl." Satya ikut mengusap perut Sarah sekilas.

"DADDY!" teriak Glen di dalam tenda membuat suasana romantis seketika buyar karena teriakan menggelegar itu.

"Kenapa?" Satya berlari ke arah tenda dengan khawatir, Sarah pun nendudukan tubuhnya tanpa bisa mendekat karena takutnya dia kelelahan.

"Sabrina, mimisan, dad." terangnya dengan cemas. Wajah lucunya terlihat pucat nan penuh ke khawatiran.

Satya melihat Sabrina yang rebahan dengan darah menghiasi hidung dan sebagian pipi chubbynya.

"Astaga!" Satya menggendong Sabrina keluar.

***

"Apa parah, dad?" Glen terlihat sangat sedih.

Satya menghela nafas, mengusap puncak kepala putranya dengan perasaan yang gusar.

Sabrina terkena penyakit mematikan di usianya yang masih kecil. Kemungkinan hidup tipis. Kata dokter.

Satya melirik Larisa, maminya Sabrina yang sibuk menangis di temani tantenya Sabrina.

"Dad, apa parah? Kenapa semuanya menangis?" hidung Glen sudah memerah menahan tangis.

Satya mengusap pipi Glen dengan senyuman tipis."Sabrina pasti sembuh, kita doa sama - sama." yakinnya.

Glen mengangguk."Glen akan jaga, Sabrina." yakinnya.

Satya tersenyum, mengecup pipi Glen yang lucu itu. Semoga anaknya tidak akan mengalami hal yang menyedihkan.

Sabrina, teruslah hidup sampai kalian dewasa dan menua.

Satya melirik ponselnya yang berdering, ternyata Sarah yang menelpon. Pasti dia juga khawatir dengan keadaan Sabrina.

"Bentar, sama mami Larisa dulu oke, dad mau angkat telepon dari mommy."

Glen mengangguk patuh dengan pandangan kembali melirik Sabrina yang di tangani suster.

"Sabrina anak baik, anak kuat." Biana menguatkan Larisa dengan perasaan yang sama terguncang."dokter bukan Tuhan, dokter pun hanya memprediksi, bukan berarti bener." lanjutnya.

Larisa semakin terisak."Papa kata dokter umurnya ga akan lama dan bener, papa meninggal setelah 2 minggu di rawat. Aku takut, Bi." isaknya pilu.

"Stt... Aku ngerti, tuh Sabrina udah sadar. Jangan terus nangis."

Glen mengerjap polos dan hanya menatap Larisa lalu beralih menatap Sabrina yang baru saja bangun.


Selanjutnya bisa di baca di karya karsa, bahkan di sana ada sequelnya juga^^ Bisa kalian akses di sana,

Nama akunnya : Chanie1001 ya ^^

Makasih untuk semuanya^^

Jangan lupa tinggalkan jejak di semua ceritaku ya^^

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang