BARU: Tap - cerita-cerita dari obrolan pesan singkat untuk 📲' Sekarang tersedia dalam Bahasa Indonesia
Download sekarang

Bagian Kedua

1.9K 184 10

Kupu-kupu kecil berwara kuning terbang bebas mengitari jalan. Pandanganmu tertuju pada kepakan sayap kupu-kupu itu. Capung-capung kecil melayang-layang terbang di depan rerumputan berbunga di pinggiran jalan. Seorang anak perempuan dengan rambut dikepang dua. Berjalan mengendap-endap menuju seekor capung yang hinggap di atas daun. Ia melompat dan mencoba menangkap, namun gagal. Ia kembali menggendap-endap dengan wajah manis yang serius. Kau menaikkan alismu dan menggerakkan bibirmu ke kanan, dan dengan senyuman penuh rahasia tangan kirimu dengan cepat menangkap sang capung. Gadis kecil menatapmu dengan bibir yang terbuka sempit. Kau menggerakkan kepalamu ke kiri dan tersenyum. Gadis kecil itu melebarkan bibirnya memperlihatkan giginya yang hanya dua. Kau tertawa kecil melihat sang gadis manis. Tangan kirimu memberikan capung itu, tangan mungiil sang gadis kecil dengan hati-hati menciting sayap rapuh sang capung. Wajah manis sang gadis membuatmu menghela nafas kelegaan.

Kau melambaikan tanganmu ke gadis itu dan kembali melangkah. Isi keranjangmu bergoyang saat kau berjalan dengan begitu bergairah seakan tak ada beban dalam dirimu. Kau selalu tersenyum senang saat menemui orang lain yang terlihat bahagia hidup berdampingan di lingkungan yang asri. Mereka Bercengkrama dengan sanak saudara, penuh canda tawa walaupun sederhana. Wajah mereka seakan terlukiskan emosi tanpa beban.

Dentingan suara-suara berirama menyerbu telingamu yang masih tertutup kerudung merah yang halus. Kau tergugah akan keserasian dan keharmonisan suara yang mengalun begitu indah. Suara itu menuntun langkahmu menuju ke sebuah gubuk bambu yang paling besar dengan latar yang luas.

Kau melihat mereka, orang-orang memainkan alat musik dengan semangat. Dua orang wanita menggerak-gerakkan tubuhnya seirama dengan ketukan gendang dan bunyi gong. Dengan selendang yang dikalungkan di leher mereka dan pakaian penuh warna dan motif-motif indah, tubuh mereka meliuk-liuk dengan penuh gaya. Kau menatap mereka dengan fokus memperhatikan setiap gerakan demi gerakan, sama seperti orang-orang di sekitarmu yang tampak antusias. Namun wajahmu tak sesumringah sebelumnya, seperti wajah penuh kecemasan dan rasa takut.

Kau meninggalkan keramaian itu dan kembali melangkah ke arah tujuanmu. Cahaya sang surya sudah mulai berada pada puncaknya, langkahmu menghantarkanmu keluar bondari pedesaan. Jalanan yang menurun mulai kau lalui. Wajahmu mulai murung tanpa rajutan senyum di bibir. Kau sesekali menatap ke atas, terik panas mentari jelas kau rasakan. Tangan kirimu membuka kerudung merahmu dan menampakkan rambut hitam panjangmu yang mengkilap di bawah sinar.

Wajahmu terlihat lelah terjawab dari keringat-keringat yang mulai mengucur. Sejauh mata memandang hanya hamparan sawah yang menguning. Jalanan terlihat lurus, ujungnya tampak kurang jelas karena begitu jauhnya. Kau masih melangkah meski bibirmu mulai mengering, wajahmu mulai memucat, langkahmu mulai memelan.

Cahaya Timur yang HilangBaca cerita ini secara GRATIS!