BARU: Tap - cerita-cerita dari obrolan pesan singkat untuk 📲' Sekarang tersedia dalam Bahasa Indonesia
Download sekarang

Bagian Pertama

3.5K 242 23

Kau berjalan pelan menyusuri jalanan tanah. Pakaian hitam yang menutupi seluruh auratmu dan kerudung merah yang kau kenakan menutupi rambut panjangmu yang sedikit terlihat di atas dahi. Keranjang bambu kau bawa di tangan kananmu. Sesekali kau melihat sekeliling, pahatan sang maha besar kau kagumi. Cahaya binar-binar di ujung bukit menerpa wajahmu yang tampak penuh gairah. Warna kulitmu yang kuning langsat mengeluarkan aura keyakinan. Senyuman menghiasi bibirmu yang tipis. Pandangan matamu diselimuti ketidaktahuan dan kenaifan.

Pohon-pohon rindang yang membawa kesejukkan di sekelilingmu membuatmu memeluk tubuhmu. Daun-daun yang masih basah bergoyang pelan tertiup hembusan udara. Sejauh matamu memandang hanyalah jalanan sepi yang mulai terang. Batu-batu kecil kau injak dengan alas kakimu yang sehitam pakaianmu. Suara-suara kikikan makhluk-makhluk yang bersembunyi menemani langkahmu yang mantap menghentak.

Kau menarik nafas, mengambil udara yang terasa segar ke dalam tubuhmu. Kau hembuskan lewat mulutmu yang terbuka sempit. Melihat uap yang muncul dari mulutmu melaju ke atas dan menghilang. Jalanan sepi masih berlanjut, kepalamu bergerak pelan kedepan menatap kotak-kotak kecil di ujung jalan yang terlihat samar tertutup kabut. Tak terasa kau tersenyum melebar, cahaya matamu terpancar menemani deguban jantungmu yang begitu terasa.

Kau mulai aktif melangkah, keranjang bambumu bergoyang sesekali kau menurunkan kakimu ke tanah. Hingar bingar wajahmu masih begitu terasa. Kotak-kotak itu mulai terlihat seperti gubuk-gubuk yang tertata rapi. Kepulan asap kecil terlihat dari kumpulan gubuk itu. Kau terlihat semakin merasakan keinginan untuk berjalan di antara semerebak bau-bau kehidupan lewat langkahmu yang kau percepat.

Hidung manismu yang menghias wajahmu sehingga tampak sempurna mengendus aroma-aroma yang membuatmu menutup mata dan tersenyum merasakan bau-bau santapan. Jalanan memang masih sepi namun matamu terbuka lebar saat seseorang pria tua menarik gerobak keluar dari desa kecil itu. Kau memperhatikan wajah pria tua itu. Terlihat lelah, terlihat tangannya yang keriput menarik gerobak membawa bongkahan batu. Kau berjalan berlawanan dengannya. Wajahmu mulai terlihat sedih melihat pria itu, namun kau tetap melanjutkan langkahmu menuju desa itu.

Aroma rempah-rempah begitu terasa saat kau masuk melewati rumah-rumah kayu. Kau mendengar tangisan bayi dari dalam rumah, cekikian tawa anak-anak yang mulai keluar dari balik-balik pintu kayu. Mereka tersenyum riang, kaki-kaki kecil berlarian kesana-kemari. Senyum indah tersimpul di wajahmu yang manis seakan kau merasakan kegembiraan mereka.

Kau masih terus melangkah. Seorang wanita yang lebih dewasa darimu berdiri di depan rumah menggerak-gerakkan wadah bundar dari bambu yang berisi butir-butiran beras. Tangannya lihai menggerak-gerakkan benda itu sampai butir-butir beras naik turun oleh gerakkannya. Kau tersenyum ke arahnya. Ia membalas senyumanmu dengan hangat.

Kau merasa hangat, rasa dingin mulai terkikis oleh sinar yang makin terang dari ujung timur. Matamu yang terbuka lebar menatap sekeliling pedesaan yang nyaman itu. Beberapa pria menggotong kayu besar nan panjang bersama-sama. Langkah mereka serasi dipadukan, walau wajah mereka terlihat tanpa senyuman menahan berat namun mereka begitu harmonis. Kau memberikan kehangatan senyummu pada mereka. Mereka membalas tanpa sungkan sembari terus bergerak di pinggir jalanan. Langkahmu semakin pasti menyusuri jalanan pedesaan yang mulai terlihat berbagai aktivitas kehidupan yang harmonis dan penuh rasa saling membantu.

Cahaya Timur yang HilangBaca cerita ini secara GRATIS!